PENGEMBANGAN VALIDASI METODE ANALISIS
1. Hal-hal yang
perlu diperhatikan pada pengembangan metode analisis
• =
Tahap karakterisasi analit
Karakterisasi analit dapat
mencakup pengumpulan informasi tentang analit dan sifat fisikokimia meliputi
struktur, toksisitas, kemurnian, higroskopisitas, stabilitas dan cara
penyimpanan
• Tahap
penilaian kebutuhan metode
Kebutuhan metode merupakan
tujuan atau target metode yang akan dikembangkan, diantaranya meliputi batas
deteksi, selektivitas, linieritas, rentang, kecermatan dan keseksamaan. Faktor
yang perlu dipertimbangkan meliputi waktu, biaya dan tenaga, ketersediaan
instrumentasi dan biaya per analisis.
• Tahap
penelusuran pustaka
Penelusuran pustaka yang
berhubungan dengan analisis dan metode analisis yang sesuai, penelusuran ini
dapat dilakukan melalui buku, publikasi ilmiah lainnya, dan dapat juga
dilakukan secara komputerisasi jika mungkin. Penelusuran dapat mencakup data
kompilasi, laporan, hasil catatan, dan publikasi, berkomunikasi dengan sejawat
yang bekerja pada topik yang sama, atau metode yang mungkin dipublikasikan.
• Tahap
memilih metode
Jika mungkin melakukan
adaptasi sehingga lebih efisien, dan/atau dengan memodifikasi metode yang sudah
ada. Adaptasi dapat mencakup kondisi preparasi maupun kondisi instrumentasi.
Jika tidak terdapat metode untuk analit yang sama, maka dapat dipilih analog
senyawa yang sama yang mempunyai sifat yang sama.
• Tahap
penyiapan alat dan studi pendahuluan
Menyiapkan analisis
dengan instrument yang sesuai dengan prosedur operasional baku alat, diusahakan
menggunakan bahan habis pakai dan menggunakan yang baru seperti penyaring dan
pelarut. Analisis dimulai dengan mencoba sesuai dengan kondisi analisis yang
ada pada pustaka. Hasil percobaan pendahuluan selanjutnya dikaji ulang.
• Tahap
optimasi
Proses optimasi
dilakukan jika hasil studi pendahuluan jauh dari yang diharapkan, dalam hal ini
untuk mencari aras-aras yang optimum, dengan mengubah parameter-parameter yang
mempengaruhi analisis sampai diperoleh kondisi yang paling baik. Harus dipastikan
kondisi analisis dapat sesuai untuk pemakaian analit dalam matriks.
• Tahap
unjuk kerja metode dengan larutan baku (uji kesesuaian sistem)
Unjuk kerja dilakukan
dengan metode yang sudah dioptimasi sebelum ke sampel yang sebenarnya. Unjuk
kerja metode diuji dengan larutan baku, meliputi batas deteksi, batas
kuantitasi, linieritas, biaya per analisis, penyiapan sampel. Unjuk kerja
metode KCKT dapat juga dilakukan dengan memastikan homogenitas senyawa pada
puncak dimaksud misalnya dengan detector Photo Diode Array,
spektrofotometri massa, atau spektrofotometri inframerah.
2. Parameter uji
kesesuaian sistem
a. Penentuan
Sistem Presisi
Setelah larutan baku diinjeksikan beberapa kali, simpangan baku relatif (relative
Standard deviation, RSD) respon puncak dapat diukur, baik sebagai tinggi
puncak atau luas puncak. Menurut monograp Farmakope Amerika, selain dinyatakan
lain, sebanyak 5 kali injeksi harus dilakukan jika dinyatakan nilai RSD yang
disyaratkan adalah ≤ 2,0 %; sementara itu jika dinyatakan nilai RSD boleh lebih
besar dari 2,0 %, maka dilakukan 6 kali replikasi injeksi.
B. Resolusi (daya pisah)
Dalam kromatografi gas (GC) dan kromatografi cair kinerja tinggi (HPLC),
resolusi didefinisikan sebagai perbedaan antara waktu retensi 2 puncak yang
saling berdekatan (ΔtR = tR2-tR1)
dibagi dengan rata-rata lebar puncak (W1 + W2)/2 seperti
gambar berikut.
C. Faktor
asimetri (Faktor pengekoran)
D. Efisiensi
Kolom
Ukuran efisiensi kolom adalah jumlah lempeng (plate number, N)
yang didasarkan pada konsep lempeng teoritis pada distilasi
E. Kapasitas
kolom
3. Persyaratan
nilai uji kesesuaian sistem
a. system presisi = RSD ≤ 2%
b. Nilai Rs = mendekati atau lbh 1,5
c. faktor asimetri = jika TF =1 berarti simetris , kalau TF
>1 terjadi pengokoran
4. Mengapa
perlu dilakukan pengembangan metode analisis
- Tidak ada metode analisis yang sesuai
untuk analit tertentu dalam matriks sampel yang khusus
- Metode yang ada mengandung galat dan
pengganggu analisis, shg tidak lagi reliable, dan menampakkan kecermatan
dan keseksamaan yang rendah
- Metode yang ada terlalu mahal,
membutuhkan waktu yang lama, sumber energy yang banyak, dan tidak dapat
diotomatisasikan
- Metode yang ada tidak memberikan
kepekaan dan keselektifan dalam sampel dan matriks yang dimaksud
- Terdapat teknik dan instrument baru
yang membutuhkan pembuktian kinerja metode analisis
- Adanya kebutuhan untuk menggunakan
metode alternative yang teruji kinerjanya
5. Tahapan
pengembangan metode analisis
Tahap I = pengembangan dan perancangan
= a. Menentukan masalah analisis, berkaitan dg apa yang akan dilakukan
(penentuan kualitatif, kuantitatif, / uji batas)
b. Mengumpulkan informasi berkaitan dg masalah analisis di atas
Sampel (analit dan matriks)
Metode analisis yang ada
Instrument yang tersedia
Perlakuan awal
Metode baku
Persyaratan yang telah ditentukan
c. Menyusun kriteria pemilihan metode
Kriteria numerik
Kriteria ekonomis
Kriteria kepraktisan
d. Pemilihan dan disain metode analisis berdasarkan
informasi dan kriteria
tahap II = Design percobaan dan optimasi
6. Mengapa pelu
dilakukan validasi dan verifikasi metode analisis
= Verifikasi
sebuah metode bermaksud untuk membuktikan bahwa laboratorium yang bersangkutan
mampu melakukan pengujian dengan metode tersebut dengan hasil yang valid
- Untuk membuktikan bahwa laboratorium
memiliki data kinerja.
- Hal ini dikarenakan laboratorium yang
berbeda memiliki kondisi dan kompetensi personil serta kemampuan peralatan
yang berbeda, sehingga,
kinerja antara satu laboratorium dengan laboratorium lainnya tidaklah
sama.
7. Parameter
validasi metode (pelajari definisi, cara penentuan dan perhitungan: kecermatan,
keseksamaan, Batas Detesi, Batas Kuantitasi)
= a. Kecermatan
adalah ukuran yang menunjukkan derajat kedekatan hasil analis dengan kadar analit yang sebenarnya.
Kecermatan
dinyatakan sebagai persen perolehan kembali (recovery) analit yang
ditambahkan. Kecermatan hasil analis sangat tergantung kepada sebaran galat
sistematik di dalam keseluruhan tahapan analisis.
Cara penentuan
:
Kecermatan
ditentukan dengan dua cara yaitu metode simulasi (spiked-placebo recovery)
atau metode penambahan baku (standard addition method).
Dalam metode
simulasi, sejumlah analit
bahan murni (senyawa pembanding kimia Certified Reference Material atau
Standard Reference Material) ditambahkan ke dalam campuran bahan pembawa
sediaan farmasi (plasebo) lalu campuran tersebut dianalisis dan hasilnya
dibandingkan dengan kadar
analit yang ditambahkan
(kadar yang sebenarnya).
Dalam metode
penambahan baku, sampel dianalisis lalu sejumlah tertentu analit yang diperiksa
ditambahkan ke dalam sampel dicampur dan dianalisis lagi. Selisih kedua hasil
dibandingkan dengan kadar yang sebenarnya (hasil yang diharapkan).
b. Keseksamaan
adalah ukuran yang menunjukkan derajat kesesuaian antara hasil uji individual,
diukur melalui penyebaran hasil individual dari rata-rata jika prosedur
diterapkan secara berulang pada sampel-sampel yang diambil dari campuran yang
homogen.
Cara penentuan
:
Keseksamaan
diukur sebagai simpangan baku atau simpangan baku relatif (koefisien variasi).
Keseksamaan dapat dinyatakan sebagai keterulangan (repeatability)
atau ketertiruan (reproducibility).
Keterulangan adalah keseksamaan metode jika dilakukan
berulang kali oleh analis yang sama pada kondisi sama dan dalam interval waktu yang pendek. Keterulangan dinilai melalui pelaksanaan
penetapan terpisah lengkap terhadap sampel-sampel identik yang terpisah dari batch
yang sama, jadi memberikan ukuran keseksamaan pada kondisi yang normal.
Ketertiruan
adalah keseksamaan metode jika
dikerjakan pada kondisi yang
berbeda. Biasanya analisis dilakukan dalam laboratorium-laboratorium yang
berbeda menggunakan peralatan, pereaksi, pelarut, dan analis yang berbeda pula.
Analis dilakukan terhadap sampel-sampel yang diduga identik yang dicuplik dari batch
yang sama. Ketertiruan dapat juga dilakukan dalam laboratorium yang sama
dengan menggunakan peralatan, pereaksi, dan analis yang berbeda. Kriteria
seksama diberikan jika metode memberikan simpangan baku relatif atau koefisien
variasi 2% atau kurang.
c. Batas deteksi
adalah jumlah terkecil analit
dalam sampel yang dapat
dideteksi yang masih memberikan respon signifikan dibandingkan dengan blangko.
Batas deteksi merupakan parameter uji batas.
Batas kuantitasi
merupakan parameter pada analisis renik dan diartikan sebagai kuantitas terkecil analit dalam sampel yang masih dapat memenuhi kriteria
cermat dan seksama.
Cara penentuan
:
Penentuan batas
deteksi suatu metode berbeda-beda tergantung pada metode analisis itu
menggunakan instrumen atau tidak. Pada analisis yang tidak menggunakan
instrumen batas tersebut ditentukan dengan mendeteksi analit dalam sampel pada
pengenceran bertingkat.
Pada analisis
instrumen batas deteksi dapat dihitung dengan mengukur respon blangko beberapa
kali lalu dihitung simpangan baku respon blangko dan formula di bawah ini dapat digunakan untuk perhitungan :
Q = k x Sb/ Sl
Q = LOD (batas
deteksi) atau LOQ (batas kuantitasi)
k = 3 untuk batas
deteksi atau 10 untuk batas kuantitasi
Sb = simpangan
baku respon analitik dari
blangko
Sl = arah garis linear (kepekaan arah) dari kurva
antara respon terhadap
konsentrasi = slope (b pada
persamaan garis y = a+bx)
0 Response to "PENGEMBANGAN VALIDASI METODE ANALISIS"
Post a Comment