ANALISIS MAKANAN MINUMAN DAN PERBEKALAN FARMASI
Tuesday, August 11, 2020
Add Comment
MAKALAH
REVIEW JURNAL ANALISIS MAKANAN MINUMAN DAN PERBEKALAN FARMASI
“ANALISIS KANDUNGAN VITAMIN C BAHAN MAKANAN DAN MINUMAN
DENGAN MENGGUNAKAN METODE IODIMETRI”
BAB I
PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Vitamin merupakan nutrien organik yang butuhkan dalam jumlah kecil untuk berbagai fungsi biokimia. Vitamin tidak dapat disintesis oleh tubuh sehingga vitamin diperoleh dari makanan. Vitamin sangatlah banyak jenisnya, yang dibedakan menjadi vitamin larut dalam air dan vitamin yang larut dalam lemak (Triana, V. 2006). Salah satu vitamin yang terkenal karena sumbernya melimpah baik alami maupun buatan yaitu vitamin C.
Sumber vitamin C dapat berupa buah-buahan, sayur-sayuran, ikan dan beberapa produk olahan lainnya yang kandungan vitaminnya berbeda-beda (Harefa, N., dkk. 2020). Selain dari sumbernya, kadar vitamin C sangat dipengaruhi oleh perlakuan yang diberikan seperti lamanya waktu penyimpanan sumber vitamin C, semakin lama bahan sumber vitamin C disimpan maka kadar vitamin C dalam bahan tersebut akan semakin menurun. Kandungan vitamin C dari bahan makanan maupun minuman yang menjadi sumber vitamin C perlu diketahui masyarakat sehingga masyarakat dapat memprediksi kebutuhannya akan vitamin C. Oleh sebab itu, Analisis diperlukan baik secara konvensional maupun secara modern.
I.2 Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan makalah ini yaitu masyarakat dapat mengetahui kadar vitamin C yang terkandung pada bahan makan yang biasa dikomsumsi masyarakat sehari-hari.
I.3 Rumusan Masalah
| Adapun rumusan masalah dari makalah ini adalah : |
2. Berapa kadar vitamin C diperlukan bagi tubuh ?
3. Bagaimana cara menganalisis kadar Vitamin C ?
I.4 Manfaat Penulisan
Manfaat penulisan makalah ini yaitu masyarakat dapat mengetahui kadar vitamin C yang terkandung pada bahan makan yang biasa dikomsumsi masyarakat sehari-hari. Selain, itu dapat juga diketahui manfaat vitamin C dan cara menganalis kadar vitamin C yang terkandung pada sumber makanan dan minuman.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA DAN PEMBAHASAN
II.1 Tinjauan Pustaka
II.1.1 Vitamin C
Vitamin merupakan nutrien organik yang butuhkan dalam jumlah kecil untuk berbagai fungsi biokimia. Vitamin tidak dapat disintesis oleh tubuh sehingga vitamin diperoleh dari makanan. Vitamin dikelompokkan menjadi vitamin larut dalam air (Vitamin B dan C) dan larut dalam lemak (Vitamin A,D,E, dan K) (Triana, V. 2006).
Vitamin berdasarkan sumbernya, dibagi menjadi dua yitu vitamin nabati yang berasal dari tumbuhan dan vitamin hewani yang berasal dari hewan. Jenis-jenis vitamin dibagi menjadi dua yaitu :
1. Vitamin satuan, yaitu jenis vitamin tanpa campuran vitamin-vitamin lainnya. Contohnya: vitamin A, vitamin D dan vitamin K
2. Vitamin kompleks yaitu gabungan dari berbagai vitamin B1, B2, B3, B4, dan B12.
(Rohendi, D., 2017)
Vitamin C adalah nutrien dan vitamin yang larut dalam air dan penting untuk kehidupan serta untuk menjaga kesehatan. Vitamin C juga dikenal dengan nama kimia dari bentuk utamanya yaitu asam askorbat. Vitamin C memiliki sifat pada keadaan kering stabil, tetapi mudah terdegradasi jika vitamin C berada dalam bentuk larutan, terutama jika terdapat udara, logam-logam seperti Cu, Fe dan cahaya. Vitamin C jika terkena cahaya akan berubah menjadi coklat. Vitamin C merupakan turunan heksosa dan diklasifikasi sebagai karbohidrat yang erat kaitannya dengan monosakarida. Vitamin C dapat disintesis dari D-glukosa dan Dgalaktosa dalam tumbuh-tumbuhan dan sebagian besar hewan-hewan. Vitamin C terdapat dalam dua bentuk di alam, yaitu L-asam askorbat (bentuk tereduksi) dan L-asam dehidro askorbat (bentuk teroksidasi). Vitamin C adalah lakton enam karbon yang terstruktural mirip dengan glukosa (Sediaoetomo, A. D., 2007).
![]() |
| Gambar 1. Struktur Kimia Vitamin C |
Asam askorbat memiliki fungsi sebagai donor ekuivalen pereduksi dalam sejumlah reaksi penting tertentu. Asam askorbat dioksidasi menjadi asam dehidroaskorbat ,yang dengan sendirinya dapat bertindak sebagai sumber vitamin tersebut. Asam askorbat merupakan zat pereduksi dengan potensial hydrogen sebesar +0,008 V, sehingga membuatnya mampu untuk mereduksi senyawa-senyawa seperti oksigen molekuler, nitrat, dan sitokrom a serta c. Mekanisme kerja asam askorbat dalam banyak aktivitasnya masih belum jelas, tetapi proses di bawah ini membutuhkan asam askorbat :
1. Hidroksilasi prolin dalam sintesis kolagen.
2. Proses penguraian tirosin, oksodasi P-hidroksi–fenilpiruvat menjadi homogentisat memerlukan vitamin C yang bisa mempertahankan keadaan tereduksi pada ion tembaga yang diperlukan untuk memberikan aktivitas maksimal.
3. Sintesis epinefrin dari tirosin pada tahap dopamine-hidroksilase.
4. Pembentukan asam empedu pada tahap awal 7 alfa – hidroksilase.
5. Korteks adrenal mengandung sejumlah besar vitamin C yang dengan cepat akan terpakai habis kalau kelenjer tersebut dirangsang oleh hormon adrenokortikotropik.
6. Penyerapan besi digalakkan secara bermakna oleh adanya vitamin C.
7. Asam askorbat dapat bertindak sebagai antioksidan umum yang larut dalam air dan dapat menghambat pembentukan nitrosamin dalam proses pencernaan.
(Triana, V. 2006).
II.1.2 Kadar Vitamin C
Vitamin C di absorpsi melalui saluran cerna, pada bagian atas usus halus secara difusi lalu masuk ke peredaran darah melalui vena porta. Vitamin C terdistribusi luas dalam jaringan tubuh. Eliminasi vitamin C melalui urin setelah ekskresi dari ginjal. Urin berbentuk utuh dan bentuk garam sulfatnya terjadi apabila kadarnya dalam darah melewati ambang rangsang ginjal 1,4 mg%. Kebutuhan harian vitamin C biasa dikenal dengan RDA (Recommended dietary allowance) vitamin C ialah 60 mg atau setara dengan sebuah jeruk. Cadangan sebesar 1500 mg merupakan jumlah maksimum yang dapat dimetabolisir di jaringan tubuh. Dengan jumlah tersebut diperkirakan turn over vitamin C adalah 60 mg/hari. Kebutuhan vitamin C dapat meningkat 300%-500% pada penyakit infeksi, penyakit neoplasma, pasca bedah atau trauma, hipertiroid, kehamilan dan laktasi maupun sebagai antioksidan (Pakaya, D., 2014).
II.1.3 Manfaat Vitamin C
Secara umum, manfaat vitamin C ialah mengecah penyakit sariawan, nebcegah bibir pecah-pecah, mencegah gusi berdarah, dan mencegah sariawan usus (Rohendi, D., 2017). Namun, ternyata vitamin C juga memiliki manfaat lain yaitu sebagai berikut.
1. Vitamin C Sebagai Antioksidan dan Penghambat Radikal Bebas
Antioksidan adalah suatu substansi yang menghentikan atau menghambat kerusakan oksidatif terhadap suatu molekul target dengan cara bereaksi dengan radikal bebas reaktif membentuk yang relatif stabil. Antioksidan membantu menghentikan proses perusakan sel dengan cara memberikan elektron kepada radikal bebas. Antioksidan akan menetralisir radikal bebas sehingga tidak mempunyai kemampuan lagi mencuri elektron dari sel dan DNA (Pakaya, D., 2014).
Vitamin C berperan sebagai antioksidan dan penghambat radikal bebas. Radikal bebas distimulasi dari paparan radiasi sinar UV yang meningkat dari matahari. Radiasi UV menembus kedalam kulit sebagai agen reaktif. Efek dari radikal bebas ini terlihat cepat dalam proses pengerutan dan deformitas kulit. Vitamin C membantu tubuh dalam menetralisir radikal bebas ini sebagai peredam atau pelindung dari paparan ultraviolet. Vitamin C bermanfaat sebagai tabir surya dengan cara diserap sampai ke sel dan bertahan antara 30-36 jam pada kulit(Pakaya, D., 2014).
Vitamin C merupakan antioksidan yang bekerja dalam cairan ekstraseluler karena mempunyai sifat kelarutan yang tinggi dalam air. Vitamin C dapat mereduksi superoksida, hidrogen peroksida radikal hidroksida dan oksigen reaktif lain yang dapat muncul baik secara intraselullar maupun ekstraselular. Vitamin C akan cepat teroksidasi dengan adanya katalis logam, terutama Cu. Oksidasi vitamin C yang diinduksi oleh Cu dapat menghasilkan hidrogen peroksida dan radikal hidroksil yang dapat menyebabkan inaktivasi banyak protein (Pakaya, D.,2014).
2. Vitamin C Pada Sintesis Kolagen dan Penyembuhan Luka
Kolagen adalah struktur untai paralel yang memberi kekuatan lenting (daya rentang) pada jaringan yang tanpa kemampuan meregang. Kolagen merupakan komponen jaringan ikat yang utama dan dapatditemukan pada berbagai jenis jaringan serta bagian tubuh yang harus diikat menjadi satu. Vitamin C berperan sebagai bahan essensial dalam pembentukan kolagen ini. Sedangkan, penyembuhan luka adalah suatu respon terhadap cedera dan merupakan usaha untuk mempertahankan struktur dan fungsi normal. Penggabungan respon vaskuler, aktivitas seluler dan terbentuknya bahan kimia sebagai substansi mediator di daerah luka merupakan komponen yang saling terkait pada proses penyembuhan (Pakaya, D., 2014).
Pada proses ini vitamin C berperan dalam membantu pembentukan kolagen dan elastin serta untuk pertumbuhannya. Sintesis kolagen oleh fibroblas dimulai antara 24 jam dari cedera. Mula-mula diungguli oleh kolagen tipe III, tetapi setelah 1 minggu, tipe I menjadi banyak dan akhirnya menjadi kolagen utama dari jaringan parut matur. Suatu rangkaian yang sama terjadi sewaktu organogenesis. Pada perkembangan embrional proteoglikan dan glikoprotein yang dideposit pertama dalam matriks ekstraseluler. Kemudian diendapkan kolagen tipe III dan berikutnya kolagen tipe I. Vitamin C berfungsi melalui jalur biosintetik dengan mempercepat reaksi hidroksilasi dan amidasi. Fungsi peling jelas dari vitamin C adalah pengaktifan prolin dan lisin hidroksilase dari prekursor inaktif sehingga terjadi hidroksilasi prokolagen. Hidroksilasi yang adekuat akan menghasilkan konfigurasi heliks yang stabil dan membentuk ikatan silang yang adekuat untuk disekresi dengan baik oleh fibroblas (Pakaya, D.,2014).
II.1.4 Bahaya Kekurangan Vitamin C
Kekurangan vitamin C dapat menyebabkan sariawan, bibir pecahpecah, gusi berdarah dan sariawan usus (Rohendi, D., 2017). Selain itu, defisiensi atau kekurangan vitamin C menyebabkan penyakit skorbut, penyakit ini berhubungan dengan gangguan sintesis kolagen yang diperlihatkan dalam bentuk perdarahan subkutan sertaperdarahan lainnya , kelemahan otot, gusi yang bengkak dan menjadi lunak dan tanggalnya gigi, penyakit skorbut dapat disembuhkan dengan memakan buah dan sayursayuran yang segar. Cadangan normal vitamin C cukup untuk 34 bulan sebelum tanda-tanda penyakit skorbut (Triana, V. 2006).
II.1.5 Metode Analisis Kadar Vitamin C
Analisis kuantitatif dari vitamin C dapat dilakukan dengan beberapa metode, diantaranya:
Titrasi Asam Basa merupakan contoh analisis volumetri, yaitu, suatu cara atau metode , yang menggunakan larutan yang disebut titran dan dilepaskan dari perangkat gelas yang disebut buret. Bila larutan yang diuji bersifat basa maka titran harus bersifat asam dan sebaliknya. Untuk menghitungnya kadar vitamin C dari metode ini adalah dengan mol NaOH = mol asam Askorbat. Langkah awal yang dilakukan adalah dengan memasukkan sampel ke dalam tabung erlenmeyer sebanyak 100 mL. Selepas itu, ambil 5 mL larutan vitamin C sebagai titran. Kemudian, teteskan indicator sebanyak 0.15 mL. Akhirnya, NaOH sehingga tampak perubahan warna. Amati perubahan warna dan catatkan volume NaOH. Uji positif timbul warna kuning (Techinamuti, N. Dan Pratiwi, R. 2018).
2. Metode Titrasi 2,6 D (Dichloroindiphenol)
Analisis Vitamin C juga dilakukan dengan metode titrasi 2,6 D (Dichloroindophenol) yang dimulai pada tahun 1964 dan berakhir pada tahun 1966. Pada titrasi ini, persiapan sampel ditambahkan asam oksalat atau asam metafosfat, sehingga mencegah logamkatalis lain mengoksidasi vitamin C. Namun, metode ini jarang dilakukan karena harga dari larutan 2,6 dan asam metafosfat sangat mahal (Helrich, 1990). Prinsip analisis kadar vitamin C metode titrasi 2,6-diklorofenol yaitu menetapkan kadar vitamin C pada bahan pangan berdasarkan titrasi dengan 2,6-diklorofenol indofenol dimana terjadinya reaksi reduksi 2,6-diklorofenol indofenol dengan adanya vitamin C dalam larutan asam. Asam askorbat mereduksi 2,6-diklorofenol indofenol dalam suatu larutan yang tidak berwarna. Titik akhir titrasi ditandai dengan perubahan warna menjadi merah muda dalam kondisi asam (Techinamuti, N. Dan Pratiwi, R. 2018).
Reaksi yang terjadi antara reagen dengan sampel saat pengujian yaitu reaksi reduksi 2,6-diklorofenol indofenol dengan vitamin C dalam larutan asam. Asam askorbat akan mendonorkan satu elektron membentuk semidehidroaskorbat yang tidak bersifat reaktif. Selanjutnya semidehidroaskorbat mengalami reaksi disproporsionasi membentuk dehidroaskorbat yang bersifat tidak stabil. Dehidroaskorbat akan terdegradasi membentuk asam oksalat dan asam treonat (Techinamuti, N. Dan Pratiwi, R. 2018). Kelebihan analisis kadar vitamin C menggunakan metode titrasi 2,6- diklorofenol dibandingkan dengan metode lain yaitu zat pereduksi lain tidak menganggu penetapan kadar vitamin C. Selain itu reaksi terjadi secara kuantitatif sehingga dapat diketahui jumlah atau kadarnya. Disamping itu metode ini juga praktis dan spesifik untuk larutan asam askorbat pada pH 1-3,5. Pada pH rendah atau suasana asam akan memberikan hasil yang lebih akurat dibandingkan dalam suasana netral atau basa. Oleh karena itu, metode titrasi ini paling banyak digunakan untuk analisis kadar vitamin C dibandingkan metode lain (Techinamuti, N. Dan Pratiwi, R. 2018).
3. Metode Spektrofotometri
Berbagai macam analisis dilakukan untuk mengetahui kadar vitamin C. Penelitian dengan menggunakan metode spektrofotometri dilakukan pada tahun 1966 sampai dengan tahun 1967. Spektrofotometri ultra violet adalah bagian dari teknik analisis spektroskopik yang memakai sumber REM (radiasi elektromagnetik) ultraviolet dekat (190-380 nm) dan sinar tampak (380-780 nm) dengan memakai instrumen spektrofotometer. Spektrofotometer UV adalah alat yang digunakan untuk mengukur transmitansi, reflektansi dan absorbsi dari cuplikan sebagai fungsi dari panjang gelombang. Spektrofotometer terdiri dari alat spektrometer dan fotometer. Spektrometer menghasilkan sinar dari spektrum dengan panjang gelombang tertentu manakala fotometer pula adalah alat pengukur intensitas cahaya yang diabsorbsi atau ditransmisikan (Techinamuti, N. Dan Pratiwi, R. 2018).
Spektrofotometer pula digunakan untuk mengukur energi cahaya secara relatif jika energi tersebut ditransmisikan, diemisikan atau direfleksikan sebagai fungsi dari panjang gelombang. Suatu spektrofotometer tersusun dari sumber spektrum sinar tampak yang sinambung dan monokromatis. Sel pengabsorbsi untuk mengukur perbedaan absorbsi diantara blanko dengan cuplikan ataupun pembanding. Penggunaan spektrofotometri UV melibatkan energi elektronik yang cukup besar pada molekul yang dianalisis, sehingga penggunaan spektrofotometri UV lebih banyak dipakai untuk analisis kuantitatif dibandingkan kualitatif. Cara menentukan kadar vitamin C adalah dengan menimbang 2 g sampel vitamin C yang telah dihaluskan. Larutkan sampel tersebut dalam 50 mL aquadest kemudian menanda batas larutan dalam labu takar 250mL. Setelah itu larutan diencerkan hingga 200 kali, kemudian absorbansi diukur pada panjang gelombang maksimum (Techinamuti, N. Dan Pratiwi, R. 2018).
4. Metode DPPH
Metode DPPH merupakan metode in vitro yang memberikan informasi reaktivitas senyawa yang diuji dengan suatu radikal stabil. DPPH memberikan serapan kuat pada panjang gelombang 517nm dengan warna violet gelap. Penangkap radikal bebas menyebabkan elektron menjadi berpasangan yang kemudian menyebabkan penghilangan warna yang sebanding dengan jumlah elektron yang diambil. Metode ini sering dipilih sebagai metode pengujian aktivitas antioksidan karena sederhana, mudah, cepat, peka dan memerlukan sedikit sampel. Metode ini hanya membutuhkan senyawa DPPH yang bersifat stabil dan senyawa pembandingan seperti vitamin A, vitamin C dan vitamin E. Selain itu, metode ini tidak memerlukan substrat karena radikal bebas sudah tersedia secara langsung untuk menggati substrat. Hasil dapat diamati dengan perubahan larutan dari ungu menjadi kuning. Perubahan warna menunjukkan bahwa DPPH telah tereduksi oleh proses donasi hydrogen atau electron dari senyawa antioksidan sehingga warnanya berubah dari violet ke kuning dan DPPH tidak memberikan serapan pada panjang gelombang 517 nm (Techinamuti, N. Dan Pratiwi, R. 2018).
5. Metode Titrasi Iodium
Titrasi lain yang dapat dilakukan adalah titrasi Iodium. Metode ini juga paling banyak digunakan, karena murah, sederhana, dan tidak memerlukan peralatan laboratorium yang canggih. Titrasi ini memakai Iodium sebagai oksidator yang mengoksidasi vitamin C dan memakai amilum sebagai indikatornya. Metode titrasi iodometri langsung (iodimetri) mengacu kepada titrasi dengan suatu larutan iod standar. Metode titrasi iodometri tak langsung (iodometri) adalah berkenaan dengan titrasi dari iod yang dibebaskan dalam reaksi kimia. Prosedur penetapan kadar vitamin C secara iodimetri: Sekitar 400mg asam askorbat yang ditimbang seksama dilarutkan dalam campuran yang terdiri atas 100 mL air bebas oksigen dan 25mL asam sulfat encer. Larutan dititrasi dengan iodium 0.1 N menggunakan indikator kanji sampai terbentuk warna biru. Larutan standar yang digunakan dalam kebanyakan proses iodometri adalah natrium tiosulfat.Garam ini biasanya berbentuk sebagai pentahidrat Na2S2O3.5H2O.
Larutan tidak boleh distandarisasi dengan penimbangan secara langsung, tetapi harus distandarisasi dengan standar primer. Larutan natrium thiosulfat tidak stabil untuk waktu yang lama. Tembaga murni dapat digunakan sebagai standar primer untuk natrium thiosulfat dan dianjurkan apabila thiosulfat harus digunakan untuk penentuan tembaga (Techinamuti, N. Dan Pratiwi, R. 2018).
Metode iodometrik menggunakan dua jenis indikator, yaitu kanji dan Iodin yang dapat bertindak sebagai indikator bagi dirinya sendiri. Iodin juga memberikan warna ungu atau violet yang intensitas untuk zat-zat pelarut seperti karbon tetra korida dan kloroform. Namun demikan larutan dari kanji lebih umum dipergunakan, karena warna biru gelap dari kompleks iodin–kanji bertindak sebagai suatu tes yang amat sensitif untuk iodine. Dalam beberapa proses tak langsung banyak agen pengoksida yang kuat dapat dianalisis dengan menambahkan kalium iodida berlebih dan mentitrasi iodin yang dibebaskan. Karena banyak agen pengoksida yang membutuhkan larutan asam untuk bereaksi dengan iodin, Natrium tiosulfat biasanya digunakan sebagai titrannya (Techinamuti, N. Dan Pratiwi, R. 2018). Titrasi Iodium juga adalah salah satu metode analisis yang dapat digunakan dalam menghitung kadar Vitamin C. Dimana, suatu larutan vitamin C (asam askorbat) sebagai reduktor dioksidasi oleh Iodium, sesudah vitamin C dalam sampel habis teroksidasi, kelebihan Iodium akan segera terdeteksi oleh kelebihan amilum yang dalam suasana basa berwarna biru muda. Kadar vitamin C dapat diketahui dengan perhitungan 1ml 0,01 N larutan Iodium = 0,88 mg asam askorbat. Kekurangan dari metode ini yaitu ketidak akuratan nilai yang diperoleh karena vitamin C dapat dipengaruhi oleh zat lain (Techinamuti, N. Dan Pratiwi, R. 2018).
II.2 Pembahasan
Pada analisis kandungan vitamin C bahan makanan dan minuman dengan Metode Iodimetri digunakan sampel bahan makanan yang biasa dikomsumsi masyarakat sehari hari yang diyakini memgandung vitamin C yakni buah nanas, minuman kemasan, dan cabai merah. Pada sampel penelitian dilakukan analisi vitamin C dengan metode iodimetri dengan alur pelitian sebagai berikut.
Langkah pertama, dilakukan preparasi sampel. Buah nanas dan cabai merah dibersihkan dari pengotor, kemudian dihancurkan menggunakan alu. Sampel yang telah hancur kemudian disaring untuk dipisahkan dari filtrat dan residu. Filtrat dari buah nanas dan cabai merah serta sampel minuman diambil masing-masing sebanyak 1 gram dan ditempatkan ke dalam Erlenmeyer berbeda. Langkah berikutnya, ditambahkan larutan iodium sebanyak 0,1 mL pada masing-masing sampel preparat. Ditempat lain, dirancang alat titrasi dengan larutan iodin sebagai pentiter sebanyak 50 mL. selanjutnya, dilakukan penambahan 2 tetes larutan amilum pada masing-masing sampel preparat. Lalu, dilakukan titrasi pada sampel preparat hingga terjadi perubahan warna. Setelah titik akhir titrasi tercapai, volume larutan pentiter yang terpakai dicatat dan dianalisis untuk masing-masing sampel. Langkah akhir, dilakukan olah data hasil penelitian untuk mendapatkan kadar vitamin C pada sampel (Harefa, N., dkk. 2020).
| Tabel 1. Kadar Vitamin C Bahan Makanan |
Berdasarkan Tabel 1 di atas, bahan makanan A (buah nanas) mengandung 2,286 mg Vitamin C dalam 1 gram sampel. Data tersebut menunjukkan bahwa manusia membutuhkan sekitar 18 – 68 gram buah nanas perhari untuk memenuhi 40 – 90 mg Vitamin C yang dibutuhkan. Bahan minuman B (minuman kemasan) mengandung 2,204 mg Vitamin C dalam 1 gram sampel. Data tersebut menunjukkan bahwa manusia membutuhkan sekitar 20 – 70 gram bahan minuman B perhari untuk memenuhi 40 – 90 mg Vitamin C yang dibutuhkan. Bahan makanan C (Cabai merah) mengandung 0,044 mg Vitamin C dalam 1 gram sampel. Data tersebut menunjukkan bahwa manusia membutuhkan sekitar 56 – 106 gram cabai merah perhari untuk memenuhi 40 – 90 mg Vitamin C yang dibutuhkan. Perbandingan kadar Vitamin C dari beberapa bahan makanan dan minuman yang menjadi sampel penelitian ditujukan pada Gambar 2 (Harefa, N., dkk. 2020).
Gambar 2. Perbandingan Kadar Vitamin C Bahan Makanan dan Minuman
Berdasarkan Gambar 2 di atas, bahan makanan A mengandung Vitamin C tertinggi dibanding dua sampel lainnya. Bahan makanan A (buah nanas) telah dikenal masyarakat sebagai salah satu penghasil Vitamin C. Buah nanas merupakan bahan makanan yang direkomendasikan untuk dikonsumsi masyarakat dalam upaya memenuhi kadar Vitamin C tubuh. Sedangkan, Bahan minuman B (minuman kemasan) merupakan sampel dengan kadar Vitamin C tertinggi kedua. Sampel ini dapat dikonsumsi sebagai sumber Vitamin C oleh manusia, namun tidak direkomendasikan untuk dikonsumsi secara terus menerus. Vitamin C dalam sampel ini merupakan Vitamin C hasil olahan dengan komposisi yang menyerupai komposisi dasar. Vitamin C hasil olahan tersebut sangat rentan terhadap cuaca, suhu, sinar matahari, dan gangguan-gangguan lainnya seperti bau menyengat yang dapat menyebabkan perubahan struktur dan komposisi Vitamin C. Perubahan komposisi dan struktur Vitamin C, akan berdampak negatif terhadap tubuh manusia. Sementara, Bahan makanan C (cabai) merupakan bahan makanan dengan kandungan terendah dibanding bahan makanan dan bahan minuman yang menjadi sampel pada penelitian.
Sampel ini merupakan salah satu bahan makanan alami yang paling efektif untuk dijadikan sumber Vitamin C tubuh manusia. Bahan makanan ini merupakan penyedap rasa alami, dimana sebagian besar makanan mengandung cabai sebagai penyedap. Artinya, cabai menjadi sumber Vitamin C akumulatif yang efektif untuk memenuhi kebutuhan akan Vitamin C (Harefa, N., dkk. 2020). Dalam usaha pemenuhan Vitamin C tubuh manusia dapat dilakukan dengan sistem akumulasi. Artinya, manusia dapat mengkonsumsi beberapa bahan makanan dan/atau bahan minuman untuk memenuhi kadar Vitamin C. Dengan demikian, pemenuhan kadar Vitamin C dalam tubuh manusia tidak tergantung pada satu jenis bahan makanan atau minuman saja (Harefa, N., dkk. 2020).
BAB III
PENUTUP
III. 1. Kesimpulan
Vitamin C merupakan turunan heksosa dan diklasifikasi sebagai karbohidrat yang erat kaitannya dengan monosakarida. Vitamin C dalam bentuk aktifnya dikenal dengan sebutan asam askorbat. Manfaat vitamin C yaitu mengecah penyakit sariawan, nebcegah bibir pecah-pecah, mencegah gusi berdarah, mencegah sariawan usus, sintesis kolagen dan penyembuhan luka serta antioksidan dan penghambat radikal bebas. Kadar vitamin C perlu diketahui oleh masyarakat agar dalam usaha pemenuhan Vitamin C tubuh manusia untuk memenuhi kadar Vitamin C yang dapat dilakukan dengan sistem akumulasi. Cara menganalisis kadar vitamin C dapat dilakukan dengan cara konvensional seperti metode iodimetri dan cara modern dengan pemanfaatan spektrofotometri UV-Vis dan lain sebagianya.
III. 2. Saran
Pada jurnal yang diangkat untuk dibahan pada makalah ini, sebaiknya dalam menggunakan sampel penelitian alangkah baiknya menggunakan sumber vitamin C yang sering dikomsumsi oleh masyarakat
yang khusunya lebih menitik beratkan pada sumber vitamin C buatan, agar masyarakat dapat mengetahui kadar yang seharusnya dapat dikomsumsi dalam pemenuhan kadar vitamin C dalam tubuh.
DAFTAR PUSTAKA
Harefa, N., Feronika, G., Kana, Angel D., Hutagalung, R., Chaterina, D., dan Bela, Y, 2020, Analisis Kandungan Vitamin C Bahan Makanan dan Minuman dengan Metode Iodimetri, Science Education and
Aplication Journal, Vol.2, No. 3, ISSN: 2656-8365.
Pakaya, David. 2014. Penan Vitamin C pada Kulit. Jurnal Ilmiah Kedokteran. Vo. 1. No. 2.
Rohendi, Deden. 2017. Rangkuman Pengetahuan Alam Lengkap SD/MI Kelas4,5, dan 6. Penyunting,Lisa Diana dan Dewi. Cet.1. Jakarta: Bmedia.
Sediaoetama, A. D. 2007. Ilmu gizi. Jakarta: Bumi Aksra.
Techinamuti, N. Dan Pratiwi, R. 2018. Review : Metode Analisis Kadar Vitamin C. Jurnal Farmaka. Suplemen Vo. 16. No. 2.
Triana, Vivi., 2006, Studi literatur: Macam-Macam Vitamin dan Fungsinya dalam Tubuh Manusia, Jurnal Kesehatan Masyarakat, Vol.1, No.1.


0 Response to "ANALISIS MAKANAN MINUMAN DAN PERBEKALAN FARMASI"
Post a Comment