KASUS PERCOBAAN FLEBOTOMI DAN PEMERIKSAAN GOLONGAN DARAH

 

KASUS PERCOBAAN FLEBOTOMI DAN PEMERIKSAAN GOLONGAN DARAH

 

Kasus :

Tn. Fery berusia 37 tahun memiliki berat badan  57 kg. Beliau ingin mentransfusikan darahnya kepada salah satu dari 4 pasien berikut:

1. Tn. Gerid (menderita trombositopenia, golongan darah O+)

2. Tn. Handri (mengalami kecelakaan berat, golongan darah AB-)

3. Tn. Indro (mengalami pendarahan pasca operasi, golongan darah A+)

4. Tn. Joko (menderita hemofilia, golongan darah B-)

 

Tn. Fery pun melakukan pemeriksaan golongan darah. Darah Tn. A diteteskan ke atas kertas tes, lalu masing-masing ditetesi antisera A, antisera B, antisera AB, dan antisera D. Hasilnya tidak ada satupun yang mengalami penggumpalan.

Tn. Fery pernah menderita TB selama 6 bulan saat berusia 25 tahun dan telah dinyatakan sembuh hingga saat ini. Beliau baru saja melakukan pencabutan gigi 9 hari yang lalu, operasi usus buntu 1,5 tahun yang lalu, dan pernah menderita malaria 4 tahun yang lalu. Data kesehatan Tn. Fery sebagai berikut:

Tekanan darah : 100/70 mmHg

Denyut nadi    : 70 kali/menit

Suhu tubuh     : 37°C

Hb                   : 14 g/dL

 

Pertanyaan :

1.     Bagaimana interpretasi data Tn. Fery ?

2.     Dari riwayat penyakit Tn. Fery, apakah ia bisa melakukan transfusi darah?

3.     Dari keempat pasien, yang manakah pasien yang bisa mendapat transfusi darah dari Tn. Fery?

4.     Berapa lama lagi Tn. Fery bisa mendonorkan darahnya?

5.     Jelaskan teknik flebotomi untuk Tn. Fery.

6.     Bagaimana syarat dan ketentuan seseorang bisa mentransfusikan darahnya?

 

Jawaban :

1.     Pemeriksaan golongan darah sebelum melakukan transfusi darah penting untuk diketahui agar tidak terjadi komplikasi yang membahayakan pasien akibat pemberian golongan darah yang tidak yang tidak sesuai. Pemeriksaan golongan darah untuk mendeteksi keberadaan anti gen dipermukaan membran sel darah merah dengan cara mereaksikan darah manusia dengan antisera A dan antisera B. Prinsip pemeriksaan golongan darah yaitu reaksi antigen yang terdapat pada permukaan eritrosit dengan dengan reagen anti-sera anti A dan anti B ataupun dengan serum anti A ataupun serum anti B sehingga terbentuk aglutinasi.  Jadi, golongan darah A memiliki sel darah merah dengan antigen A dipermukaan eritrositnya dan menghasilkan antibodi terhadap antigen B dalam serum darahnya. Golongan darah B memiliki antigen B di permukaan eritrositnya dan menghasilkan antibodi terhadap antigen A dalam serum darahnya. Golongan darah AB memiliki sel darah merah dengan antigen A dan B di permukaan eritrositnya serta tidak menghasilkan antibodi terhadap antigen A maupun antigen B dalam serum darahnya. Sedangkan golongan darah O memiliki sel darah tanpa antigen, tetapi dalam serumnya terdapat antibodi terhadap antigen A dan B (Rahman, I. Dkk. 2019).

Sementara golongan darah rhesus merupakan sistem golongan darah terpenting kedua dalam pelayanan transfusi, Rhesus positif mengindikasikan adanya salah satu antigen Rhesus pada sel darah merah, umumnya antigen D. Rhesus negatif mengindikasikan tidak adanya antigen D pada sel darah merah seseorang.  Aglutinasi positif pada tabung yang ditambahkan anti-D dan aglutinasi negatif pada kontrol mengindikasikan hasil pemeriksaan positif atau sampel dengan D positif. Jika tidak adanya aglutinasi pada tabung dengan anti-D maupun kontrol menunjukkan hasil pemeriksaan negatif. Bila sampel berasal dari pasien, dianggap sebagai Rhesus negatif (Mulyantari, N.K dan Yasa, I.W.P.S. 2017).

Pada kasus Tn. Fery berusia 37 th dengan berat badan 57 kg yang telah melakukan tes pemeriksaan golongan darah  dengan hasil tidak ada satupun yang menggumpal setelah ditetesi antisera A, antisera B, antisera AB dan antisera D sehingga diketahui golongan darah Tn. Fery ialah O dengan rhesus negatif.

2.     Tn. Fery ingin melakukan transfusi darah, namun ia memiliki riwayat penyakit TB selama 6 bulan saat berusia 25 tahun dan telah dinyatakan sembuh hingga saat ini. Beliau baru saja melakukan pencabutan gigi 9 hari yang lalu, operasi usus buntu 1,5 tahun yang lalu, dan pernah menderita malaria 4 tahun yang lalu. Berdasarkan Guidline for Blood Donor Selection and Blood Donor Referral terdapat beberapa kriteria umum pemilihan donor darah yaitu pada tabel dibawah ini.

No.

Kriteria

Rekomendasi

1

Kondisi

Pendonor dalam kondisi kesehatan yang baik, waspada secara mental dan bugar secara fisik dan tidak akan menjadi narapidana penjara atau kurungan lainnya.

2

Usia

Minimum 18 tahun, Maksimum 65 tahun

Pertama kali donor tidak boleh lebih dari 60 tahun, untuk donor ulang batas atas adalah 65 tahun

3

Volum darah utuh yang dikumpulkan dan berat badan pendonor

350 mL – 45 kg

450 mL – lebih dari 55 kg

4

Tekanan darah

100 – 140 mmHg sistolik, 60 – 90 mmHg diastolik dengan atau tanpa pengobatan

5

Denyut jantung

60 – 100

Reguler

6

Suhu

Tidak demam, 37oC/98,4oF

7

Pernafasan

Pendonor harus bebas dari penyakit pernapasan akut

8

Haemoglobin

≥12,5 g/dL

Sifat thalassemia dapat diterima, asalkan hemoglobin dapat diterima

9

Operasi besar

Menunda selama 12 bulan setelah pemulihan (operasi besar didefinisikan sebagai yang membutuhkan rawat inap, anestesi (umum / tulang belakang) mengalami transfusi darah dan / atau kehilangan darah yang signifikan

10

Operasi kecil

Menunda selama 6 bulan setelah pemulihan

11

Pencabutan gigi

Tunda hingga 6 bulan setelah cabut gigi

12

Malaria

Tunda selama 3 bulan setelah pemulihan penuh

13

Tuberculosis

Tunda selama 2 tahun hingga terkonfirmasi sembuh

(Rajan, S. 2017)

Dari guidelines diatas, dapat diketahui bahwa Tn. Fery memenuhi kriteria diatas untuk bisa melakukan transfusi darah, namun karena 9 hari yang lalu ia baru melakukan cabut gigi maka ia harus menunggu 6 bulan setelahnya pemulihan. Namun, jika berdasarkan pada Permenkes No.91 tahun 2015 tentang Standar Pelayanan Transfusi Darah, donor darah dapat dilakukan setelah satu minggu jika tidak ada keluhan pada pendonor yang telah melakukan cabut gigi (Anonim, 2015).

3.     Tn. Fery memiliki golongan darah O yang merupakan darah yang bersifat sebagai donro universal sehingga O dapat mendonorkan darahnya untuk golongan darah A, B, AB dan O (Thimesch, B. 2018). Namun, diketahui rhesus darah dari Tn. Fery ialah negatif sehingga perlu pengawasan dengan hati-hati, walau pada proses transfusi darah rhesus negatif dapat didonorkan pada pasien rhesus positif untuk pertama kalinya tapi untuk kedua kalinya dilakukan transfusi darah negatif akan menyebabkan aglutinasi yang membahayakan pasien (Booth, K.A. dkk. 2009) sehingga pasien perlu melakukan pemeriksaan lanjutan untuk menentukan ada tidaknya weak D antigen (Mulyantari, N.K dan Yasa, I.W.P.S. 2017).

Jadi dari 4 pasien diatas, yang menjadi salah satu pasien yang dapat mendapatkan donor dari Tn. Fery ialah pada pasien yang memiliki rhesus negatif yaitu antara Tn. Handri (AB-) dan Tn. Indro (B-), jika dilihat dari penyakit yang diderita kedua yang lebih urgent untuk mendapatkan transfusi darah ialah Tn. Handri karena mengalami kecelakaan berat dimana ia seharusnya masih dalam ruangan emergency, selain itu karena golongan darah AB- merupakan gologan darah yang jarang ditemui maka Tn. Fery sebaiknya mendonorkan darahnya kepada Tn. Handri (Thimesch, B. 2018.).

4.     Tn. Fery 9 hari yang lalu baru melakukan cabut gigi maka ia harus menunggu 6 bulan setelahnya pemulihan berdasarkan Guidline for Blood Donor Selection and Blood Donor Referral (Rajan, S. 2017). Namun, jika berdasarkan pada Permenkes No.91 tahun 2015 tentang Standar Pelayanan Transfusi Darah, donor darah dapat dilakukan setelah satu minggu jika tidak ada keluhan pada pendonor yang telah melakukan cabut gigi (Anonim, 2015).

5.     Teknik Flebotomi yang dilakukan Tn. Fery yaitu posisi Tn. Fery saat pengambilan darah vena dapat duduk atau berbaring dengan posisi lengan Tn. Fery harus lurus, jangan membengkokkan siku lalu dipilih lengan yang banyak melakukan aktivitas. Tn. Fery diminta untuk mengepalkan tangan dan dipasang "torniquet"± 10 cm di atas lipat siku. Pembuluh darah vena yang dipilih biasanya bagian vena mediana cubiti. kulit pada bagian yang akan diambil darahnya dengan alkohol 70% dibersihkan lalu tunggu hingga kering untuk mencegah terjadinya hemolisis dan rasa terbakar. Kulit yang sudah dibersihkan jangan dipegang lagi. Vena yang telah dibersihkan dengan alkohol 70% tadi ditusuk bagi dengan jarum, lubang jarum menghadap ke atas dengan sudut kemiringan antara jarum dan kulit 15 derajat, tekan tabung vakum sehingga darah terisap ke dalam tabung dan ketika jarum berhasil masuk vena, akan terlihat darah masuk dalam semprit. Torniquet dilepas dan Tn. Fery diminta lepaskan kepalan tangan. Dibiarkan darah mengalir ke dalam tabung sampai selesai. Darah dengan antikoagulan yang berbeda dan volume yang lebih banyak, digunakan tabung vakum yang lain. Jarum kemudian ditarik dan letakkan kapas alkohol 70 % pada bekas tusukan untuk menekan bagian tersebut selama ± 2 menit setelah darah berhenti, diplester bagian ini selama ± 15 menit. 10 Tabung vakum yang berisi darah dibolakˇbalik kurang lebih 5 kali agar bercampur dengan antikoagulan (Anonim, 2013).

6.     Bagi orang-orang yang ingin mendonorkan darahnya, ada syarat atau kriteria yang telah ditentukan Palang Merah Indonesia (PMI) diantaranya harus sehat Jasmani dan Rohani, rentang usia dari 17 – 60 tahun dan sampai 65 tahun untuk pendonor yang rutin mendonorkan darahnya, berat badan minimal 45 Kg, tekanan darah (tensi darah) normal dengan kadar Hb (Hemoglobin) minimal 12,5 g/dL. Orang – orang yang mempunyai penyakit jantung dan paru, kanker, tekanan darah tinggi (hipertensi), kencing manis (diabetes melitus), kelainan darah, epilepsi atau sering kejang, pernah menderita hepatitis B atau C, mengidap sifilis, ketergantungan narkoba, kecanduan minuman beralkohol, mengidap HIV/AIDS tidak disarankan dokter melakukan donor darah (Firdaus, M.R. dkk. 2020)


DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2013. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 43 Tahun 2013 tentang Cara Penyelenggaraan Laboratorium Klinik yang Baik.Jakarta : Kemenkes Ri..

Anonim. 2015. Permenkes No.91 tahun 2015 tentang Standar Pelayanan Transfusi Darah. Jakarta : Kemenkes RI.

Booth, K.A. dkk. 2009. Phlebotomi for Health Care Pesonnel. Second Ed. New York : MC Graw Hill Higher Education.

Firdaus, M.R. dkk. 2020. Klasifikasi Kelayakan Calon Pendonor Darah Menggunakan Neural Network. Jurnal Sistem Informasi. Vol. 9 (2).

Mulyantari, N.K dan Yasa, I.W.P.S. 2017. Laboratorium Pratransfusi Up Date.  Denpasar : Udayana University Press.

Rahman, I. Dkk. 2019. Penentuan Golongan Darah Sistem ABO dengan Serum dan Reagen Antisera Metode Slide. Jurnal GASTER Vol. 17 (1).

Rajan, S. 2017.  Guidelines for Blood Donor & Blood Donor Referral. India : Manistry of Health and Family Welfare.

Thimesch, B. 2018. Phlebotomy : A How to Guide for Drawing Blood. Allied Health Career Training, LLC.

 

0 Response to "KASUS PERCOBAAN FLEBOTOMI DAN PEMERIKSAAN GOLONGAN DARAH"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel