PRINSIP DASAR PEMERIKSAAN BIOMARKER LIPID DAN INTERPRETASI HASIL PEMERIKSAAN LABORATORIUM
PRINSIP DASAR PEMERIKSAAN BIOMARKER LIPID DAN INTERPRETASI HASIL PEMERIKSAAN LABORATORIUM
1. Pengertian
Lipid
Lipid merupakan
senyawa heterogen yang berikatan dengan asam lemak. Lipid oleh tubuh disimpan
sebagai penghasil energi. Lipid mempunyai struktur utama yang tersusun dari
hidrokarbon dan oksigen dengan sifat umum yang tidak larut dalam air, tetapi
larut dalam pelarut organik seperti benzene, ether, chloroform. Lipid mencakup
lemak, minyak, steroid, lilin dan senyawa yang berhubungan. Lemak merupakan
unsur makanan yang penting karena energinya yang tinggi dan vitamin yang larut
dalam bentuk lemak essensial dikandung dalam lemak makanan alam. Lemak
berfungsi sebagai sumber energi yang disimpan dalam jaringan adiposa, sebagai
penyekat panas dalam jaringan subkutan dan organ sekeliling dan sebagai
penyekat listrik yang memungkinkan perhambatan cepat gelombang depolarisasi
sepanjang syaraf bermielin (Siregar, Fazida A. dan Makamur, T. 2020).
Sifat fisik suatu
lipid dalam tubuh bergantung pada panjang rantai karbon dan reajat
ketidakjenuhan asam lemak pembentuknya, sehingga titik lebur asam lemak yang
mempunyai jumla karbon genap bertambah dengan panjang rantai dan berkurang
sesuai dengan ketidakjenuhannya (Siregar, Fazida A. dan Makamur, T. 2020).
2. Metabolisme
Lipid
a.
Metabolisme trigliserida
Lipid yang penting
dalam kehidupan ialah lemak-lemak netral
(trigliserida), fosfolipid atau senyawa sejenis, dan sterol. Trigliserida
terdiri dari 3 asam lemak yang berikatan dengan gliserol. Asam lemak merupakan
bagian struktur membrana biologik yang penting sebagai sumber energi bagi
jaringan otot bahkan pada keadaan tersedianya glukosa. Proses metabolisme
mencakup proses anabolisme dan katabolisme, dimana hati menjadi pusat
metabolisme lipid yang bertanggung jawab dalam pengaturan kadar lipid dalam
tubuh (Siregar, Fazida A. dan Makamur, T. 2020).
Trigliserida
merupakan bentuk lemak yang disimpan untuk energi yang paling banyak ditemukan dalam
bahan makanan dan jaringan. Sejumlah karbohidrat yang dimakan akan diubah
mejadi triglyserida kemudian disimpan dan digunakan sebagai triglserida untuk
energi. Trigliserida yang digunakan untuk energi berasal dari makanan atau
lemak yang disimpan dalam jaringan lemak
(Siregar, Fazida A. dan Makamur, T. 2020).

Gambar
1. Proses Metabolisme trigliserida (Siregar, Fazida A. dan Makamur, T. 2020)
Tahap pertama
dalam penggunaan trigliserida untuk energi adalah hidrolisis dari trigliserida
menjadi asam lemak dan gliserol. Trigliserida dari makanan di katabolisme oleh
enzim lipoprotein lipase yang terletak dalam endotel kapiler yang memecah trigliserida
yang ada dalam darah menjadi asam lemak dan gliserol yang akan disusun kembali
menjadi lemak baru dalam sel lemak.Trigliserida yang disimpan dalam jaringan
lemak di katabolisme oleh hormon sensitive lipase yang terdapat dalam jaringan
lemak dan mengkatalisis cadangan triglyceride menjadi asam lemak dan gliserol.
Kemudian asam lemak dan gliserol ditranspor kejaringan aktif dimana keduanya
dioksidasi dan menghasilkan energi. Gliserol sewaktu memasuki jaringan aktif
segera diubah menjadi gliserol 3 fosfat yang memasuki jalur glikolitik untuk
pemecahan glukosa untuk menghasilkan energi. Sedangkan asam lemak sebelumnya
melalui proses beta oksidasi menghasilkan asetil coA yang masuk ke siklus krebs
dan menghasilkan energy seperti gambar dibawah ini (Siregar, Fazida A. dan
Makamur, T. 2020).
Trigliserida dapat
disintesis dari asam lemak. Asam-asam lemak diaktifkan menjadi asil koA oleh
enzim asil koA sintetase dengan memakai ATP dan koA. Dua molekul asil koA
bergabung dengan gliserol 3 fosfat untuk membentuk 1,2 diasilgliserol fosfat
(fosfadidat) yang terjadi melalui 2 tingkatan yaitu lisofosfatidat yang
dikatalisis oleh gliserol 3 fosfat asiltransferase dan kemudian oleh 1 asil
gliserol 3 fosfat asiltransferase (Siregar, Fazida A. dan Makamur, T. 2020).
Fosfatidat
dikonversi oleh fosfatidat fosfahidrolase menjadi 1,2 diasil gliserol. Dalam
mukosa usus jalan monoasilgliserol ada dimana monoasil gliserol dikonversi
menjadi 1,2 diasilgliserol. Kemudian asil koA berikut diesterifikasi dengan
diasil gliserol membentuk triasilgliserol yang dikatalisis oleh diasilgliserol
asil transferase. Bila karbohidrat yang memasuki tubuh melebihi yang dipakai
sebagai energi atau disimpan dalam bentuk glikogen, maka kelebihan karbohidrat tersebut
diubah menjadi trigliserida dan disimpan dalam jaringan adiposa (Siregar,
Fazida A. dan Makamur, T. 2020).
Kebanyakan
sintesis trigliserida terjadi dihati dan sejumlah kecil didalam jaringan
adiposa. Mula-mula karbohidrat dikonversi menjadi asetil koA yang terjadi
selama pemecahan glukosa pada sistem glikolisis. Kemudian asetil koA diubah
menjadi asam lemak malonil koA dan NADPH sebagai perantara utama dalam proses
polimerisasi (Siregar, Fazida A. dan Makamur, T. 2020).
b. Metabolisme
Kolesterol
Kolesterol
merupakan precursor dari semua steroid lain di tubuh seperti kortikostoroid,
hormon sex, asam empedu dan vitamin D. Kolesterol adalah produk metabolisme
hewan dan karenanya terdapat dalam makanan yang berasal dari hewan seperti
daging, hati, otak dan kuning telur. Sebagian besar kolesterol tubuh berasal dari
sintesis (kira- kira 700 mg/hari) dan sisanya berasal dari makanan. Kolesterol
merupakan lipid amphipathic dan sebagai komponen essensial dari stmktur membran
dan lapisan luar dari lipoprolein plasma. Kolesterol terdapat dalam jaringan
dan lipoprotein plasma sebagai kolesterol bebas atau berikatan dengan asam
lemak rantai panjang sebagai kolesterol ester. Jaringan kolesterol disintesis
dari asetil CoA dan dieliminasi dari tubuh sebagai kolesterol atau garam empedu
lipoprotein mentransport kolesterobebas dalam sirkulasi, agar terjadi
keseimbangan kolesterol pada lipoprotein dan membran (Siregar, Fazida A. dan
Makamur, T. 2020).
Low density
lipoprotein (LDL) merupakan mediator dari kolesterol dan kolesteril ester masuk
ke dalam jaringan. Kolesterol bebas dipindahkan dari jaringan oleh HDL dan
ditransport ke hati untuk dikonversi menjadi asam empedu dalam proses yang
dikenal sebagai reverse cholesterol transport. Kolesterol memegang peranan
utama pada proses patologis pembentukan atheroskelerosis arteri yang
menyebabkan penyakit cerebro vaskuler, penyakit pembuluh darah koroner.
Atheroslerosis pembuluh darah koroner berhubungan dengan ratio LDL : HDL
kolesterol yang tinggi. Sintesis kolesterol terdiri atas beberapa tahap dan asetil
CoA merupakan sumber atom karbon, sintesis kolesterol dimulai dengan
pembentukan mevalonat dari asetil CoA. Dua molekul asetil CoA berkondensasi
membentuk asetoasetil CoA yang dikatalisasi oleh enzim thiolase. Kemudian asetoasetil
CoA berkondensasi dengan molekul acetyl
CoA membentuk β hydroxyl β methyl glutaryl-CoA (HMG-CoA) yang kemudian
dikonversi menjadi mevalonat yang dikatalisasi oleh enzim HMG-CoA reductase.
HMG CoA merupakan perantara penting dalam biosintesis kolesterol. Dari
mevalonat dibentuk isoprenoid dengan cara decarboxylasi (membuang CO2).
Kemudian enam unit isoprenoid berkondensasi membentuk skualan dan dari skualan
dibentuk induk steroid lanosterol dan setelah beberapa langkah termasuk
pembuangan 3 gugus methyl dibentuk kolesterol (Siregar, Fazida A. dan Makamur,
T. 2020).
Kolesterol dalam
makanan diserap dari usus dan bersama dengan lipid lain termasuk kolesterol
yang disintesis dalam usus diinkorporasikan ke dalam kilomikron dan VLDL.
Setelah kilomikron melepaskan triglyserida dalam jaringan adiposa, sisa
kilomikron akan membawa kolesterol ke hati. Hati juga membentuk kolesterol.
Sebagian kolesterol hati dieksresikan dalam empedu dalam bentuk bebas maupun
sebagai asam empedu. Sisa kolesterol akan menjadi satu dengan VLDL. VLDL yang dibentuk dihati
mengangkut kolesterol ke dalam plasma Pada manusia kolesterol total plasma adalah sekitar 200 mg/ dl, meningkat
dengan bertambahnya umur dan bervariasi diantara individu. VLDL yang mengandung
kolesterol dimetabolisme menjadi IDL dan LDL. LDL kemudian masuk kedalam sel
jaringan ekstrahepatik dengan cara endositosis. Molekul LDL berikatan dengan
reseptor pada membran sel dan interaksi ini memicu endositosis LDL (Siregar,
Fazida A. dan Makamur, T. 2020).
Vesikel yang
mengandung LDL bergabung dengan lisosom dan enzim lisosom menghidrolisis
ester-ester kolesterol yang terdapat pada inti LDL. Kolesterol bebas yang
terbentuk masuk ke sitoplasma dan menghambat sintesis kolesterol, menghambat
pembentukan reseptor LDL, sebagian dirubah menjadi ester kolesterol dalam alat
golgi dan berdifusi dalam membran sel. Dari membran sel, kolesterol diambil
oleh HDL dan diubah menjadi ester kolesterol dan bergerak ke inti HDL,
meninggalkan permukaan lipoprotein bebas untuk menerima lebih banyak
kolesterol. Kenaikan kolesterol intrasel menghambat sintesis kolesterol dalam
sel dan mengurangi suplai reseptor HDL yang baru sehingga intake sel dikurangi.
Sebagian dari kolesterol HDL dapat dipindahkan ke VLDL dan kilomikron dan
diolah kembali. Semua kolesterol yang dibuang dari tubuh harus memasuki hati
dan dieksresi dalam empedu baik sebagai kolesterol maupun sebagai asam kolat
dalam garam empedu (Siregar, Fazida A. dan Makamur, T. 2020).
c. Metabolisme
Lipoprotein
Triglycerida dalam
kilomikron oleh enzim lipoprotein lipase dengan activator Apo CII dipecah
menjadi asam lemak bebas dangliserol yang kemudian dapat menembus membran sel
jaringan adiposa dan otot, dan akan diresintesis kembali didalamnya menjadi
trigliserida. Setelah lipolisis sebagian besar triglycerida telah dihilangkan
dari kilomikron, dan sisanya berubah bentuk jadi kecil dan dinamakan remnan
kilomikron. Materi lemak yang ada dipermukaannya akan dilepas dan bergabung
dengan HDL. Kemudian permukaan remnan kilomikron akan diperkaya dengan Apo E
dan Apo B 48 sehingga dapat dikenali oleh reseptor dari sel hati dan akan dapat
dihilangkan dengan cepat dari plasma untuk dikatabolisme didalam hati. Jika
remnan kilomikron lebih lama dalam plasma atau adanya akumulasi remnan
kilomikron dalam plasma, sehingga dapat ditangkap oleh makrofag. Penangkapan
ini berperan pada aterogenesis (Siregar, Fazida A. dan Makamur, T. 2020).
VLDL seperti
kilomikron berfungsi mengangkut triglycerida dari sintesis endogenic dari asam
lemak bebas dan karbohidrat didalam hati yang kemudian disimpan didalam
jaringan adipose. Lipolisis triglycerida dalam VLDL sebagai hasil kerja
lipoprotein lipase dan dilepas Apo C, fosfollipid, dan kolesterol bebas dan
bergabung dengan HDL, sisanya dinamakan IDL. Kemudian IDL diperkaya dengan Apo
E dan Apo B100 untuk dapat dikenali oleh reseptor sel hati sehingga IDL dapat
dengan cepat dihilangkan dari plasma. IDL dihati hanya katabolisme secara
parsial saja dan sisanya berupa LDL segera kembali kedalam plasma. Selain itu
perubahan IDL ke LDL dapat juga terjadi didalam plasma. LDL berfungsi
mengangkut kolesterol ke sel perifer untuk sintesis membran sel dan sebagai
prazat untuk sintesis hormon steroid. Sel hati dan sel perifer akan dapat
menangkap LDL melalui reseptor Apo E/B 100 yang ada dipermukaan sel (Siregar,
Fazida A. dan Makamur, T. 2020).
Setelah LDL
ditangkap oleh reseptor, LDL akan diinternalisasikan melalui endositosis dan
diangkut kedalam lisosom dimana ia akan dipecah menjadi kolesterol, asam amino
dan komponen lain. Mekanisme pengaturan sintesis kolesterol diatur oleh sistem
umpan balik. Bila reseptor pada permukaan jenuh dengan LDL maka kerja HMG CoA
reductase akan dihambat sehingga sintesis kolesterol intraselular tidak
terjadi. Jadi sel yang telah mendapat kolesterol dari LDL akan dihambat untuk
memproduksinya sendiri. Akumulasi LDL dalam plasma dalam waktu yang lebih lama,
akan menyebabkan LDL dapat ditangkap oleh makrofag melaui oksidasi LDL atau
modifikasi secara kimia lain. Penangkapan oleh makrofag menyebabkan terjadinya
aterosklerosis (Siregar, Fazida A. dan Makamur, T. 2020).

Gambar 2. Metabolisme
Lipoprotein (Siregar, Fazida A. dan Makamur, T. 2020)
3. Biomarker
Lipid
Berdasarkan the
United States Preventative Services Task Force dan the American Heart
Association/American College of Cardiology, biomarker pemeriksaan lipid standar
meliputi trigliserida, kolesterol total, HDL-C, dan LDL-C (Berge, J.S. et.al.
2012). Adapun rujukan nilai normal biomarker pemeriksaan lipid sebagai berikut
pada tabel 1.
Tabel
1. Rujukan nilai normal biomarker pemeriksaan lipid
|
Biomarker Lipid |
Rujukan Nilai Normal (mmol/L) |
|
|
Unit
konvensioanal (mg/dL) |
Unit standar internasional
(mmol/L) |
|
|
Kolesterol
total |
<200 |
<5,2 |
|
LDL-C |
70-160 |
<4,13 |
|
HDL-C |
40 |
1,03 |
|
Trigliserida |
<150 |
<1,70 |
(Alldrredge,
Brian K. et.al. 2013)
4. Kasus
(Smellie, W.S.A. 2006)
Seorang pria
berusia 45 tahun dirujuk ke klinik lipid lokal dengan peningkatan
kolesterol yang tidak menanggapi pengobatan dengan 40 mg simvastatin.
Pada saat rujukan, dia memiliki konsentrasi kolesterol
total 8,3 (hasil lipid lain tidak disebutkan) dan konsentrasi alanine
aminotransferase 176 IU/L (lima kali batas atas normal), fungsi ginjal
normal, glukosa puasa 4,7 mmol/L.
Pasien bukan
perokok, tanpa riwayat hipertensi atau riwayat keluarga diabetes, tetapi memiliki riwayat keluarga penyakit jantung iskemik yang kuat yaitu
dua saudara laki-laki meninggal di awal 50-an karena “serangan jantung” yang
didokumentasikan. Konsumsi alkohol pasien sekitar 20
unit setiap minggu (kira-kira dua botol anggur merah, setengahnya
diminum di akhir pekan). Dia memiliki bentuk tubuh normal (indeks massa tubuh
26) dan tidak memiliki tanda klinis hiperlipidemia atau bukti penyakit pembuluh
darah perifer. Konsentrasi kolesterol totalnya adalah
7,2 mmol/L dan trigliserida 9,6 mmol/L.
Fungsi ginjal normal dan alanine
aminotransferase adalah 162 IU/L.Hormon
perangsang tiroid adalah 3,5 mIU/L. Simvastatin
dihentikan dan fenofibrate 267 mg/hari dimulai. Delapan
minggu kemudian kolesterolnya 5,0 mmol/L dan trigliserida 3,1 mmol/L. Alanine
aminotransferase-nya turun menjadi 117 IU/L.
Pembahasan :
Data pemeriksaan klinik
Nama
: Mr. X
Jenis
Kelamin : ♂
Usia : 45 Tahun
Keluhan : simvastatin 40 mg tidak
memberikan efek terapi seingga terjadi peningkatan kolesterol.
Pola
hidup : tidak merokok,
namun mengkonsumsi alkohol sekitar 20 unit setiap minggu, bentuk tubuh normal
dengan indeks massa tubuh 26.
Riwayat
penyakit : penyakit jantung iskemik turunan
Hasil
pemeriksaan : tidak memiliki tanda klinis hiperlipidemia atau bukti penyakit
pembuluh darah perifer.
Terapi
farmakologi : simvastatin dihentikan
kemudian diganti menjadi fenofibrat 267 mg/hari.
Data
laboratorium yang diperoleh dijabarkan pada tabel 2.
|
Biomarker |
Hasil
Pemeriksaan |
Nilai rujukan |
||
|
I |
II |
III |
||
|
Kolesterol |
8,3
mmol/L |
7,2
mmol/L |
5,0 mmol/L |
<5,2 mmol/L |
|
Trigliserida |
- |
9,6
mmol/L |
3,1
mmol/L |
<1,7 mmol/L |
|
Alanin aminotransferase (ALT) |
176
IU/L |
162
IU/L |
117
IU/L |
5-35 IU/L |
|
Glukosa puasa |
4,7 mmol/L |
- |
- |
3,9-5,5 mmol/L |
|
Hormon perangsang tiroid (TSH) |
- |
3,5 mIU/L |
- |
0,4-5,0 mIU/L |
|
Ginjal |
Normal |
Normal |
Normal |
- |
(Alldrredge, Brian K. et.al. 2013)
Keterangan :
I =
Hasil pemeriksaan saat dirujuk
II =
Hasil pemeriksaan selanjutnya setelah dirujuk
III = Hasil
pemeriksaan 8 minggu setelah simvastatin diganti menjadi fenofibrate
Dari tabel 2
diatas, diketahui bahwa kadar kolesterol, trigliserida dan ALT mengalami
peningkatan melebihi nilai normal. Sementara, kadar glukosa darah, perangsang
hormon tiroid dan ginjal normal. Pada biomarker trigliserida yang mengalami
peningkatan melebihi kadar normalnya, maka dapat diprediksi pasien hipertensi
atau hiperlipoproteinemia (Herawati, F. et.al.2011). Pada biomarker kolesterol, kadarnya melebihi
batas normal pada pemeriksaan I dan II yang sebanding dengan tingginya pula
kadar trigliserida, sehingga kemungkinan besar dapat terjadi pengembangan
penyakit kardiovaskulas (CVD) (Alldrredge, Brian K. et.al. 2013). Pasien memiliki
riwayat penyakit jantung iskemik turunan yang memungkin akan dapat menurun
padanya.
Untuk biomarker
ALT yang spesifik digunakan untuk pemeriksaan hati yang biasanya digunakan
untuk memantau lamanya pengobatan penyakit hepatik, sirosis postneurotik dan
efek hepatotoksik obat. Peningkatan ALT ini dapat
terjadi pada penderita obesitas, namun pasien tidak didiagnosis mengalami
obesitas berdasarkan dari data indeks massa tubuhnya yang normal yaitu 26.
Selain itu, penderita obesitas biasa dikaitkan pula dengan penyakit diabetes,
karena pada pemeriksaan glukosa darah puasa pasien yang ditujukan untuk menunjukan
ketidakmampuan sel pankreas memproduksi insulin, ketidakmampuan usus halus
mengabsorpsi glukosa, ketidakmampuan sel mempergunakan glukosa secara efisien,
atau ketidakmampuan hati mengumpulkan dan memecahkan glikogen dalam kondisi
yang normal sehingga pasien dikatakan tidak mengalami diabetes. Namun dapat
dikatakan peningkatan ALT ini dapat terjadi karena pola hidup dari pasien yang
sering mengkonsumsi alkohol menyebabkannya mengalami penyakit hati seperti
sirosis (Herawati, F. et.al.2011).
Sementara untuk
pemeriksaan TSH bertujuan untuk terapi penggantian tiroid eksogen pada individu
yang didiagnosis dengan hipotiroidisme primer (Alldrredge, Brian K. et.al.
2013). TSH serum akan meningkat dengan terjadinya peningkatan konsentrasi
kolesterol serum dan dapat dikaitkan dengan penyakit miopati yang mungkin salah
dikaitkan dengan pengobatan hiperkolesterolemia dengan statin. Miopati tiroid
merupakan faktor predisposisi untuk gangguan otot yang diinduksi statin
(Smellie, W.S.A. 2006).
Jadi pada kasus
ini, dapat dikatakan bahwa pasien mengalami hiperlipidemia sekunder dengan
penyebab sekunder miopati. Sehingga sudah betul terapi yang diberikan dengan
mengubah simvastatin 40 mg menjadi fenofibrat 267 mg/hari, namun perlu
pengukuran kreatinine kinase terlebih dahulu. Hasil pengantian simvastatin
menjadi fenofibrat memberikan hasil yang cukup menurunkan kadar kolesterol,
trigliserida dan ALT setelah delapan minggu kemudian. Walaupun trigliserida dan
ALT masih melebihi batas normalnya (Smellie, W.S.A. 2006).
5. Terapi
Dislipidemia
a. Non-farmakologi
Terapi non
farmakologi pada pasien hiperlipidemia perubahan gaya hidup terapetik.
Perubahan gaya hidup harus dilakukan oleh seluruh pasien prior to considering
drug therapy. Komponen perubahan gaya hidup termasuk di dalamnya adalah (Larasanty,
L.P.F. 2014):
1) Penurunan
intake lemak jenuh dan kolesterol
2) Pilihan
diet untuk menurunkan LDL, misalnya peningkatan konsumsi stanol / sterol
tumbuhan dan asupan serat
3) Penurunan
berat badan
4) Meningkatkan
aktivitas fisik : secara umum, aktivitas fisik intensitas sedang selama 30
menit perhari setiap hari dalam seminggu harus digiatkan.
b. Farmakologi
Tabel
3. Terapi Farmakologi Dislipidemia
|
Golongan Obat |
Penjelasan |
Contoh |
|
Statin (Inhibitor
HMG-CoA reduktase) |
Statin
adalah obat penurun lipid paling efektif untuk menurunkan kolesterol LDL dan
terbukti aman tanpa efek samping yang berarti. Selain berfungsi untuk
menurunkan kolesterol LDL, statin juga mempunyai efek meningkatkan kolesterol
HDL dan menurunkan TG. Berbagai jenis statin dapat menurunkan kolesterol LDL
18-55%, meningkatkan kolesterol HDL 5-15%, dan menurunkan TG 7-30%. Cara
kerja statin adalah dengan menghambat kerja HMG-CoA reduktase. Efeknya dalam
regulasi CETP menyebabkan penurunan konsentrasi kolesterol LDL dan VLDL. Di
hepar, statin meningkatkan regulasi reseptor kolesterol LDL sehingga
meningkatkan pembersihan kolesterol
LDL. Dalam keadaan hipertrigliseridemia (tidak berlaku bagi
normotrigliseridemia), statin membersihkan kolesterol VLDL. |
Lovastatin, Prabastatin, Simvastatin,
Fluvastatin, Atorvastatin maksimal dosis yang direkomendasikan 80 mg/hari.
Sementara rusovastatin 40 mg/hari dan Pitavastatin 4 mg/hari. |
|
Inhibitor absorpsi kolesterol |
Ezetimibe
merupakan obat penurun lipid pertama yang menghambat ambilan kolesterol dari
diet dan kolesterol empedu tanpa mempengaruhi absorpsi nutrisi yang larut
dalam lemak. Dosis ezetimibe yang direkomendasikan adalah 10 mg/hari dan
harus digunakan bersama statin, kecuali pada keadaan tidak toleran terhadap
statin, di mana dapat dipergunakan secara tunggal. Tidak
diperlukan penyesuaian dosis bagi pasien dengan gangguan hati ringan atau
insufisiensi ginjal berat. Kombinasi statin dengan ezetimibe menurunkan
kolesterol LDL lebih besar daripada menggandakan dosis statin. Kombinasi
ezetimibe dan simvastatin telah diujikan pada subyek dengan stenosis aorta
dan pasien gagal ginjal kronik. Sampai saat ini belum ada laporan efek
samping yang berarti dari pemakaian ezetimibe |
Ezetimibe |
|
Bile acid
sequestrant |
Bile acid sequestrant mengikat asam empedu
(bukan kolesterol) di usus sehingga menghambat sirkulasi enterohepatik dari
asam empedu dan meningkatkan perubahan kolesterol menjadi asam empedu di
hati. Dosis harian kolestiramin, kolestipol, dan kolesevelam berturutan
adalah 4-24 gram, 5-30 gram, dan 3,8-4,5 gram. Penggunaan dosis tinggi (24 g
kolestiramin atau 20 g dari kolestipol) menurunkan konsentrasi kolesterol LDL
sebesar 18-25%. Bile acid sequestrant tidak mempunyai efek terhadap kolesterol
HDL sementara konsentrasi TG dapat meningkat. Walau tidak menurunkan kejadian
infark miokard dan kematian akibat PJK dalam sebuah penelitian pencegahan
primer, bile acid sequestrant direkomendasikan bagi pasien yang tidak
toleran terhadap statin. Efek sampingnya terutama berkenaan dengan sistem
pencernaan seperti rasa kenyang, terbentuknya gas, dan konstipasi. Bile
acid sequestrant berinteraksi
dengan obat lain seperti digoksin, warfarin, tiroksin, atau tiazid, sehingga
obat-obatan tersebut hendaknya diminum 1 jam sebelum atau 4 jam sesudah bile
acid sequestrant. Absorpsi vitamin
K dihambat oleh bile acid sequestrant dengan akibat mudah terjadi perdarahan
dan sensitisasi terhadap terapi warfarin. |
Terdapat 3 jenis bile acid
sequestrant yaitu kolestiramin, kolesevelam, dan kolestipol. |
|
Fibrat |
Fibrat
adalah agonis dari PPAR-α. Melalui reseptor ini, fibrat menurunkan regulasi
gen apoC-III serta meningkatkan regulasi gen apoA-I dan A-II. Berkurangnya
sintesis apoC-III menyebabkan peningkatan katabolisme TG oleh lipoprotein
lipase, berkurangnya pembentukan kolesterol VLDL, dan meningkatnya
pembersihan kilomikron. Peningkatan regulasi apoA-I dan apoA-II menyebabkan
meningkatnya konsentrasi kolesterol HDL. Sebuah meta analisis menunjukkan
bahwa fibrat bermanfaat menurunkan kejadian kardiovaskular terutama jika
diberikan pada pasien dengan konsentrasi TG di atas 200 mg/dL.45 Terapi
kombinasi fibrat (fenofibrat) dengan statin pada pasien DM tidak lebih baik
dari terapi statin saja dalam menurunkan laju kejadian kardiovaskular kecuali
jika konsentrasi TG lebih dari 200 mg/dL, konsentrasi kolesterol LDL ≤84
mg/dL, dan konsentrasi kolesterol HDL ≤34 mg/dL. Penelitian ini memperkuat
pendapat bahwa terapi penurunan konsentrasi TG ditujukan hanya pada pasien
dengan risiko kardiovaskular tinggi yang
konsentrasi kolesterol LDL-nya telah mencapai target dengan terapi statin dan
konsentrasi TG-nya masih di atas 200 mg/dL. Fibrat
dapat menyebabkan miopati, peningkatan enzim hepar, dan kolelitiasis. Risiko
miopati lebih besar pada pasien dengan gagal ginjal kronik dan bervariasi
menurut jenis fibrat. Gemfibrozil lebih berisiko menyebabkan miopati
dibandingkan fenofibrat jika dikombinasikan dengan statin. Jika fibrat
diberikan bersama statin maka sebaiknya waktu pemberiannya dipisah untuk
mengurangi konsentrasi dosis puncak, misalnya: fibrat pada pagi dan statin
pada sore hari. |
Fenofibrat
dengan dosis maksimal 200 mg/hari. Gemfibrozil adalah 600 mg diberikan 2 kali sehari, dengan dosis maksimal 1200
mg/hari. |
|
Asam nikotinat (niasin) |
Asam
nikotinat menghambat mobilisasi asam lemak bebas dari jaringan lemak perifer
ke hepar sehingga sintesis TG dan sekresi kolesterol VLDL di hepar berkurang.
Asam nikotinat juga mencegah konversi kolesterol VLDL menjadi kolesterol LDL,
mengubah kolesterol LDL dari partikel kecil (small, dense) menjadi partikel
besar, dan menurunkan konsentrasi Lp(a). Asam nikotinat meningkatkan
kolesterol HDL melalui stimulasi produksi apoA-I di hepar. Niasin yang
digunakan saat ini terutama yang berbentuk extended release yang dianjurkan
diminum sebelum tidur malam. Dosis awal yang direkomendasikan adalah 500
mg/hari selama 4 minggu dan dinaikkan setiap 4 minggu berikutnya sebesar 500
mg selama masih dapat ditoleransi sampai konsentrasi lipid yang dikehendaki
tercapai. Dosis maksimum 2000 mg/hari menurunkan TG 20-40%, kolesterol LDL
15-18%, dan meningkatkan konsentrasi HDL 15-35%. Menambahkan niasin pada
terapi statin tidak memberikan keuntungan tambahan jika diberikan pada pasien
dengan penyakit kardiovaskular aterosklerotik yang konsentrasi kolesterol
LDL-nya kurang dari 70 mg/dL. Sebuah studi yang menambahkan niasin extended release
pada statin pada lebih dari 25.000 pasien dengan penyakit kardiovaskular
gagal memperlihatkan keuntungan tambahan berupa penurunan laju serangan
jantung atau stroke. Alasan terbanyak menghentikan penggunaan niasin pada
bulan pertama adalah efek samping berupa keluhan pada kulit (ruam, pruritis,
flushing), keluhan gastrointestinal, DM, dan keluhan muskuloskeletal. Untuk
mengurangi efek flushing, niasin dikombinasikan dengan laropripant, sebuah
antagonis prostaglandin D2. |
Niasin
|
(Erwinanto,
et.al. 2013)
DAFTAR
PUSTAKA
Alldregde, Brian K.
et.al. 2013. Koda-Kimble &
Young’s : Applied Therapeutics The Clinical Use of Drug. 10th
edition. USA : Wolters Kluwer Health.
Berge, J.S. et.al. 2012. Lipid and
Lipoprotein Biomarkers and the Risk of Ischemic Stroke in Postmenopausal Women.
Erwinanto, et.al. 2013. Pedoman
Tatalaksana Dislipidemia. Jurnal Kardiologi Indonesia.
Herawati, F. et.al.2011. Pedoman
Interpretasi Data Klinik. Jakarta : Kementerian Kesehatan.
Larasanty, L.P.F. 2014. Review Artikel
Dislipidemia : Panduan Terapi Untuk Penyakit Kronis. Bali : Universitas
Udayana.
Siregar, Fazida A. dan Makamur, T. 2020.
Metabolisme Lipid dalam Tubuh. Jurnal Inovasi Kesehatan Masyarakat. Vo.1
(2). Hal. 60-66. Ameican Heart Asosiation, Inc.
Smellie, W.S.A. 2006. Cases in primary
care laboratory medicine : Testing pitfalls and summary of guidance in lipid management.
BMJ. Vol. 333.
0 Response to "PRINSIP DASAR PEMERIKSAAN BIOMARKER LIPID DAN INTERPRETASI HASIL PEMERIKSAAN LABORATORIUM"
Post a Comment