FARMAKOTERAPI : ANTIHIPERTENSI, ANTI ANGINA, ANTI ULKUS DAN ANTIHIPERLIPIDEMIA

Berikut merupakan rangkuman materi farmakoterai antihipertensi, antiangina, antiulkus dan antihiperlipidemia. Berikut penjelasannya :

ANTIHIPERTESI

    Hipertensi (Tekanan darah tinggi) adalah keadaan dengan tekanan darah sistolik berkelanjutan lebih besar dari 140 mmHg atau tekanan darah diastolik berkelanjutan lebih besar dari 90 mmHg. Hipertensi terjadi akibat dari peningkatan tonus otot polos arteriolar vaskular perifer, yang mengarah pada peningkatan resistensi arteriolar dan berkurangnya kapasitansi sistem vena. Hipertensi merupakan kelainan umum yang sering menyerang orang dewasa. Meskipun banyak pasien tidak memiliki gejala, hipertensi kronis dapat menyebabkan penyakit jantung dan stroke menjadi dua penyebab utama kematian di dunia. Hipertensi juga merupakan faktor risiko penting dalam perkembangan penyakit ginjal kronis dan gagal jantung (Whalen, K. 2015). Adapun klasifikasi hipertensi berdasarkan tingginya tekanan darah pada penderita usia 18 tahun ke atas dapat dilihat pada tabel 1.

https://juwitawhiwi22.blogspot.com/2020/08/rangkuman-4-materi-farmakologi.html
Gambar 1. Klasifikasi Tekanan Darah
(Ganiswara, S.G., 2000)
    Makin tinggi tekanan darah, makin besar risiko untuk mengalami konflikasi pada yang fatal dan nonfatal. Risiko komplikasi pada setiap tingkat hipertensi dapat meningkat menjadi beberapa kali lipat bila telah terdapat kerusakan organ sasaran misalnya hipertrofi ventrikel kiri, serangan iskemia selintas, gangguan fungsi ginjal atau pendarahan retina. Berdasarkan etiologinya, hipertensi dibagi menjadi dua
yaitu :

1. Hipertensi esensial

    Hipertensi esensial juga disebut hipertensi primer atau idiopatik, adalah hipertensiyang tidak jelas etiologinya. Lebih dari 90% kasus hipertensi termasuk dalam kelompok ini. Kelainan hemodinamik utama pada hipertensi esensial adalah peningkatan resistensi perifer. Penyebab hipertensi esensial adalah multifaktor, terdiri dari laktor genetik dan lingkungan. Faktor keturunan bersifat poligenik dan terlihat dari adanya riwayat penyakit kardiovaskular dalam keluarga. Faktor predisposisi genetik ini dapat berupa sensitivitas terhadap natrium, kepekaan terhadap stres, peningkAtan reaktivitas vaskular (terhadap vasokonstriktor), dan resistensi insulin, Paling sedikit ada 3 faktor lingkungan yang dapat menyebabkan hipertensi, yakni makan garam (natrium) berlebihan, stres psikis, dan obesitas.

2. Hipertensi sekunder

    Prevalensi hipertensi sekunder ini hanya sekitar 5-8% dari seluruh penderita hipertensi. Hipertensi sekunder dapat disebabkan oleh penyakit ginjal (hipertensi renal), penyakit endokrin (hipertensi endokrin), obat, dan lain-lain (Ganiswara, S.G., 2000). Tujuan pengobatan hipertensi adalah untuk mencegah terjadinya morbiditas dan mortalitas akibat tekanan darah tinggi sehingga tekanan darah harus diturunkan serendah mungkin yang tidak mengganggu fungsi ginjal otak, jantung maupun kualitas hidup, sambil dilakukan pengendalian faktor-laktor risiko kardiovaskular lainnya. Telah terbukti bahwa makin rendah tekanan darah diastolik dan sistolik, makin baik prognosisnya. Pada umumnya, sasaran tekanan darah pada penderita muda adalah <140/90 mm Hg (sampai 130/85 mmHg), sedangkan pada penderita usia lanjut sampai umur 80 tahun <160/90 mmHg (sampai 145 mmHg sistolik bila dapat ditoleransi) (Ganiswara, S.G., 2000).

    Prinsip pengobatan hipertensi untuk menurunkan tekanan darah serendah mungkin yang tidak mengganggu fungsi ginjal, otak, jantung dan kualitas hidup dapat dilakukan dengan modifikasi pola hidup (terapi non-farmakologi) maupun terapi farmakologi.

        A. Modifikasi pola hidup (terapi non-farmakologi)

             Modifikasi pola hidup (terapi non-farmakologi) berguna untuk menurunkan tekanan darah pada penderita dan meningkatkan efek antihipertensi, mencegah peningkatan tekanan darah pada yang normal tinggi serta mengurangi risiko kardiovaskular secara keseluruhan. Modifikasi pola hidup dilakukan dengan cara:
1.   Turunkan BB;
2.   Kurangi garam;
3.   Diet kolesterol: mengurangi risiko aterosklerosis, perbanyak serat nabati;
4. Berhenti merokok, minum kopi (kofein mengkonstriksi pembuluh darah), alkohol (meningkatkan tensi diastole);
5.   Cukup istirahat, tidur, latihan relaksasi mental (yoga, chi kung) dan mengurangi stres;
6.  Gerak badan (meningkatkan aktivitas parasimpatis/vasodilatasi dibanding sistem simpatis): 3x/minggu jalan (agak) cepat.

        B. Terapi farmakologi

             Pengobatan dengan antihipertensi harus selalu dimulai dengan dosis rendah agar tekanan darah tidak menurun terlalu drastis dengan mendadak. Kemudian setiap 2 minggu dosis dinaikkan sampai tercapai efek yang diinginkan. Begitu pula penghentian terapi harus secara berangsur pula untuk mencegah bahaya meningkatnya tekanan darah dengan kuat (rebound effect). Antihipertensi hanya menghilangkan gejala tekanan darah tinggi dan tidak penyebabnya. Maka obat pada hakikatnya harus diminum seumur hidup, tetapi setelah beberapa waktu dosis pemeliharaan pada umumnya dapat diturunkan. Untuk penanganan hipertensi, WHO menganjurkan 5 kelompok obat dengan daya hipotensif dan efektivitas kurang lebih sama, yaitu: diuretic tiazid, penghambat beta, antagonis kalsium, ACE-inhibitor dan AT II-receptor blockers. Terapi kombinasi ternyata sangat efektif karena dapat menurunkan dosis masing-masing obat dan meningkatkan kepatuhan bila satu sediaan obat mengandung kombinasi 2-3 obat yang harus diminum satu kali sehari. Dianjurkan untuk langsung dimulai dengan 2 kombinasi obat pada penderita dengan tekanan darah lebih tinggi dari 140/90 mmHg. Pilihan obat hipertensi dengan gangguan lain dan beberapa kombinasi yang dianjurkan:
a. Anti-hipertensi tunggal atau kombinasinya dimulai dari pilihan pertama diuretic atau β-blockers, atau kombinasinya. Pilihan kedua adalah ACE inhibitors
b. Hipertensi dengan diabetes tipe 2: kombinasi di atas dapat mencetuskan resistensi insulin dalam hal ini sebaiknya digunakan suatu penghambat ACE atau β-blockers selektif, bila terdapat Kontra Indikasi (KI) : baru pakai α- blockers dan antagonis-Ca long acting.
c. Hipertensi dengan gagal jantung: diuretika, β-blockers atau ACE-inhibitor.
d. Hipertensi dengan angina pectoris: β-blockers atau antagonis-Ca
e. Hipertensi dengan etinopati diabetis: ACE-inhibitor atau ATII-receptor blockers.
f. Hipertensi setelah infark jantung: β-blockers atau ACE-inhibitor.
g. Krisis hipertensi adalah kondisi yang bercirikan kenaikan mendadak tensi dengan gejala ensefalopati akut (sakit kepala hebat, gangguan kesadaran, serangan epilepsi). Pengobatan dilakukan dengan injeksi intravena nifedipin, enalapril, labetalol, fentolamin (α-blocker), dan ketanserin dan (5HT2blocker). (Indijah, Sujati W. dan Fajri, Purnama. 2016)
https://juwitawhiwi22.blogspot.com/2020/08/rangkuman-4-materi-farmakologi.html
Gambar 1. Tempat kerja Antihipertensi (Katzung, 2018)

    Obat-obat yang digunakan dalam terapi hipertensi dapat digolongkan dalam beberapa kelompok yaitu :
1) Diuretik, yang menurunkan tekanan darah dengan menipiskan tubuh natrium dan mengurangi volume darah dan mungkin dengan mekanisme lain.
2) Agen simpatis, yang menurunkan tekanan darah dengan mengurangi resistensi pembuluh darah perifer, menghambat fungsi jantung, dan meningkatkan penumpukan vena dalam pembuluh kapasitansi. (Dua efek terakhir mengurangi curah jantung.) Agen-agen ini dibagi lagi menurut situs tindakan mereka dalam busur refleks simpatis (lihat di bawah).
3) Vasodilator langsung, yang mengurangi tekanan dengan melemaskan otot polos pembuluh darah, sehingga melebarkan pembuluh resistensi dan hingga derajat yang berbeda meningkatkan kapasitansi juga.
4) Agen yang menghambat produksi atau aksi angiotensin dan dengan demikian mengurangi resistensi pembuluh darah perifer dan (berpotensi) volume darah. (Katzung, 2018).

https://juwitawhiwi22.blogspot.com/2020/08/rangkuman-4-materi-farmakologi.html
Tabel 2. Ringkasan Profil Obat Antihipertensi (Indijah, Sujati W. dan Fajri, Purnama. 2016)

ANTI ANGINA

    Angina pektoris merupakan gejala utama penyakit jantung iskemik berupa rasa nyeri hebat didalam dada (retrosternal) yang menjalar ke lengan kiri, leher, atau ranhang yang disebabkan oleh kerja fisik, ketegangan mental, hawa dingin, atau pada waktu makan. Nyeri angina dapat terjadi bila aliran darah koroner tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolik jantung. Rasa nyeri di dada dapat dikurangi atau dihilangkan dengan obat yang memperbaiki perfusi darah ke miokardiak atau yang mengurangi kebutuhan metabolik jantung atau obat yang bekerja dengan kedua cara ini. Gejala angina pektoris timbul ketika suatu ketidakseimbangan akut antara kebutuhan oksigen miokardiak dan jumlah oksigen yang ada untuk keperluan tersebut terjadi. Hal ini terjadi ketika terdapat peningkatan oksigen yan tiba-tiba pada suatu jantung iskemik yang kronis atau ketika terdapat spasme dari suatu arteri korener. Selain itu, terdapat angina tak stabil yang biasanya disebabkan oleh ruptur suatu plak ateromatous dalam suatu arteri koroner yang selanjutnya bisa berkembang menjadi serangan infrak miokard (Staf Pengajar Dapartemen Farmakologi FK Universitas Sriwijaya, 2008).

    Penanganan angina pektoris harus dilakukan dengan segera dan meliputi pemberian obat-obatan, menghilangkan faktor predisposisi dan pencetus, dan sebagainya. Tujuan pengobatan angina stabil adalah mengembalikan aliran darah koroner fisiologis pada jaringan jantung iskemik dan/atau rnengurangi kebutuhan oksigen otot iantung, sedangkan pengobatan angina varian (Prinzmetal) ditujukan untuk mengurangi spasme koroner. Sampai sekarang penggunaan obat-obat masih merupakan cara terpenting dalam penanggulangan angina pektoris. Pemberian obat antiangina bertujuan untuk: (1) mengatasi atau mencegah serangan akut angina pektoris; dan (2) pencegahan jangka panjang serangan angina. Tujuan ini dapat dicapai dengan mengembalikan imbangan dan mencegah terjadinya ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen miokard, dengan cara meningkatkan suplai oksigen (meningkatkan aliran darah koroner) kebagian miokard yang iskemik dan/atau mengurangi kebutuhan oksigen iantung (mengurangi kerja jantung) (Ganiswara, S.G., 2000).

    Obat-obat yang digunakan pada pengobatan angina diantaranya ialah nitrat organik, antagonis kalsium, dan β-bloker. Nitrat oragnik dan antagonis kalsium bekerja sebagai vasodilator yang meningkatkan aliran darah koroner dan mengurangi kebutuhan oksigen miokard, sedangkan β-blokerhanya mengurangi kebutuhan oksigen miokard (Staf Pengajar Dapartemen Farmakologi Fakultas
Kedokteran Universitas Sriwijaya, 2008).

        A. Nitrat Organik

           Nitrat organik adalah ester alkohol polivalen dengan asam nitrat, sedangkan nitrit organik adalah ester asam nitrit. Ester nitrat (-C-O-NO2) dan nitrit (-C-O-NO) berbeda dengan senyawa nitro (C-NO2). Sehingga nama nitrogliserin adalah salah untuk senyawa gliseril trinitrat tetapi nama ini telah diterima secara luas dan resmi. Meknisme kerja nitrat organik melalui pembentukan radikal bebas nitrogen oksida (NO) menstimulasi guanilat siklase sehingga kadar siklik-GMP dalam sel otot polos meningkat. Selanjutnya siklik-GMP menyebabkan defosforilasi miosin sehingga terjadi relaksasi otot polos. Nitrovasodilator juga dapat menimbulkan relaksasi pada hampir semua otot polos, misalnya bronkhus, saluran empedu, dan saluran cerna. Namun, karena efeknya hanya selintas, maka tidak digunakan dalam klinik (Ganiswara, S.G., 2000).
https://juwitawhiwi22.blogspot.com/2020/08/rangkuman-4-materi-farmakologi.html
Gambar 2. Mekanisme kerja nitrat, nitrit, dan zat lain yang meningkatkan konsentrasi oksida nitrat (NO) dalam sel otot polos pembuluh darah. Langkah-langkah menuju relaksasi ditunjukkan dengan panah biru. MLCK*, diaktifkan myosin light-chain kinase. Nitrosothiols (SNOs) tampaknya memiliki efek non-cGMP-dependent pada saluran kalium dan Ca2 +  ATPase. eNOS, nitrat oksida sintase endotel; GC*, guanylyl cyclase yang diaktifkan; mtALDH2, mitokondria aldehida dehidrogenase-2; PDE, fosfodiesterase; ROCK, Rho kinase (Katzung, 2008).


        Nitrat organik mengalami denitrasi oleh enzim glutation-nitrat organik reduktase dalam hati. Metabolit yang terjadi bersifat lebih larut dalam air dan efek vasodilatasinya lebih lemah atau hilang. Karena kelarutan dalam lemak yang baik dan metabolisme yang cepat, maka bioavailabilitas dan lama kerja nitrat organik terutama ditentukan oleh biotransformasinya. Eritritil tetranitrat mengalami degradasi 3 kali lebih cepat daripada nitrogliserin, sedangkan isosorbid dinitrat dan pentaeritritol tetranitrat mengalami denitrasi 1/6 dan 1/1 0 kali nitrogliserin. Kadar puncak nitrogliserin terjadi dalam 4 menit setelah pemberian sublingual dengan waktu paruh 1-3 menit. Metabolitnya berefek vasodilatasi 10 kali lebih lemah, tetapi waktu paruhnya lebih panjang, yaitu kira-kira 40 menit. Pada pemberian isosorbid dinitrat sublingual, kadar maksimal dalam plasma lercapai dalam 6 menit, dan waktu paruhnya 45 menit. Metabolitnya, isosorbid-2-mononitrat dan isosorbid- 5mononitrat mempunyai waktu paruh yang lebih panjang (2-5 jam) dan diduga ikut menentukan efek terapi isosorbid dinitrat. Pada pemberian oral, sebagian besar/hampir seluruh dosis dimetabolisme di hati pada lintasan pertama sehingga bioavailabilitas oral obat-obat ini rendah, misalnya bioavailabilitas oral isosorbid dinitrat 22% dan nitrogliserin 'l %. Ekskresi terutama dalam bentuk glukuronid dari metabolit denitrat, sebagian besar melalui ginjal (Ganiswara, S.G., 2000).

            B. Antagonis Kalsium

              Penghambat kanal Ca2+ (Calcium channel blocker, CCB) adalah sekelompok obat yang bekerja dengan menghambat masuknya ion Ca2+ melewati slow channel yang terdapat pada membran sel (sarkolema). Obat ini pertama kali dilaporkan mempunyai elek kronotropik dan inotropik negatit oleh Hass & Hartfelder (1962), yang terjadi karena terhambatnya arus masuk ion Ca2+ ke dalam sel jantung. Nama lain yang biasa dipakai untuk golongan obat ini adalah calgium anlagonisf atau calcium entry blocker (Ganiswara, S.G., 2008).
                 Berdasarkan struktur kimianya, CCB dapat dibedakan atas 5 golongan :
1. Dihidropiridin (DHP) : nifedipin, nikardipin, lelodipin, amlodipin, dll.
2. Difenilalkilamin : verapamil, galopamil, tiapamil, dll.
3. Benzotiazepin : diltiazem,
4. Piperazin : sinarizin, flunarizin, dll.
5. Lain-lain : prenilamin, perheksilin, dll.

       Golongan 1, 2 dan 3 menghambat secara selektif kanal Ca2+ (90-100%), sedangkan kelompok lainnya menghambat kanal Ca2+ (50-70%) dan kanal Na+Mekanisme kerja antagonis kalsium terjadi pada otot jantung dan otot polos vaskuler, ion Ca" terutama berperan dalam peristiwa kontraksi. Meningkatnya kadar ion Ca2* dalam sitosol akan meningkatkan kontraksi. Masuknya ion Ca2+ dari ruang ekstrasel (2mM) ke dalam ruang intrasel dipacu oleh perbedaan kadar (kadar Ca2+ ekstrasel 10.000 kali lebih tinggi daripada kadar Ca2+ intrasel sewaktu diastole) dan karena ruang intrasel bermuatan negatif. Pada otot jantung mamalia, masuknya ion Ca2+ meningkatkan kadar Ca2+ sitosol dan mencetuskan penglepasan ion Ca2+ dalam jumlah cukup banyak dari depot intrasel (retikulum sarkoplasmik) sehingga aparat kontraktil (sarkomer) bekerja. Masuknya ion Ca2+ terutama berlangsung lewat slow channel. Slow channel berbeda dengan fast Na channel yang melewatkan ion Na+ dari ruang ekstrasel menuju ruang intrasel dan dihambat oleh tetrodotoksin. Kanal Ca2+ tidak dihambat oleh tetrodotoksin (Ganiswara, S.G., 2008).
https://juwitawhiwi22.blogspot.com/2020/08/rangkuman-4-materi-farmakologi.html
Gambar 3. Kontraksi otot polos dan tempat kerja obat penghambat saluran kalsium (katzung, 2018)
       

         C. β-Bloker

          Î²-bloker efeklif untuk pengobatan angina stabil kronik karena (1) mengurangi kebutuhan oksigen miokard dengan cara mengurangi frekuensi denyut jantung, kontraktilitas miokard dan tekanan darah (beban hilir) melalui penghambatan adrenoseptor-P di jantung, sewaktu kerja fisik; (2) meningkatkan suplai oksigen miokard dengan cara mengurangi tegangan dinding ventrikel selama sistole (beban hilir), serta memperlambat denyut jantung (waktu diastole memanjang) sehingga perfusi subendokard meningkat (Ganiswara, S.G., 2008).
         Kebanyakan antagonis β -adrenoseptor diserap dengan baik setelah pemberian oral, tetapi banyak yang menjalani metabolisme hepatic first passdengan demikian, bioavailabilitas oral dari antagonis β-adrenoceptor terbatas pada derajat yang bervariasi. Rata-rata bioavailabilitas propranolol oral rata-rata sekitar 25% -30%, tetapi terkait dengan dosis dan tergantung pada variasi yang cukup besar diantara bioavailabilitas metoprolol (50%) juga dibatasi oleh metabolisme metabolisme pertama. Penghapusan propranolol dan metoprolol dapat menurun dengan adanya penyakit hati atau usia lanjut. Nadolol dan atenolol bersifat hidrofilik dan tidak terserap secara sempurna setelah pemberian oral. Ketersediaan hayati nadolol (~35%) dan atenolol (~40%) sedikit dipengaruhi oleh metabolisme hati dan kedua obat tersebut diekskresikan pada dasarnya tidak berubah dalam urin. Obat-obatan ini menunjukkan lebih sedikit variasi antar pasien dalam kadar plasma dibandingkan propranolol dan metoprolol, tetapi eliminasi mereka dapat dikurangi dengan penyakit ginjal. Waktu paruh berkisar dari sekitar 4 jam untuk propranolol dan metoprolol, hingga 8 jam untuk atenolol, dan sampai 24 jam untuk nadolol. Bentuk sediaan oral rilis diperpanjang tersedia untuk propranolol dan metoprolol. Propranolol, metoprolol, dan atenolol juga dapat diberikan melalui injeksi intravena. Efek dinamis pharmaco dari antagonis b-adrenoceptor sering kali melampaui waktu yang diprediksi oleh waktu paruh mereka (O’Rourke, Stephen T. 2007).

ANTI ULKUS

    Lambung merupakan bagian yang paling lebar dari salura pencernaan, mulai dari esophagus sampai duodenum dan berfungsi sebagai tempat penampungan makanan untuk dicerna menjadi “ichyme” dan mengatur pengaliran hasil cerna itu ke usus kecil (Widjaja, I. H., 2008). Didalam lambung, terdapat mukus dan bikarbonat yang distimulasi oleh produksi prostaglandin lokal untuk melindungi mukosa lambung, jika perlindungan tersembut terganggu, maka ulser gastrik dapat terjadi. Pengobatan dan pencegahan dari penyakit terkait keasaman lambung atau dengan menurunkan tingkat keasaman lambung atau dengan meningkatkan proteksi mukosa (Bruton, L. 2010).
    Ulkus peptikum merupakan kerusakan jaringan mukosa, submukosa sampai lapisan otot pada segmen saluran cerna yang berkaitan langsung dengan cairan lambung. Faktor patogenisi ulkus peptikum ada tiga yaitu :
1. Faktor asam dan pepsin, bila produksi HCl berlebihan
2. Faktor ketahana mukosa akibat gangguan keseimbangan faktor agresi (merusak): Faktor defensif
3. Fakror infeksi dengan Helicobacter pylori 
                                               (Staf Pengajar Dapartemen Farmakologi FK Universitas Sriwijaya, 2008).
        
    Salah satu agen penginfeksi yang memainkan peran utama dalam pogenisi penyakit asam peptik adalah Helicobacter pylori dengan melekat pada epitel lambung dan merusak lapisan mukosa perlindungan dan meninggalkan daerahdaerah epitel yang rusah (Mc. Guigan, 2001). Infeksi Helicobacter pylori yang predominan di antrum akan meningkatkan sekresi asam lambung dengan konsekuensi terjadi tukak duodenum yang akan menstimulasi sekresi gastrin yang kemudian merangsang sel pariental untuk meningkatkan sekresi asam lambung (Rani, 2006).
    Tujuan pengobatan ulkus peptikum ialah untuk menghilangkan rasa nyeri dan menyembuhkan ulkus, mencegah kambuhnya ulkus dan mencegah terjadinya kompilkias. Prinsip dasar pengobtan ulkus peptikum yaitu:

    A. Penekanan faktor-faktor agresif (terutaman HCl dan pepsin)

         Penekan tersebut dilakukan dengan menertralkan asam lambung dengan antasid dan menekan atau menghambat sekresi asam lambung dengan obat-obat antisekresi, termasuk H2 bloker yaitu semitidin, ranitidin, dan nizatidin, muskarinik loker yaitu pirenzepin dan penghambat pompa proton (H+/K + ATPase) yaitu omeprazol.

    B. Memperkuat faktor-faktor defensif mukosa lambung-duodenun dengan obat-obat sitoprotektif yaitu PEG2, setraksat, sulkralfat dan koloidal Bismut Subsitrat (KBS). Obat-obat ini bekerja dengan memperbaiki mukosa lambung, meningkatkan produksi PG, Mukus dan bikarbonat dan pemberian antibiotika bila penyebabnya Helicobacter pylori.

(Staf Pengajar Dapartemen Farmakologi FK Universitas Sriwijaya, 2008).


ANTI HIPERLIPIDEMIA

    Hiperlipidemia (hiperkolesterolemia) merupakan penyebab utama aterosklerosis dan penyakit terkait aterosklerosis lainnya, seperti penyakit jantung koroner (coronary lteart disease, CHD), penyakit serebrovaskular iskemia, dan penyakit pembuluh perifer (Bruton, L. 2010). Hiperlipidemia merupakan peningkatan kadar kolesterol dan/atau trigliserida. Hiperkolesterolemia banyak ditemukan ≥ 60% populasi di Inggris memiliki kadar
kolesterol total > 5,2 mmol/L dan 3% dari populasi memiliki kadar kolesterol total 7,5 mmol/L (Davey, Patrick. 2003).
https://juwitawhiwi22.blogspot.com/2020/08/rangkuman-4-materi-farmakologi.html
 Tabel 3. Komposisi dan fungsi lipoprotein dan apoprotein

        Kolesterol dan trigkiserida didalam aliran darah membentuk kompleks bersama dengan fosfolipid dan protein (apoprotein) dalam partikel yang disebut lipoprotein. Apoprotein berperan sebagai molekul atau enzim peberi sinyal dan memegang peranan penting dalam mengendalingan transpor lipid. Terdapat beberapa golongan lipoprotein yang mentranspor lipid antar jaringan yang berbeda dan mempunyai komposisi lipid dan apoprotein yang khas. Sehingga pada prinsipnya kolesterol dimetabolisme di hati. Kadar kolesterol dalam darah dikendalikan oleh keseimbangan antara ambilan (uptake) dalam darah, produksi kolesterol (aktivitas jalur biosintesis kolesterol) dan ekskresi dari saluran pencernaan (asam empedu) (Davey, Patrick. 2003). Klasifikasi hiperlipidemia menurut penyebabnya yaitu :

1. Hiperlipidemia primer

    Hiperlipidemia primer merupakan hiperlipidemia yang disebabkan oleh kelainan genetik yang biasanya tidak memberikan gejala/keluhan (kecuali pada keadaan berat ditemukan adanya xantoma). Kelian ini muncul secara kebetulan pad waktu pemeriksaan laboratorium, misalnya pada waktu check up (Staf Pengajar Dapartemen Farmakologi FK Universitas Sriwijaya, 2008)..

2. Hiperlipidemia sekunder

    Hiperlipidimia sekunder adalah peningkatan kadar lipid darah yang disebabkan oleh penyakit tertentu, misalnya diabeters melitus, gangguan tiroid, insufisiensi ginjal menahun, obesitas, penyakit hati atau akbiat pengobat dengna misalnya horman (obat-obat KB), kortikosteroida diuretika tiazida dan beta bloker (Tjay, Tan H. & Rahardja, K. 2007).
https://juwitawhiwi22.blogspot.com/2020/08/rangkuman-4-materi-farmakologi.html
Tabel 4. Jenis hiperlipidemia menurut Fredrickson (WHO) dan terapinya (Tjay, Tan H. & Rahardja, K. 2007).

    Dalam menurunkan lipid dan memodifikasi faktor resiko hiperlipidemia dapat ditanggulangi dengan cara sebagai berikut.
a. Menurunkan lipid dengan diet : mengurangi asupan lemak terutama makanan kolesteol tinggi (daging merah, telur, makan yang mengandung lemak tinggi, dan produk susu) akan menurunkan kolesterol sebesar 1 mmol/L dan menurunkan berat badan. Namun, diet tidak cukup untuk pasien dengan kadar kolesterol tinggi dan penyakit jantung koroner.
b. Obat penurun kadar lipid : pedoman terbaru merekomendasikan pemberian obat penurun lipid pada pasien denhan atau yang memiliki risiko , penyakit jantung koroner dengan kadar kolesterol tota; tetap > 4,8 mmol/L walau telah diet.
c. Sekuestran asam empedu (resin) misalnya kolestiramin. Obat golongan ini merupakan kolesterol dengan mengikat kolesterol pada saluran cerna, memotong sirkulasi enterohepatik, sehingga meningkatkan ekskresi kolesterol. Rasanya tidak enak dan bisa terjadi efek samping gastrointestinal yang tidak bisa ditolerir. Pengguanaan bisa efektif dan tetap bermanfaat pada hiperkolesterolemia familial.
d. Inhibitor HMG-KoA reduktase “statin”. Misalnya simvastatin,prastatin. Golongan ini merupakan obat poten yang menghambat hidrosimetilglutarilkoenzim (HMG-KoA) reduktase, yaitu membatasi kecepatan biosintesis kolesterol. Enzim ini meningkatkan ambilan kolesterol hati karena penurunan biosintesis kolesterol intraselular akan meningjatkan ekspresi reseptor LDL dipermukaan sel. Karenanya, obat ini kurang efisien bagi pasien hiperkolesterolemia familial. Satatin secara khas menurunkan kolesterol LDL 30% atau lebih dan bisa sedikit meningkatkan kolesterol HDL yang efeknya terhadap trigliserida plasma relatif kecil.
e. Derifat asam fibrat misalnya bezafibrat, fenofibrat, gemfibrozil. Obat golongan ini hanya menyebabkan penurunan sedang dari kadar kolesterol, namun sekaligus menunrunkan trigliserida dan meningkatkan kolesterol HDL. Mekanisme kerjanya kompleks tetatapi melibatkan stimulasi aktivitas lipoprotein lipase (meningkatkan katabolisme kilomikron dan VLDL dan meningkatkan ekskresi kolesterol melalui asam emperdu. Lebih bermanfaat bagi pasien dengan hiperlipidemia campuran dan/atau HDL rendah. 
(Davey, Patrick. 2003).


DAFTAR PUSTAKA

Bruton, L., Blunmental, D., Parker, K., dan Buxton., I. 2010. Goodman & Gilman Manual Farmakologi dan Terapi. Jakarta: ECG.

Davey, Patrick. 2003. Medice at a Glance. Editor Amalia Safitri. Jakarta: Penerbit Erlangga

Ganiswara, S.G. 2000. Farmakologi dan Terapi, Edisi IV. Bagian Farmakologi FKUI, Jakarta.

Hastings, R. C., & Long, G. W. (1996). Goodman and Gilman's the pharmacological basis of therapeutics. JAMA, 276 (12), 999-1000.

Indijah, Sujati W. dan Fajri, Purnama. 2016. Farmakologi. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Katzung, Bertram G. 2018. Basic & Clinical Pharmacology. Ed. 14th. New York: Mc Graw Hill. McGuigan JE. 2001. Ulkus Peptikum dan Gastritis, Dalam Isselbacher KJ, Braunwald E, Wilson JD, Martin JB, Fauci AS, Kasper DL. Prinsip Prinsip Ilmu Penyakit Dalam, (Edisi kedua). Jakarta: EGC.

O’Rourke, Stephen T. 2007. Teacher’s Topic: Antianginal Actions of BetaAdrenoceptor antagonists. American Joural of Pharmaceutical Education. Vol : 71 (5) Article 95.

Rani, A. A., & Fauzi, A. 2006. Infeksi Helicobacter pylori dan Penyakit Gastro-duodenal. In A. W. Sudoyo, B. Setiyohadi, I. Alwi, M. S. K., & S. Setiati (Eds.), Ilmu Penyakit Dalam Jilid I (IV, 329 331). Jakarta: FKUI.

Staf Pengajar Dapartemen Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya. 2008. Kumpulan Kuliah Farmakologi. Ed. 2. Jakarta : EGC.

Tjay, Tan H. & Rahardja, K. 2007. Obat-Obat Penting Khasiat, Pengguanaan dan efek-efek sampingnya. Ed.6. Jakarta: Gramedia.

Whalen, Karen. 2015. Lippincott Illustrated Reviews: Pharmacology. Ed. 6th. Editor: Richard Finkel, Thomas A. Panavelil. China London : Wolters Kluwer.

Widjaja, I. Harjadi. 2008. Anatomi Abdomen. Jakarta : ECG.

0 Response to "FARMAKOTERAPI : ANTIHIPERTENSI, ANTI ANGINA, ANTI ULKUS DAN ANTIHIPERLIPIDEMIA"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel