PENGEMBANGAN VALIDASI METODE ANALISIS
SOAL
1. Bagaimana
penentuan kadar senyawa Zidovudine dalam bulk dan tablet berdasarkan monograf
kompendial resmi serta kondisi analisisnya secara lengkap
2. Apakah
yang menjadi pertimbangan sehingga Zidovudine dikembangkan metode analisisnya
menggunakan FTIR
3. Apakah
yang menjadi kekhususan senyawa Zidovudine sehingga dapat dianalisis kadar
secara akurat menggunakan FTIR?
4. Uraikan
parameter-parameter validasi yang diuji pada serta bagaimana hasilnya?
5. Menurut
anda, apakah metode FTIR reliable untuk dikembangkan serta digunakan untuk
metode analisis kadar senyawa untuk kebutuhan harian suatu industri?
JAWABAN
1.
A. Senyawa Zidovudine dalam bulk
Menurut Farmakope Indonesia edisi VI, Penetapan kadar senyawa
Zidovudine dalam bulk dilakukan dengan cara kromatografi cair kinerja tinggi
(KCKT) yang tertera pada lampiran kromatografi <931>. Kondisi analisis Senyawa
Zidovudine menggunakan fase gerak campuran air dan metanol P (80:20) dan
dengan kromatograf cair kinerja tinggi yang telah dilengkapi dengan detektor
265 nm, kolom 4.0 mm x 25 cm berisi bahan pengisi L1 dan kolom pelindung 3,2 mm
x 1,5 cm berisi bahan pengisi L1 yaitu oktadesil silana
terikat secara kimiawi pada partikel mikro silika berpori atau partikel mikro
keramik, dengan diameter 1,5 mm sampai 10 mm, atau batang silika monolitik.. Laju alir lebih kurang 1,0 mL
per menit. Lakukan kromatografi terhadap Larutan baku dan rekam kromatogram,
ukur respons puncak seperti tertera pada Prosedur: waktu retensi relatif
senyawa sejenis C zidovudin (timin), zidovudin dan senyawa sejenis B zidovudin
(3’-kloro-3’-deoksitimidin) masing-masing lebih kurang 0,25: 1,0 dan 1,17;
resolusi R,antara puncak zidovudin dan senyawa sejenis B zidovudintidak kurang
dari 1,4. Faktor ikutan tidak lebih dari 1,5 dan simpangan baku relatif pada
penyuntikan ulang tidak lebih dari 2,0%.
Adapun prosedurnya yaitu Suntikkan secara terpisah sejumlah volume
sama (lebih kurang 10 mL) Larutan baku dan Larutan uji ke dalam kromatograf,
rekam kromatogram dan ukur respons puncak utama. Hitung jumlah dalam mg
zidovudin, C10H13N5O4, dalam zat
yang digunakan dengan rumus:
1000C ![]()
C adalah kadar Zidovudin BPFI dalam mg per mL Larutan baku;
rU dan rS berturut-turut adalah respons
puncak Larutan uji dan Larutan baku.
B. Senyawa Zidovudine dalam tablet
Menurut Farmakope Indonesia edisi VI, Penetapan kadar senyawa
Zidovudine dalam tablet juga dilakukan dengan cara kromatografi cair kinerja
tinggi (KCKT) yang tertera pada lampiran kromatografi <931>. Kondisi
analisis tablet Zidovudine menggunakan fase gerak campuran
3,0
g natrium asetat P dan 1,3 g natrium 1-oktansulfonat P dalam 900 mL air, yang
kemudian ditambahkan 90 mL metanol P dan 40 mL asetonitril P dan pH diatur hingga
5,3 dengan asam asetat glasial P. Sementara kondisi kromatograf cair kinerja
tinggi yang digunakan telah dilengkapi dengan detektor 265 nm dan kolom 4,6 mm
x 15 cm berisi bahan pengisi L1. Laju alir lebih kurang 1,3 mL per menit.
Lakukan kromatografi terhadap Larutan baku dan rekam kromatogram, ukur
respons puncak seperti tertera pada Prosedur: waktu retensi relatif senyawa
sejenis C zidovudin (Timin), zidovudin, dan senyawa sejenis B zidovudin
berturutturut 0,17; 1,0; dan 1,2. resolusi, R, antara puncak zidovudin dan
senyawa sejenis B zidovudin tidak kurang dari 2,5; faktor ikutan puncak
zidovudin tidak lebih dari 2,0 dan simpangan baku relatif pada penyuntikan
ulang tidak lebih dari 2,0%.
Adapun prosedurnya yaitu Suntikkan secara terpisah sejumlah volume
sama (lebih kurang 20 µL) Larutan baku dan Larutan uji ke dalam kromatograf,
ukur respons puncak utama. Hitung jumlah mg zidovudin, C10H13N5O4,
dalam tiap tablet yang digunakan dengan rumus:
12500 ![]()
C adalah kadar Zidovudin BPFI dalam mg per mL Larutan baku;
N adalah jumlah tablet yang digunakan dalam Larutan uji; rU
dan rS berturut-turut adalah respons puncak Larutan uji dan Larutan
baku
2. Zidovudine
dikembangkan metode analisisnya menggunakan FTIR berdasarkan pertimbangan
metode analisisnya yang cepat, sederhana, tepat, akurat dan ekonomis serta
bebas dari gangguan matriks eksipien dibandingkan dengan metode yang mahal,
tepat, dan memakan waktu seperti HPLC yang kebanyakan prosedur pengujian
kuantitatifnya direkomendasikan oleh berbagai farmakope.
3. Senyawa
Zidovudine sehingga dapat dianalisis kadar secara akurat menggunakan FTIR
karena kekhususannya yaitu Zidovudine menunjukkan spektrum inframerah pada
rentang 4000- 500 cm-1 yang diperoleh dengan menggunaikan metode
pelert KBr untuk idenfikasi puncak serapan karakterisktiknya sesuai dengan
getaran regangan dari berbagai kelompok gugus fungsional zidovudine seperti
pada gambar 3 yang disusun dalam tabel 1. Puncak zidovudine yang diperole
paling menonjol dan khas muncul pada 2086,8 cm- 1 . sementara, nilai
absorbansi puncak Zidovudine pada 2086,8
cm-1 dalam campuran standar diperoleh dengan menggunakan teknik
baseline. Absorbansi dihitung dengan mengukur jarak P0 (jumlah cahaya yang
masuk pada sampel) dan P (jumlah cahaya yang ditransmisikan oleh sampel)
seperti yang ditunjukkan pada gambar 2.



4.
Parameter-parameter validasi yang diuji ialah
-
Linearitas : merupakan
kemampuan suatu metode untuk memperole asil-asil uji yang secara langsung
proporsional dengan konsentrasi analit pada kisaran yang diberikan.
-
Akurasi : merupakan
ketelitian metode anlisis atau kedekatan antara nilai terukur dengan nilai yang
diterima baik nilai konvensi, nilai sebenarnya atau nilai rujukan.
-
Presisi : merupakan
ukuran keterulangan metode analisis dan biasanya diekspresiakan sebagai
simpangan baku relatif (RSD) dari sejumlah sampel yang berbeda signifikan
secara statik.
-
Limit of detection (LOD) : merupakan konsentrasi analit terendah
dalam sampel yang masu dapat dideteksi, meskipun tidak dapat selalu
dikuantifikasi. Batas deteksi yag paling umum digunakan dalam kimia analisis
iala bahwa batsa deteksi merupakan kadar anlais yang memberikan respon sebesar
respon blanko (yb) ditambah dengan 3 simpangan baku blanko (3Sb).
-
Limit of quantifi cation (LOQ) : merupakan konsentrasi analit
terenda dalam sampel yang dapat ditentukan dengan presisi dan akurasi dalam
sampel yang dapat diterima pada kondisi operasional metode yang digunakan.
-
Ketahanan: kapasitas metode untuk tetap tidak terpengaruh oleh
adanya variasi parameter metode yang kecil seperyi persentase pelarut organik,
pH, kekuatan ionik, suu dan sebagainya.
Adapun hasil parameter
validasi yang diperoleh yaitu akurasi berkisar dari 1,5–1,7% w / w. Rata-rata
yang sangat baik%. nilai pemulihan (hampir 100%) dan nilai deviasi standarnya
yang rendah (S.D. <2.0) mewakili akurasi. Persentase perolehan rata-rata (%
R.S.D.) untuk 3 konsentrasi yang berbeda ditemukan masing-masing menjadi 97,6,
99,5 dan 100,7. Nilai LOD dan LOQ ditemukan masing-masing 0,070% b / b dan
0,21% b/b. Variasi berat campuran AZT-KBr sebesar ± 2 mg untuk pembuatan pellet
tidak berpengaruh signifikan terhadap absorbansi. Kesesuaian metode yang
diusulkan diuji dengan melakukan uji obat dalam sediaan yang dipasarkan
(tablet). Nilai uji AZT untuk formulasi tablet ditemukan 100,4% dengan standar
deviasi tidak lebih dari 1,30.
5.
Metode FTIR reliable untuk dikembangkan serta digunakan untuk
metode analisis kadar senyawa untuk kebutuhan harian suatu industri karena sederhana,
tepat, akurat dan cepat dan ekonomis untuk penentuan kadar sediaan farmasi
dalam formulasi massal.
DAFTAR
PUSTAKA
Anonim, 2020. Farmakope
Indonesia edisi VI. Jakarta : Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Gandjar, Ibnu Ghalib. 2008. Kimia
Farmasi Analisis. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
R. Bansal , A. Guleria , P. C. Acharya. 2013. FT-IR
Method Development and Validation for Quantitative Estimation of Zidovudine in
Bulk and Tablet Dosage Form. Drug Res. DOI http://dx.doi.org/
10.1055/s-0032-1333297
0 Response to "PENGEMBANGAN VALIDASI METODE ANALISIS "
Post a Comment