AMOEBIASIS
What?
Apa yang dimaksud dengan Amoebiasis?
Jawaban:
Amoebiasis adalah penyakit infeksi usus yang ditimbulkan oleh protozoa
“Entamoeba histolytica”.
Berdasarkan letak infeksinya, amoebiasis terdapat 3
jenis yaitu:
1.
Amoebiasis tanpa gejala
2.
Amoebiasis intestinalis
3.
Amoebiasis hati (ekstraintestinal)
Where?
Dimana saja
kasus amoebiasis dapat terjadi?
Jawaban:
Di Dunia : Sekitar 500 juta orang setiap tahunnya terkena dampak
di seluruh dunia, dimana sekitar 10% terinfeksi oleh E. histolytica dan sisanya
oleh spesies Entamoeba nonpatogen lainnya. Menurut UNESCO, amoebiasis
bertanggung jawab atas lebih dari 100.000 kematian setiap tahun di seluruh
dunia. Penyakit ini umumnya terjadi di daerah tropis dan subtropis di Amerika
Tengah dan Selatan, Asia dan Afrika. Bangladesh, India, Brasil, Kolombia,
Meksiko, dan Tiongkok berada di daftar teratas negara yang paling terkena
dampak.
(Nasrallaha, J., et. al. 2022)
(Nasrallaha, J., et. al. 2022)
Di Indonesia : Di Indonesia, angka kejadian amoebiasis cukup
tinggi, berkisar 10-18%. Sedangkan angka kematian akibat penyakit amoebiasis
cukup tinggi antara 1,9—9,1%, menduduki peringkat kedua setelah malaria (Wardhana,
A.H., at. Al. 2020)
Who?
Siapa yang
menjadi sasaran terdampak amoebiasis? (faktor Resiko)
Jawaban:
1.
Ibu Hamil
2.
Usia Muda
3.
Malnutrisi
4.
Alkoholisme
5.
Laki-laki yang berhubungan seksi dengan
laki-laki (LSL)
6.
Imunosupresif
Why?
Mengapa bisa
terjadi amoebiasis?
Jawaban:
Penularan Entamoeba histolytica dapat terjadi langsung dari manusia
ke manusia melalui kontak seksual (biasanya terjadi pada homoseksual yaitu
LSL) atau dapat pula ditularkan melalui makanan dan air minum
(fecal-oral route) yang telah terinfeksi kista inaktif Entamoeba
histolytica.

Gambar Siklus hidup protozoa
Kista inaktif yang masuk, di dalam usus halus akan berkembang
menjadi bentuk aktif, yakni trofozoit. Kemudian trafozoit berpindah menuju usus
besar dan memperbanyak diri dengan cara pembelahan biner. Trofozoit
biasanya hidup di usus besar sebagai komensal non-patogen, yakni
membentuk kista tanpa menimbulkan gejala penyakit. Kemudian kista-kista tersebut
meninggalkan tubuh lewat tinja bersama trofozoit yang tak berubah. (penjelasan 1)
Trofozoit dapat berubah menjadi bentuk patogen dan dengan
bantuan toksinnya sendiri serta enzim proteolitik, dapat menyerang mukosa
usus sehingga terjadilah ulkus. Setelah mukosa meradang, penderita
mengalami nyeri perut dan diare berdarah serta berlendir à Ameabiasis intestinalis.
(penjelasan 2).
Dalam keadaan tertentu 2 – 4 minggu masa inkubasi, dapat terjadi
manifestasi eksternal dimana trofozoit dapat menembus dinding usus dan mengalami
perubahan, yakni tumbuh menjadi kurang lebih dua kali lebih besar,
kemudian menjalar melalui vena porta ke organ-organ lain,
a.l. jantung, paru-paru dan otak, khususnya hati. à Ameabiasis ekstraintestinalis
(penjelasan 3)
When?
Kapan seseorang dikatakan mengalami amoebiasis? (Gejala/Ciri-ciri)
Jawaban:
· Amoebiasis
usus (disenteri ameba) yang akut memperlihatkan gejalanya yang menyerupai
disentri basiler (Shigellosis). Awal infeksi ditandai oleh diare akut
yang ringan dan berselang-seling (intermittent), biasanya berlanjut dengan
diare yang mengandung lendir dan darah, kejang- kejang, nyeri perut
serta mulas pada feses (tenesmus). Gejala lainnya berupa sakit
kepala, mual dan anoreksia.
· Amoebiasis
hati gejalanya demam tinggi, mual, muntah-muntah dan nyeri di daerah
hati yang memancar ke punggung atau bahu, juga pembesaran hati
(hepatomegalia) tetapi dalam kebanyakan kasus tidak terjadi diare.
How?
Bagaimana
tatalaksana terapi amoebiasis

Algoritma diagnosis amoebiasis

Daftar Pustaka
Wardhana, A.H., Sawitri, D.H., Ekawasti, F., Martindah, E.,
Apritadewi, D., Shibahara, T. 2020. Occurrence and genetic identifications of
porcine entamoeba, E. suis and E. polecki, at Tangerang in West Java,
Indonesia, Parasitol Research. 119 (9) : 2983–2990
Cate Whittlesea & Karen Hodson. 2019. Clinical
Pharmacy and Therapeutics. 6th ed. China: Elsivier.
Drs. Tjay & Drs. Kirana Rahardja. 2015. Obat obat
penting: Khasiat, penggunaan dan efek-efek sampingnya. Ed. 7. Jakarta: Penerbit
PT Alex Media Komputindo.
Juariah, N. M., Abdullah, M., Sutanto, I., Chen, K., and
Yuwono, V. 2005. Intestinal Amebiasis:
Diagnosis and Management. The Indonesian Journal of Gastroenterology,
Hepatology, and Digestive Endoscopy : 6 (3).
Kantor M, Abrantes A, Estevez A, Schiller A, Torrent J,
Gascon J, Hernandez R, Ochner C. 2018. Entamoeba Histolytica: Updates in
Clinical Manifestation, Pathogenesis, and Vaccine Development. Can J
Gastroenterol Hepatol.
Nasrallaha, J., Akhoundia,
M., Haouchinea, D., Marteaua, A., Manteleta, S., Windb, P., Benamouzigc,
R., Bouchaudd, O., Dhotee, R., Izria, A. 2022. Updates on The Worldwide
Burden of Amoebiasis: A Case Series and Literature Review. Journal of
Infection and Public Health 15: 1134–1141.
0 Response to "AMOEBIASIS "
Post a Comment