KASUS PEMERIKSAAN GLUKOSA DARAH
KASUS PEMERIKSAAN GLUKOSA DARAH
Kasus :
Tn.
Arif (51 tahun, BB 78 kg dan tinggi 160 cm) mengeluh sering merasa haus, sakit pinggang hebat, sering
buang air kecil, nyeri dikaki, kencing sakit, sering kencing. Ketika
memeriksakan diri ke dokter ternyata Tn. Arif mengidap
penyakit diabetes mellitus tipe 2 disertai gagal ginjal. Riwayat penyakit dari keluarga Tn. Arif mengidap diabetes
mellitus. Dokter meresepkan metformin 650 mg
1x sehari.
|
Hasil lab |
Tanggal pemeriksaan |
Rujuk |
|||
|
1/4 |
2/4 |
3/4 |
4/4 |
||
|
TD |
180/100 |
160/90 |
130/80 |
160/90 |
120/80 |
|
Pernafasan |
22 |
20 |
22 |
20 |
20-24 |
|
Nadi |
96 |
80 |
96 |
96 |
60-100 |
|
suhu |
36.7 |
36.8 |
36.7 |
36.7 |
36-37 |
Data pemeriksaan darah
|
Pemeriksaan |
Hasil Pemeriksaan (3 bulan lalu) |
Hasil Pemeriksaan |
|
Glukosa darah puasa |
126 mg/kg |
123 mg/dl |
|
Tes Toleransi Glukosa Oral |
220 mg/dL |
219 mg/dL |
|
HBA1c |
7,3 % |
7 % |
|
Kreatinin |
1,4 mg/dl |
1.4 mg/dl |
Pertanyaan :
1. Hubungkan gejala dan hasil
data laboratorium dengan penyakit DM pasien !
2. Hitung
Nilai IMT dan hubungkan dengan penyakit DM pasien !
3.
Bagaimana
pendapat anda terhadap obat yang diresepkan oleh dokter tersebut ?
4.
Apa
yang anda sarankan kepada pasien sebagai seorang farmasis ?
Jawaban
:
1.
Nama : Tn. Arif (♂)
Umur
: 51 tahun
BB :
78 kg
TB :
160 cm
Keluhan
: Sering merasa haus, sakit
pinggang hebat, sering buang air kecil, nyeri dikaki, kencing sakit.
Diagnosa
: Diabetes mellitus type 2
disertai gagal ginjal
Riwayat
penyakit : Diabertes mellitus
(keturunan)
Terapi
farmakologi : Metformin 650 mg, 1 x
sehari
Berdasarkan
dari data kliniknya, diketaui suhu tubuh Tn. Arif pada hari ke 1 ialah 36,7oC yang kemudian meningkat menjadi 36,8oC
pada hari ke 2, lalu turun menjadi 36,7oC pada hari ke 3 dan 4.
Menurut pustaka, suhu tubuh normal ialah 36-37,5oC. Selanjutnya,
denyut nadi Tn. Arif pada hari ke 1 ialah 96 kali/menit, kemudian menurun pada
hari ke 2 menjadi 80 kali/menit dan meningkat pada hari ke 3 dan 4 menjadi 96
kali/menit. Walau terjadi penurunan denyut nadi yang kemudian meningkat selama
4 hari, denyut nadi Tn. Arif terbilang normal yaitu 60-100 kali/menit (Isyanto, H. dan Jaenudin,
I. 2018). Untuk tekanan darah Tn. Arif pada hari ke 1 ialah 180/100 mmHg
kemudian pada hari ke 2 dan ke 3 tekanan darah Tn. Arif semakin menurun menjadi
160/90 mmHg ke 130/80, lalu meningkat menjadi 160/90 mmHg pada hari ke 4. Hal
ini menunjukkan bahwa Tn. Arif mengalami hipertensi sistolik terisolasi karena
nilai sistolik ≥140 dan diastolik <90 (Tjokroprawiro, A.2015). Laju
pernafasan Tn. Arif tidak stabil namun tetap beradadalam nilai normal
pernafasan yaitu pada hari ke 1 dan 3 ialah 22 breaths/menit, pada hari ke 2
dan 4 mengalami penurunan menjadi 20 breaths/menit. Untuk orang dewasa, laju
pernapasan normal adalah 12-20 breaths/menit (Melyana dan Sarotama, A. 2019)
Berdasarkan data
laboratoriumnya, semua parameter pemeriksaan darah tidak sesuai dengan nilai
normalnya yaitu :
-
Glukosa darah puasa : atau Fasting Blood Sugar (FBS)
merupakan kadar glukosa dara setelah puasa semalaman (>10 jam). Kadar
glukosa darah puasa yang tinggi menunjukkan produksi insulin tidak cukup
meskipun hanya untuk memenuhi kebutuhan basal (Mahendra, B. 2008). Tes glukosa
darah puasa, jika kadarnya sama atau lebih dari 126 mg/dL maka dapat
dikategorikan diabetes mellitus (Wijayakusuma, H. 2004). Untuk nilai normal
kadar glukosa darah puasa ialah 70-99 mg/dL (Mahendra, B. 2008) sehingga dari
data laboratorium Tn. Arif yang kadar glukosa darah puasa diperoleh pada 3
bulan yang lalu ialah 126 mg/dL menunjukkan Tn. Arif mengalami diabetes
mellitus dan hasil pemeriksaan terbaru diperoleh 123 mg/dL menunjukka Tn. Arif
mengalami gula darah puasa terganggu (GDPT) karena bila hasil pemeriksaan
glukosa dara setelah puasa 8-10 jam hasil yang diperoleh antara 100-125 mg/dL
menandakan adanya defisiensi insulin basal yang menyebabkan hiperglikemia pada
keadaan puasa (Dalimartha, S. 2012)
-
Tes toleransi glukosa
oral : merupakan tes yang digunakan
menentukan status toleransi glukosa berdasarkan kadar plasama pada 120 menit
setelah minum 75 g larutan glukosa untuk mengkonfirmasi diagnosis diabetes
mellitus bila pemeriksaan penyaringan dilakukan hasilnya meragukan, yang dapat
dilakukan dengan dua cara yaitu oral dan intravena. Cara yang biasa dilakukan
ialah oral, sedangakan cara intravena hanya akan dilakukan pada keadaan khusus
misalnya terdapat gangguan penyerapan (absorpsi) akibat operasi pada saluran
pencernaan (). Jika seserorang dikatakan terganggua terhadap toleransi glukosa
bila pemeriksaan kadar glukosa daraha 2 jam setelah minum glukosa 75 g hasilnya
ialah ≥200 mg/dL (Dalimartha, S. 2012). Adapun nilai normal tes toleransi
glukosa oral ialah ≤140 mg/dL sehingga
dari data pemeriksaan laboratorium Tn. Arif dapat dikatakan bahwa ia mengalami tolenransi
glukosa terganggu (TGT) (Manedra, B. 2008)
-
HbA1c : merupakan
sala satu jenis hemoglobin terglikosilasi atau terglikasi. Pemeriksaan
glikohemoglobin (HbA1c) berguna sebagai indikator dalam memonitor kontrol gula
dara jangka panjang, diagnosis, penentuan prognosisi dan pengelolaan penderita
diabetes (Mahendra, B. 2008). Pada kondisi normal, HbA1c bernilai ≤5,6% dari Hb
total, namun jika kadar glikohemoglobin ≥6,5% dari total HbA maka hal ini
menandakan diabetes (Lippincott Williams & Wilkins. 2013). Berdasarkan data
pemeriksaan laboratorium Tn. Arif, diketahui kadar HbA1c yang diperoleh ialah
7,3% pada 3 bulan yang lalu dan 7%
setelah baru-baru ini melakukan pemeriksaan laboratorium sehingga hal
ini menandakan Tn.Arif mengalami diabetes.
-
Kreatinin : merupakan unsur
utama yang diasilakan selama kontaksi otot skeletal melalui pemecahan kreatinin
fosfat, yang diekskresikan oleh ginjal dan konsentrasinya dalam darah dapat
diukur sebagai indikator ginjal. Tes kratinin bertujuan untuk mendiagnosa
fungsi ginjal. Nilai kreatinin yang tinggi menunjukkan terjadinya penurunan
fungsi ginjal. Nilai normal kreatinin ialah 0,6-1,3 mg/dL (Anonim, 2011). Pada
data laboratorium Tn. Arif, Kadar kreatinin yang diperoleh pada 3 bulan yang
lalu maupun sekarang mengalami peningkatan yaitu 1,4 mg/dL sehingga menunjukkan
Tn. Arif mengalami penurunan fungsi ginjal.
Dari
data pemeriksaan Tn. Arif dapat disimpulkan bahwa ia mengalami diabes mellitus
tipe 2 karena Tn. Arif mengalami tolenransi glukosa terganggu (TGT) dan glukosa
dara puasa terganggu (GDPT) yang merupakan awal dari berkembangnya diabetes
mellitus tipe 2 akibat fungsi sel β pankreas menurun yang tidak sanggup lagi
memproduksi insulin yang cukup menyebabkan kadar glukosa dara meningkat
(hiperglikemia). Selain itu, hal ini juga didukung oleh keluhan Tn. Arif yaitu
sering merasa haus, sakit pinggang hebat, sering buang air kecil, nyeri dikaki,
kencing sakit yang merupakan gejala umum yang sering dikeluhkan pasien diabetes
mellitus. Jika dikait pula dengan riwayat penyakit keturunan, keluarga Tn. Arif
merupakan penderita diabetes mellitus yang menjadi faktor resiko tinggi baginya
untuk mengalami diabetes mellitus di umurnya yang 51 tahun saat ini
(Dalimartha, S. 2012). Tn. Arif juga mengalami hipertensi dari data
pemeriksaannya, kaitan hipertensi dengan diabetes mellitus iala akibat tidak
tepatnya penyimpanan garam dan air sehingga tekanan darah dalam tubuh pada
sirkulasi pembuluh darah perifer meningkat. Akibat tingginya glukosa darah dan
lamanya diabetes yang memperberat akibat tekanan dara tinggi menyebabkan
kerusakan ginjal yang didukung dengan adanya pemeriksaan kreatinin yang
meningkat menandakan terjadinya penurunan fungsi ginjal (Tandra, H. 2007)
2.
Perhitungan Indeks Massa Tubuh (IMT)
Indeks
Massa Tubuh (IMT) = 30,46 kg/m2
IMT Tn. Arif yang memiliki berat
badan 78 kg dengan tinggi badan 160 cm ialah 30,46 kg/m2 yang
menandakan bahwa berat badan Tn. Arif sudah masuk gemuk kategori kelebihan
berat badan tingkat berat yaitu ≥ 27,0 (Asmadi, 2008). Pada penderita diabetes
mellitus tipe 2, berat badannya akan mengalami penurunan karena berkurangnya
jumlah simpanan kalori akibat defisiensi insulin sehingga metabolisme protein
dan lemak terganggu (Rias, Yoannes A. dan Sutikno, E.2017), namun jika terjadi
penambahan berat badan yiat kegemukan/obesitas dengan IMT ≥ 23 akan menyebabkan
peningkatan glukosa menjadi 200 mg/dL (Fatima, Restyana N.2015) akibat
kesulitan menggunakan insulin yang diasilkan karena keadaan resisten insulin
pada diabetes mellitus tipe 2. Obesitas juga dipengaruhi oleh aktivitas fisik
yang dapat mengontrol kadar gula darah, glukosa akan diubah menjadi energi pada
saat beraktivitas fisik sehingga mengakibatkan insulin semakin meningkat
sehingga kadar gula darah akan
berkurang. Pola makan yang salah kurang mengkonsumsi buah dan sayur dan
cenderung berlebih menyebabkan timbulnya obesitas (Nasution, Lisa K. et.al.
2018)
3.
Obat
yang diberikan ole dokter iala metformin dengan dosis 650 mg, 1 x sehari. Metformin
merupakan obat golongan biguanid yang bekerja dengan cara menurunkan produksi
glukosa hati, menurunkan absorpsi glukosa intestinal, meningkatkan kepekaan
terhadap insulin sehingga diindikasikan untuk penatalaksanaan diabetes melitus
tipe 2 dengan dosis 500 mg 2 kali sehari yang kemudian dapat ditingkatkan
dengan interval minggguan ingga 2000 mg/hari, namun jika diperlukan dosis 2000
mg/hari dapat diberikan dalam 3 dosis terbagi (tidak melebi 25000 mg/ari) atau
850 sekali sehari (Vallerand, April H. dan Sanski, C.A. 2015).
Menurut saya, pada penderita
diabetes mellitus tipe 2 yang mengalami obesitas perlu diberikan dosis yang
tinggi untuk mengontrol kadar gloksa darah dengan mempertimbangkan derajat
hiperglikemia, berat badan, fungsi ginjal. Metformin merupakan obat paling
dasar yang sering digunakan dalam mengatasi diabetes mellitus tipe 2 yang dapat
meningkatkan penurunan berat badan dapat digunakan, namun dosis yang seharusnya
diberikan dokter jika pemberiannya sekali sehari seharusnya 850 mg bukan 650 mg
(Whittlesea, C. dan Hodson, K. 2019). Selain itu, menurut saya sebaiknya dokter
juga meresepka obat antihipertensi kepada Tn. Arif untuk mengurangi tingkat
hipertensi yang diderita agar tidak mengalami penurunan fungsi ginjal yang
lebih parah seperti captopril yang merupakan obat golongan ACE Inhibitor (Vallerand,
April H. dan Sanski, C.A. 2015).
4.
Sebagai
seorang farmasis, dalam meningkatkan kualitas hidup pasien diabetes mellitus (DM)
dilakukan penerapan perubaan pola hidup dengan melakukan diet yang
memperhatikan keseimbangan dan kesesuaian kebutuan kalori dengan zat gizi
masing-masing individu terutama pada penderita yang mengkonsumsi obat penurun
glukosa darah seperti metformin. Standar yang dianjurkan adalah makanan dengan komposisi yang seimbang dalam hal karbohidrat 60-70%, lemak 20-25% da nprotein 10-15%. Selain itu, latihan fisik
dianjurkan untuk dilakukan secara teratur yaitu 3-4 kali seminggu selama kurang
lebi 30 menit seperti jalan kaki biasa untuk mengindarkan kebiasaan hidup yang
kurang bergerak dan bermalas-malasan (Fatima, Restyana N.2015).
DAFTAR PUSTAKA
Anonim.
2011. Pedoman Intepretasi Data Klinik. Jakarta :Kementerian Kesehatan Republik
Indonesia.
Asmadi,
2008. Teknik Prosedural Konsep & Aplikasi Kebutuhan Dasar Klien. Jakarta :
Salemba Medika. Hal. 84.
Dalimartha,
S. 2012. Makanan dan erbal untuk
penderita Diabtetes mellitus. Jakarta : Penebar swadaya.
Dipiro,
J.T., Talbert, R.L., Yee, G.C., Matzke, G.R., Wells, B.G., dan Posey, L.M.
2009. Pharmacotherapy A Pathophysiologic Approach Seventh Edition. Mc Graw Hill
Medical. New York.
Fatima, Restyana N.2015. Artikel
Review : Diabetes Mellitus Type 2. J Majority Vol. 4 (5).
Isyanto,
H. dan Jaenudin, I. 2018. Monitoring Dua Parameter Data Medik Pasien (Suhu
Tubuh dan Detak Jantung) Berbasis Aruino Nirkabel. eLEKTUM. Vol 8 (1).
Lippincott
Williams & Wilkins. 2013. Koda-Kimble & Young’s : Applied Therapeutics
the Clinical Use of Drugs. Tenth Edition. Wolters Kluwer Health.
Mahendra,
B. 2008. Care Yourself : Diabetes Mellitus. Jakarta :
Penebar Plus.
Melyana
dan Sarotama, A. 2019. Implementasi Peringatan Abnormalitas Tanda-Tanda
Vital pada Telemedicine Workstation. Seminar Teknik Universitas
Muhammadiyah Jakarta. e - ISSN : 2460 – 8416
Nasution, Lisa K., Sigian, A.
dan Lubis, R. 2018. Hubungan Obesitas Terhadap Kejadian Diabetes Melitus Tipe 2
Pada Wanita Usia Subur Di Wilayah Kerjapuskesmas Pintupadang. Jurnal Muara
Sains, Teknologi, Kesehatan, dan Ilmu Kesehatan. Vol. 2 (1). ISSN-L 2579-6410.
Rias, Yoannes A. dan Sutikno,
E.2017. Hubungan Antara Berat Badan Dengan Kadar Gula Darah Acak Pada Tikus
Diabetes Mellitus. Jurnal Wiyata Vol. 4 (1)
Tandra,
H. 2007. Segala Sesuatu Yang Harus Anda Ketahui tentang DIABETES : Panduan
Lengkap Mengenal dan Mengatasi Diabetes dengan Cepat dan Mudah. Jakarta :
PT. Gramedia Pustaka Utama.
Tjokroprawiro,
A.2015. Buku ajar ilmu penyakit dalam. Ed.2: Fakultas Kedokteran Universitas
Airlangga Rumah Sakit Pendidikan Dr. Soetomo Surabaya. Surabaya : Airlangga
University Press.
Whalen,
K. 2015. Lippincontt Illustrated Reviews Pharmacology. Ed. 6th. USA : Wolters
Kluwer.
Whittlesea,
C. dan Hodson, K. 2019. Clinical Pharmacy and Therapeutic. Ed. 6th.
China : Elsivier.
Widodo,
F.Y.2014. Pemantauan Penderita Diabetes Melitus. Jurnal ilmiah kedokteral Vol.
3 (2).
Wijayakusuma,
H. 2004. Bebas Diabetes Mellitus Ala Hembing. Jakarta : Puspa Swara.
Vallerand,
April H. dan Sanski, C.A. 2015. Davis’s Drug Guidline for nUrse. Edisi 14th .
Canada : F.A Ddavis Company. Philadelphia : F.A.Davis Company.
0 Response to "KASUS PEMERIKSAAN GLUKOSA DARAH"
Post a Comment