MAKALAH FARMAKOTERAPI II “INFEKSI SALURAN KEMIH : CYSTITIS DAN PROSTATITIS”

 

MAKALAH FARMAKOTERAPI II

“INFEKSI SALURAN KEMIH : CYSTITIS DAN PROSTATITIS”






BAB I

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang

 Sistem urologi merupakan suatu sistem yang penting dalam menjaga keseimbangan cairan yang ada dalam tubuh, dimana terjadinya proses penyaringan darah sehingga darah bebas dari zat-zat yang tidak lagi dibutuhkan oleh tubuh dan menyerap zat-zat yang masih dibutuhkan oleh tubuh. Zat yang tidak dibutuhkan ole tubuh biasanya akan dikeluarkan berupa urin (air kemih), Jika sistem urologi mengalami gangguan akibat infeksi mikroorganisme seperti Pseudomonas, Escherichia coli, Enterobacter, Staphylococcus epidermis, dan lain-lain dapat menimbulkan penyakit infeksi saluran kemih sehingga sangat penting untuk diketahui (1).

I.2 Rumusan Masalah

 Rumusan masalah penulisan makalah ini yaitu :

1.    Apa pengertian dari infeksi saluran kemih cystitis dan prostatis serta bagaimana epidemiologinya?

2.    Bagaimana patofisiologi infeksi saluran kemih cystitis dan prostatis?

3.    Bagaimana gejala infeksi saluran kemih cystitis dan prostatis ?

4.    Bagaimana cara diagnosis infeksi saluran kemih cystitis dan prostatis ?

5.    Bagaimana terapi farmakologi dan nonfarmakologi infeksi saluran kemih cystitis dan prostatis?

6.    Bagaimana hasil evaluasi  terapi infeksi saluran kemih cystitis dan prostatis?

I.3 Tujuan Penulisan

Tujuan penulisan makalah ini yaitu untuk mengetahui :

1.    Pengertian dari infeksi saluran kemih cystitis dan prostatis serta epidemiologinya.

2.    Patofisiologi infeksi saluran kemih cystitis dan prostatis.

3.    Gejala infeksi saluran kemih cystitis dan prostatis.

4.    Cara diagnosis infeksi saluran kemih cystitis dan prostatis.

5.    Terapi farmakologi dan nonfarmakologi infeksi saluran kemih cystitis dan prostatis.

6.    Hasil evaluasi  terapi infeksi saluran kemih cystitis dan prostatis.

 

 


 

BAB II

ISI

II.1 Definisi

Infeksi Saluran Kemih (ISK) atau Urinarius Troctus Infection (UTI) merupakan suatu keadaan adanya infasi mikroorganisme pada saluran kemih. Infeksi saluran kemih adalah infeksi akut atau kronis yang biasanya berasal dari bakteri, yang dapat mempengaruhi bagian mana pun dari sistem saluran kemih bagian atas atau bawah. Infeksi kandung kemih disebut cystitis, dan infeksi yang melibatkan parenkim ginjal dikenal sebagai pielonefritis. Infeksi saluran kemih sering terjadi di lingkungan masyarakat dan rumah sakit yang merupakan infeksi bakteri yang paling umum pada manusia (2). ISK dapat dibagi menjadi 3 kategori (3):

-       Infeksi tanpa komplikasi pada saluran kemih bagian bawah yang melibatkan kandung kemih dan / atau uretra.

-       Infeksi tanpa komplikasi pada saluran kemih bagian atas, atau pielonefritis, yang melibatkan ureter, pelvis ginjal, dan ginjal.

-       ISK dengan komplikasi yang melibatkan berbagai tempat di dalam saluran kemih.

Cystitis (inflamasi kandung kemih) yang paling sering disebabkan oleh menyebarnya infeksi dari uretra. Hal tersebut disebabkan oleh aliran balik urin dari uretra ke dalam kandung kemih (refluks urtovesikal), kontaminasi fekal, pemakaian keteter atau sistoskop (1). Wanita lebih sering mengalami cystitis dibanding pria. Kejadian cystitis rata-rata 9.3% pada wanita diatas 65 tahun dan 2.5-11% pada pria di atas 65 tahun. Cystitis pada neonatus banyak terdapat pada laki-laki (2,7%) dibanding bayi perempuan (0,7%). Insidensi cystitis menjadi terbalik seiring bertambahnya usia, yaitu pada masa sekolah cystitis pada anak perempuan sekitar 3% sedangkan anak laki-laki 1,1%. Insidensi cystitis pada usia remaja wanita meningkat 3,3-5,8% yang akan terus meningkat insidensinya pada usia lanjut (4). Morbiditas dan mortalitas cystitis paling banyak terjadi pada pasien usia kurang dari satu tahun dan usia lebih dari 65 tahun (5).  Survey prevelensi yang di lakukan WHO (World Health Organization) di 55 rumah sakit dari 14 negara yang mewakili 4 kawasan (Eropa, Timur Tengah, Asia Tenggara Dan Pasifik Barat) menunjukkan rata-rata 8,7 % pasien rumah sakit yang mengalami cystitis. Setiap saat, lebih dari 1,4 juta orang di seluruh dunia menderita komplikasi dari cystitis yang di peroleh dari rumah sakit. Frekuensi tertinggi dilaporkan dari rumah sakit di kawasan Timur Tengah dan Asia Tenggara (11,8 % dan 10,0 % masing-masing), dengan prevelensi 7,7 % dan 9,0 % masing- masing di kawasan Eropa dan pasifik barat. Penelitian lain di laporkan rata-rata sekitar 3,5 % (Jerman) menjadi 5 % (Amerika) dari seluruh pasien rawat inap, di perawatan rumah sakit tersier sekitar dan ICU sekitar 15 % - 20 % kasus (6). Cystitis merupakan masalah kesehatan yang serius karena dapat menyerang berjuta-juta orang tiap tahunnya. Jumlah pasien cystitis mencapai 150 juta per tahun, dan di Amerika dilaporkan 6 juta pasien datang ke dokter dengan diagnosis cystitis. Cystitis merupakan infeksi nosokomial tersering yang mencapai kira-kira 40-60% (7). Dari berbagai peneliti epidemiologis di Indonesia di dapatkan prevelensi cystitis sebesar 1,5-2,3% pada penduduk usia lebih dari 15 tahun, bahkan pada suatu penelitian epidemuologis di Manado di dapatkan prevelensi cystitis 5,2%. Peneliti yang di lakukan di Jakarta membuktikan adanya kenaikan prevelensi yaitu meningkat 1,5% menjadi 5,0% pada tahun 2011. Data kesehatan tahun 2013 penderita cystitis di Indonesia adalah 2 juta jiwa, sedangkan penderita cystitis di Jawa Tengah tahun 2013 adalah 1,2 juta jiwa (8).

Prostatitis merupakan kondisi peradangan akut atau kronis yang mempengaruhi prostat. Prostatitis bakteri adalah sebuah penyakit yang didiagnosis secara klinis serta adanya bukti inflamasi dan infeksi yang terlokalisasi pada prostat. Menurut waktu gejala, prostatitis bakteri dibagi menjadi akut dan kronis (9). Secara epidemiologi, prostatitis tampak paling banyak terjadi di tempat-tempat dengan angka penyakit infeksi menular seksual dan prostitusi yang tinggi. Diperkirakan kalau separuh dari seluruh laki-laki yang ada di dunia akan mengalami gejala prostatitis sepanjang hidupnya. Penyebab tersering prostatitis pada orang berusia <35 tahun adalah infeksi bakteri, sedangkan penyebab tersering pada orang berusia >35 tahun adalah penyebab noninfeksi. Prevalensi prostatitis secara global adalah sekitar 5%, di mana 90% di antaranya adalah prostatitis kronis. Prostatitis dapat dialami oleh pria semua umur, tetapi lebih sering dialami pria berusia di bawah 50 tahun. Prostatitis bakterial akut lebih sering menyerang pria berusia di bawah 35 tahun. Data di Amerika Serikat menunjukkan bahwa lebih dari 2 juta pria di Amerika Serikat mencari pengobatan untuk prostatitis setiap tahunnya. Ras Afrika-Amerika memiliki risiko terkena prostatitis 2 kali lipat dibandingkan ras kulit putih. Prevalensi prostatitis di negara lain sangat bervariasi, yakni: 4% di Belanda, 14% di Finlandia, 8% di Malaysia, 6,6% di Kanada, dan 2,7% di Singapura (10,11). Data epidemiologi prostatitis di Indonesia masih terbatas. Prostatitis kronis merupakan prostatitis yang paling sering dijumpai, 65% di antaranya berupa prostatitis nonbakterial. Sebagian besar penderita prostatitis berusia di bawah usia 50 tahun dan masih aktif secara seksual (12).

II.2 Patofisiologi

Cystitis yang secara signifikan lebih umum terjadi pada wanita dibandingkan pria. Hal ini terutama karena perbedaan anatomi, termasuk panjang uretra yang lebih pendek dan lingkungan periuretra yang lembab pada wanita. Infeksi saluran kemih biasanya dimulai dengan kontaminasi periuretra oleh uropatogen yang berada di usus, diikuti oleh kolonisasi uretra dan, terakhir, migrasi oleh flagela dan pili patogen ke kandung kemih atau ginjal. Kepatuhan bakteri pada uroepitel adalah kunci dalam patogenesis ISK. Infeksi terjadi ketika mekanisme virulensi bakteri mengatasi mekanisme pertahanan tubuh yang efisien (13).

Sementara, Patofisiologi prostatitis masih belum jelas seluruhnya, namun diduga mekanismenya hampir serupa dengan prostatitis bakterial kronis. Pada individu normal, laki-laki maupun perempuan urin selalu steril karena dipertahankan jumlah dan frekuensi kencing. Uretra distal merupakan tempat kolonisasi mikroorganisme non-pathogenic fastidious gram positif dan gram negatif. Hampir semua ISK disebabkan invasi mikroorganisme asending dari uretra ke dalam saluran kemih yang lebih distal, misalnya kandung kemih. Pada beberapa pasien tertentu invasi mikroorganisme dapat mencapai ginjal. Proses ini dipermudah refluks vesikoureter. Proses invasi mikroorganisme hematogen sangat jarang ditemukan di klinik, mungkin akibat lanjut dari bakteriemia. Ginjal diduga merupakan lokasi infeksi sebagai akibat lanjut septikemi atau endokarditis akibat S. Aureus (14). Prostatitis secara umum digambarkan sebagai proses fokal baik akut maupun kronis. Area inflamasi sangatberdekatan dengan zona periferal, kemudian meluas ke zona periuretral. Zona periferal prostat tersusun atas sistem duktus yang drainasenya kurang baik. Jika prostat mengalami pembesaran akan mengakibatkan obstruksi uretra. Selanjutnya akan menyebabkan refluks urin ke dalam duktus prostatikus. Apabila urin yang terkontaminasi mikroorganisme misalnya kuman penyebab PMS mengalami refluks, maka akan mengakibafkan infeksi aseending dan dimulainya proses inflamasi. Sebagaimana penyakit infeksi dan proses inflamasi lainnya, gejala prostatitis berupa pembengkakan dan nyeri. Terjadi penyempitan saluran uretra sehingga menyumbat leher kandung kemih. Gejala prostatitis biasanya tidak terlalu jelas dan cenderung ringan sehingga sering diabaikan. Kumpulan gejalanya berupa nyeri, gangguan berkemih, dan gangguan fungsi seksual. Nyeri terbanyak dirasakan pada panggul atau pinggang belakang. Gangguan berkemih berupa disuria, urgensi dan rasa tidak lampias. Gangguan fungsi seksual berupa disfungsi ereksi, disfungsi ejakulasi, dan infertilitas. Semua gejala itu dapat menurunkan kualitas hidup penderita pada derajat yang sama dengan penyakit jantung koroner atau penyakit Crohn. Prostatitis juga mengakibatkan gangguan kesehatan mental penderita yang serupa dengan penderita diabetes melitus atau penyakit gagal jantung kongestif (15).

II.3 Gejala

Gejala yang umum yang sering timbul pada pederita cystitis yaitu rasa terbakar saat buang air kecil (disuria), sering buang air kecil, nyeri suprapubic (nyeri punggung bawah), demam disertai darah dalam urin (hematuria), adanya sel-sel darah putih dalam urin, dan nyeri punggung (1)(2).

Gejala yang dominan ditemukan pada penderita prostatitis bakteri yaitu rasa sakit di berbagai lokasi, sering muncul keinginan untuk buang air kecil (berkemih), merasa kesulitan saat awal berkemih, berkemih dengan durasi yang lama, aliran urin lambat dan tersendat-sendat dan adanya LUTS (16)(17). Untuk prostatitis bakteri akut sendiri ditandai dengan adanya serangan mendadak, menggigil, demam, nyeri perineum dan punggung bawah, urgensi dan frekuensi kemih, nocturia, dysuria, malaise umum, myalgia, artralgia, dan gejala obstruksi saluran kandung kemih (17).

II.4 Pemeriksaan untuk Menegakkan Diagnosis

1.    Uji kultur urin

Kultur urin merupakan pemeriksaan baku emas untuk mendiagnosis ISK, interpretasi hasil dengan menghitung jumlah kuman yang ada pada media kultur (18).

2.    Uji pyuria

Uji pyuria dilakukan dengan mengetahui berapa banyak pyuria yang terdapat  dalam tubuh pasien, karena jika hanya mengetahui positif-negatifnya adanya pyuria  dan koloni akan sulit menentukan tingkat keparahan pasien (18).

3.    Leukosituria

Leukosituria merupakan suatu keadaan terdapatnya leukosit dalam urin yang disebabkan oleh mikroorganisme dalam urin. Leukosit positif tidak dapat dijadikan patokan untuk mendiagnosis ISK, namun leukosituria negatif tidak dapat menyingkirkan adanya ISK. Penelitian oleh Pardede  menyebutkan bahwa leukosituria pada ISK dapat dianggap bermakna, namun ISK juga dapat terjadi tanpa adanya leukosituria. Leukosituria juga dapat ditemukan pada keadaan kontaminasi vagina pada perempuan atau pada keadaan demam (19).

4.    Urin nitrit positif

Nitrit merupakan hasil oksidasi nitrat yang dilakukan oleh bakteri golongan Enterobacteriaceae. Stein et al menyebutkan bahwa pemeriksaan nitrit positif sangat sensitif untuk mendiagnosis ISK, namun jika hasilnya negatif tidak dapat menyingkirkan adanya ISK. Demikian pula Alley mengemukakan pendapat yang sama, yakni jika hasil nitrit positif dapat dicurigai adanya ISK, namun jika hasilnya negatif tidak dapat menyingkirkan kemungkinan adanya ISK sebab terdapat keadaan tertentu yang dapat menyebabkan hasil nitrit negatif pada pasien dengan ISK, seperti terinfeksi oleh bakteri yang tidak dapat menghasilkan nitrit atau urin yang diperiksa merupakan urin yang belum lama tersimpan di kandung kemih. Prajapati pada penelitiannya menyatakan bahwa pemeriksaan nitrit urin tidak cocok pada bayi dan anak kecil untuk men diagnosis ISK, sebab pada bayi dan anak kecil cenderung sering buang air kecil, dan bakteri dalam urin menghasilkan nitrit membutuhkan waktu sekitar 4 jam (19).

 

 

5.    Urin leukosite esterase positif

Leukosit esterase merupakan suatu keadaan dimana terdapatnya leukosit yang mengeluarkan enzim esterase yang disebabkan oleh adanya bakteri golongan Enterobacteriaceae. Tes leukosit esterase memiliki spesifisitas rendah namun memiliki sensitivitas yang baik untuk mendiagnosis ISK. Millner dan Becknell menyatakan bahwa leukosit esterase cukup sensitif untuk mendiagnosis ISK, namun leukosit esterase yang positif tidak selalu menunjukkan adanya ISK. Hal ini disebabkan karena tes ini memiliki spesifisitas rendah. Terdapat beberapa keadaan yang dapat menyebabkan leukosit esterase positif di antaranya ialah penyakit Kawasaki, glomerulonefritis, dan apendisitis (19).

6.    Metode flowcytometry

Metode flowcytometry yang dapat mendeteksi partikel dalam urin termasuk leukosit dan bakteria dalam waktu yang cepat dengan mewarnai partikel dalam urin menggunakan pewarna floresen, dalam studi dikatakan bahwa alat ini memiliki sensitivitas 89% dengan spesifisitas 79% (20).

Gambar. Alat Flowcytometry (20)

II.5    Terapi

II.5.1 Terapi Farmakologi

Agen Antimikroba yang digunakan dalam pengobatan ISK (18)

Antimikroba

Keterangan

Sulfonamid

Agen ini umumnya telah digantikan oleh lebih banyak agen karena resistensi.

Trimethoprim-sulfamethoxazole

Kombinasi ini sangat efektif melawan sebagian besar bakteri enterik aerobik kecuali Pseudomonas aeruginosa. Kadar jaringan saluran kemih yang tinggi dan kadar urin tercapai, yang mungkin penting dalam pengobatan infeksi yang rumit. Juga efektif sebagai profilaksis untuk infeksi berulang.

Penisilin :

Ampisilin

Ampisilin-asam klavulanat

Ampisilin adalah penisilin standar yang memiliki aktivitas spektrum luas. Peningkatan resistensi Escherichia coli telah membatasi penggunaan amoksisilin pada sistitis akut. Obat pilihan untuk enterococci yang peka terhadap penisilin. Amoksisilin-klavulanat lebih disukai untuk masalah resistensi.

Cephalosporins :

Cephalexin

Cefaclor

Cefadroxil

Cefuroxime

Cefixime

Cefprozil

Cefpodoxime

Tidak ada keuntungan besar dari agen ini dibandingkan agen lain dalam pengobatan ISK, dan harganya lebih mahal. Agen ini mungkin berguna dalam kasus resistensi terhadap amoksisilin dan trimetoprim-sulfametoksazol. Agen ini tidak aktif melawan enterococci.

Tetrasiklin:

Tetrasiklin

Doksisiklin

Minocycline

Agen ini telah efektif untuk episode awal infeksi saluran kemih; namun, resistensi turun dengan cepat, dan penggunaannya terbatas. Agen-agen ini juga menyebabkan pertumbuhan kandidat yang berlebihan. Mereka berguna terutama untuk infeksi klamidia.

Fluoroquinolones:

Ciprofloxacin

Norfloksasin

Levofloxacin

Kuinolon yang lebih baru memiliki spektrum aktivitas yang lebih besar, termasuk P. aeruginosa. Agen ini efektif untuk pielonefritis dan prostatitis. Hindari pada kehamilan dan anak-anak.

Nitrofurantoin

Agen ini efektif sebagai agen terapeutik dan profilaksis pada pasien dengan ISK berulang. Keuntungan utama adalah kurangnya resistensi bahkan setelah terapi jangka panjang. Efek sampingnya dapat membatasi penggunaan (intoleransi GI, neuropati, reaksi paru).

Azitromisin

Terapi dosis tunggal untuk infeksi klamidia.

Fosfomisin

Terapi dosis tunggal untuk infeksi tanpa komplikasi.

 

Terapi Oral (18)

Diagnosis

Patogen

Rekomendasi Pengobatan

Keterangan

Acute Uncomplicated Cystitis

Escherichia coli

Staphylococcus saprophyticus

1.  Trimethoprim-sulfamethoxazole × 3 hari

2.  Fluoroquinolone × 3 hari

3.  Nitrofurantion × 7 hari

4.  β-laktam × 3 hari

Terapi jangka pendek lebih efektif daripada dosis tunggal. β-Laktam sebagai kelompok tidak seefektif pada sistitis akut kemudian trimetoprim / sulfametoksazol atau fluoroquinolones.

Kehamilan

Escherichia coli

Staphylococcus saprophyticus

1.   Amoksisilin-klavulanat × 7 hari

2.   Sefalosporin × 7 hari

3.   Trimethoprim-sulfamethoxazole × 7 hari

Hindari trimetoprim-sulfametoksazol selama trimester ketiga.

Acute pyelonephritis

Uncomplicated

E. coli

 

 

 

 

 

 

Bakteri gram positif

1.   Quinolone × 14 hari

2.   Trimethoprim-sulfamethoxazole (jika rentan) × 14 hari

 

1.  Amoksisilin atau asam amoksisilin-klavulanat × 14 hari

 

Dapat dikelola sebagai pasien rawat jalan.

Complicated

E. coli

Proteus mirabilis

Klebisella pneumoniae

Pseudomonas aeruginosa

Enterococcus faecalis

1.    Quinolone × 14 hari

2.    Penisilin spektrum luas ditambah aminogliko-side

Tingkat keparahan penyakit akan menentukan durasi terapi IV; hasil kultur harus mengarahkan terapi.

Terapi oral dapat menyelesaikan 14 hari terapi.

Prostatitis

E. coli

K. pneumoniae

Proteus spp.

P. aeruginosa

1.    Trimethoprim-sulfamethoxazole × 4–6 minggu

2.    Kuinolon × 4–6 minggu

Prostatitis akut mungkin memerlukan terapi IV pada awalnya.

Prostatitis kronis mungkin memerlukan periode pengobatan atau pembedahan yang lebih lama.

 

Dari tabel-tabel diatas, dalam farmakoterapi ISK terdapat beberapa obat yang digunakan yakni sebagai berikut.

1.    Trimetoprim-Sulfametaksazol

Pengenalan trimethoprim dalam kombinasi dengan sulfametoksazol merupakan kemajuan penting dalam pengembangan agen antimikroba yang efektif secara klinis (21).

Mekanisme kerja

Mekanisme kerja dari keduan obat tersebut yaitu sulfamethoxazole bekerja secara kompetitif menghambat dihidropteroat sintase, enzim bakteri yang berperan dalam penggabungan asam para-aminobenzoat (PABA) ke dalam asam dihidropteroat. Trimethoprim akan menghambat asam dihidrofolat reductase dari bakteri yang akan mengubah asam dihidrofolat menjadi asam tetrahidrofolat, sehingga sintesis purin yang akhirnya kan menjadi DNA bakteri terganggu (21)

Spektrum antibakteri

Spektrum antibakteri trimetoprim mirip dengan sulfamethoxazole yaitu sebagian besar mikroorganisme gram negatif dan gram positif sensitif terhadap trimetoprim, tetapi ada variasi regional yang signifikan dalam kerentanan Enterobacteriaceae terhadap trimetopim karena penyebaran resistensi. lnteraksi yang sinergis antara kedua obat ini sangat jelas bahkan pada mikroorganisme yang resisten terhadap sulfonamida, tetapi sinergisme yang maksimal terjadi apabila mikroorganisme sensitif terhadap kedua obat tersebut (22). Kombinasi keduanya akan bekerja lebih efektif, dan seringkali kombinasi trimethoprim-sulfamethoxazole bersifat bakterisida dibandingkan dengan aktivitas bakteriostatik dari sulfonamide saja (21)

Penggunaan terapetik

Kombinasi trimetoprim- sulfamethoxazole efektif untuk berbagai macam infeksi seperti infkesi saluran kemih, infeksi bakteri pada saluran napas, infeksi gastrointestinal, profilaksis pada pasien neutropenik dan infeksi-infeksi lain misalnya infeksi nocardia, bruselosis, infkesis Stepnotrophomonas mathopilia dan infeksi oleh parasite usus Cyclospora dan Isospora (22).

Untuk terapi pada infeksi saluran kemih bagian bawah yang tidak komplikasi dengan trimetoprim-sulfametoksazol sering sangat efektif untuk bakteri yang sensitif, biasanya minimal selama 3 hari. Kombinasi ini berguna khususnya pada infeksi kronis dan kambuhan pada saluran kemih. Trimethoprim juga ditemukan dalam konsentrasi terapeutik pada sekresi prostatic dan trimethoprim-sulfametaksazol juga efektif untuk prostatitis bakteri (22).

Farmakokinetik

Profil farmakokinetik sulfametoksazol dan trimetoprim mirip, tetapi tidak mencapai sama persis rasio 20:1 pada konsentrasi dalam darah dan jaringan. Rasio dalam darah sering lebih besar dari 20:1, sedangkan yang terdapat di jaringan sering lebih sedikit. Setelah dosis oral tunggal sediaan kombinasi, konsentrasi darah puncak trimetoprim biasanya terjadi dalam 2 jam, sedangkan konsentrasi puncak sulfametoksazol memerlukan 4 jam. Waktu paruhh trimetoprim 11 jam, sedangkan waktu paruh sulfametoksazol 10 jam. Ketika 800 mg sulfametoksazolyang diberikan dengan 160 mg trimetoprim (rasio 5:1 konvensional) dua kali sehari, konsenuasi puncak obat dalam plasma mencapai rasio yang optimal. Konsentrasi puncak sama setelah pemberian infus intravena 800 mg sulfametoksazol 160 mg trimetoprim selama jangka waktu 1 jam. Tiimetoprim terdistribusi dan terkonsentrasi dengan cepat dalam jaringan, dan sekitar 40% terikat dengan protein plasma dengan adanya sulfametoksazol. Volume distribusi trimetoprim hampir 9 kali sulfametoksazol. Obat ini mudah memasuki CSF dan sputum. Konsentrasi tinggi masing-masing komponen juga ditemukan di empedu. Sekitar 65% sulfametoksazol terikat dengan protein plasma. Sekitar 60% trimetoprim yang diberikan dan dari 25–50% sulfametoksazol yang diberikan diekskresikan melalui urine dalam 24 jam. Dua pertiga sulfonamida ridak terkonjugasi. Metabolit trimetoprim juga diekskresikan. Laju ekskresi dan konsenrrasi kedua senyawa dalam urine menurun secara signifikan pada pasien uremia (22).

Dosis

Satu tablet kekuatan ganda setiap tablet mengandung trimethoprim 160 mg dan sulfametahoxazole 800 mg) diberikan setiap 12 jam, efektif untuk pengobatan infeksi saluran kemih, prostatis, kulit tanpa komplikasi dan infeksi yang disebabkan oleh Shigella dan Salmonella. Satu tablet kekuatan tunggal (mengandung trimethoprim 80 mg dan sulfamethoxazole 400 mg) diberikan 3 kali seminggu yang dapat berfungsi sebagai profilakasis pada infeksi saluran kemih berulang pada wanita.  Dosis untuk anak-anak yang mengalami shigellosis, infeksi saluran kemih, dan otitis media adalah trimeoprim 8 mg/kg per hari dan sulfamethoxazole 40 mg/kg per hari dibagi setiap 12 jam (21).

Efek samping:

Trimethoprim-sulfametoksazol dapat menyebabkan atau memperberat megaloblastosis, leukopenia, atau trombositopenia pada pasien yang mengalamai defisiensi folat. Reaksi dermatologis, reaksi GI berupa mual muntah. Reaksi SSP berupa sakit kepala, depresi dan halusinasi. Reaksi hematologi meliputo bermacam macam anemia (termasuk aplastic, hemolitik, dan makrositik), gangguan koagulasi, granulositopenia. Gangguan permanen fungsi ginjal dapat terjadi pada pengguna trimethoprim-sulfametoksazole pada psien dengan penyakit ginjal (22).

Kontraindikasi

Gangguan ginjal berat, hipersensitifitas terhadap sulfonamide dan trimethoprim (22).

2.    Florokuinolon

Florokuinolon merupakan turunan dari kuinolon. Kuinolon pertama adalah asam nalidiksat, diisolasi sebagai produk sampingan dari sintesis klorokuin dan dapat digunakan untuk pengobatan infeksi saluran kemih. 4-kuinolon terfluorinasi seperti ciprofloksasin, moksifloksasin, gtifloksasin adalah obat oral yang efektif untuk terapi bermacam-macam penyakit infeksi dan mempunyai efek samping yang relative sedikit (21).

Mekanisme kerja

Target antibiotik kuinolon adalah DNA gyrase bakteri dan topoimerase IV. Untuk sejumlah bakteri gram positif target utama kuinolon adalah topoimerase IV dan untuk sejumlah bakteri gram negative, target utamanya adalah DNA gyrase. Untuk memungkinkan terjadinya replikasi atau transkripsi DNA, kedua untaian DNA heliks ganda harus dipisahkan. Namun pemisahan kedua untai tersebut menyebabkan terjadinya supercoiling (pembentukan golongan DNA) positif yang berlebihan (overwinding) pada DNA didepan titik pemisahan. Enzim DNA gyrase bakteri bertanggungjawab untuk mengatasi rintangan mekanisme ini dengan melakukan pengenalan supercoiling negatif yang kontinu ke dalam DNA. Topoimerase IV memisahkan molekul DNA tertaut silang yang dihasilkan dari replikasi DNA, dan juga merupakan target kuinolon (22).

Spektrum antibakteri

Fluorokuinolon aktif melawan bakteri gram positif maupun negative.  Fluorokinolon merupakan obat bakterisidal yang kuat terhadap bermacam-macam mikroorganisme. Fluorokuinolon mampu melawan E. coli dan berbagai spesies Salmonella, Shigella, Enterobacter, Campylobacter dan Neisseria.  Fluorokuinolon juga memiliki aktivitas yang baik melawan Staphylococcus tetapi tidak melawan strain yang resisten methicillin. Aktivitas terhadap strepthococcus terbatas pada subset kuinolon, termasuk levofloksasin, gatifloksasin, dan moksifloksasin. Beberap bakteri intraseluler dihambat oleh fluorokuinolon (Gilman et al, 2011).

Penggunaan terapetik

Fluorokuinolon dapat digunakan untuk pengobatan, infeksi saluran kemih, prostatitis, penyakit menular seksual seperti gonnorhea, infeksi GI dan abdomen, infeksi tulang, sendi dan jaringan lunak. Pada infeksi saluran kemih, asam nalidixic hanya berguna untuk ISK yang disebabkan oleh mikroorganisme yang rentan. Fluorokuinolon secara signifikan lebih kuat dan memiliki spectrum akytivitas antimikroba yang jauh lebih luas. Norfloksasin disetujui penggunaannya di Amerika Serikat hanya untuk infeksi saluran kemih. Uji klinis komparatif menunjukkan bahwa fluorokuinon lebih besar efikasinya daripada trimethoprim-sulfamethoxazole untuk pengobatan ISK. Untuk pengobatan prostatitis, norfloksasin, ciproloksasin dan ofloksasin semuanya telah efektif dalam uji coba yang tidak terkontrol untuk pengobatan prostatitis yang disebabkan oleh bakteri sensitive. Fluorokuinolone diberikan selama 4-6 minggu efektif pada pasien yang tidak memberikan respon terhadap trimethoprim-sulfamethoxazole (Gilman et al, 2011).

Farmakokinetik

Kuinolon diabsorpsi dengan baik setelah pemberian oral dan terdistribusi luas. Kadar serum puncak fluorokuinolon pada dosis oral 400 mg terjadi dalam waktu 1-3 jam. Kadar serum norfloksasin yang relatif rendah membatasi kegunaannya untuk terapi infeksi saluran kemih. Makanan tidak mengganggu absorpsi oral, tetapi dapat menunda waktu untuk mencapai konsentrasi serum puncak. Dosis oral dewasa 200-400 mg tiap 12 jam untuk ofloksasin, 400 mg setiap 12 jam untuk norfloksasin dan pefoloksasin, dan 250-750 mg setiap 12 jam untuk siprofloksasin. Bioavailabilitas fluorokuinolon lebih dan 50% untuk semua obat dan 95% untu beberapa obat. Waktu paruh serum bervariasi dari 3-5 jam untuk norfloksasin dan siprofloksasin serta sampai 20 jam untuk sparfoksasin. Volume distribusi kuinolon tinggi, dengan konsentrasi di urine, ginjal, paru-paru, dan jaringan prostat, feses, empedu, dan makrofag dan neutrofil lebih tinggi daripada kadar serum. Konsentrasi kuinolon di CSE tulang, dan cairan prosratik lebih rendah daripada kadar dalam serum. Kadar pefloksasin dan ofoksasin dalam cairan asites mendekati kadar serum, dan siplofloksasin, ofloksasin, dan pefloksasin terdeteksi pada ASI. Sebagian besar kuinolon dibersihkan terutama oleh ginjal, dan dosis harus disesuaikan untuk gagal ginjal. Pefoksasin dan moksifoksasin dimetabolisme terutama oleh hati dan tidak boleh digunakan pada pasien dengan gagal hati. Tidak ada sarupun yang dibersihkan secara efisien melalui peritoneal atau hemodialysis (22).

Efek samping

Efek samping yang paling umum meliputi gangguan saluran GI seperti mual, muntah atau gangguan abdominal. Efek samping SSP terutama sakit kepala ringan, pening. Ruam, termasuk reaksi fotosensivitas juga dapat terjadi (22).

Kontraindikasi

Penggunaan bersama teofilin, karena ciprofloksasin dan pefloksasin dapat menghambat metabolism teofilin dan menginduksi kadar toksik. Pada umumnya, penggunaan kuinolon dikontraindikasikan pada anak-anak karena menyebabkan aftropati. Kuinolon mungkin harus digunakan dengan hati-hati pada pasien yang menggunakan antiaritmia, termasuk amiodaron, kuinidin, dan prokainamida.  Informasi penulisan resep untuk gatifloksasin meliputi kontraindikasi pada pasien diabetik karena ada laporan hipoglikemia dan hiperglikemia yang serius. Faktonfaktor risiko untuk efek merugikan ini mencakup usia lanjut, rnsufisiensi ginjal, dan terapi tambahan dengan obat-obatan yang memengaruhi glukosa (22).   

3.    Cephalosporin

Cephalosporin diklasifiksikan berdasarkan generasi. Generasi pertama contohnya cephalothin dan cefazoline, mempunyai aktivitas yang aik terhadap bakteri gram positif dan aktivitas yang relative sedang terhadap mikroorganisme gram negative. Cephalosporin generasi kedua memiliki peningkatan  aktivitas terhadap mikroorganisme gram negative, tetapi jauh kurang efektif dari pada cephalosporin generasi ketiga. Contoh obat generasi kedua yaitu cefoxitin, cefotetan, dan cefametazole. Cephalosporine generasi ketiga umumnya kurang aktif dari pada obat generasi pertama dalam melawan kokus gram positif, tetapi jauh lebih aktif terhadap enterobacteriaceae, termasuk galur penghasil β-lactamase. Sebagian obat generasi ketiga contohnya ceftazidime and cefoperazone juga aktif terhadap P. aeruginosan tetapi kurang aktif daripada obat generasi-ketiga lain terhadap kokus gram-positif. Cephalosporin generasi ke empat seperti cefepime memiliki spektrum aktivitas yang lebih luas dibandingkan dengan generasi ketiga dan tahan terhadap hidrolisis oleh β-laktamase. Obat generasi keempat sangat berguna untuk pengobatan empiris infeksi serius pada pasien rawat inap jika mikroorganisme gram positif, Enterobacteriaceae, dan Pseudomonas merupakan penyebab yang potensial (Gilman et al, 2011).

Mekanisme kerja

Cephalosporin menghambat sintesis dinding sel bakteri dengan cara yang sama seperti penicillin(Gilman et al, 2011).

Spectrum antibakteri

Cephalosporin merupakan antibiotik spectrum luas (22).

Penggunaan terapetik

Cephalosporin digunakan untuk pengobatan infeksi saluran pernapasan bagian bawah, infeksi saluran kemih, infeksi intraabdominal, infeksi kulit dan jaringan, infeksi tulang dan sendi, septicemia dan meningitis (22).

Farmakokinetik

Cephalosporine secara umum dieksresi terutama melalui ginjal, dan dosis harus diturunkan pada pasien dengan insufisiensi ginjal. Sefpiramida dan sefoperazon dieksresi sebagian besar dalam empedu. Sefotaksim mengalami deasetilasi menjadi metabolit dengan aktivitas antimikroba yang lebih lemah daripada senyawa induknya dan dieksresi melalui ginjal. Sefalosporin lain tidak mengalami metabolism yang cukup berarti. Beberapa sefalosporin (contohnya, sefotaksim, seftriakson, dan sefepim) berpenetrasi ke dalam CSF dalam kadar yang cukup untuk pengobatan meningitis. Sefalosporin juga melewati plasenta dan ditemukan dalam kadar yang tinggi di sinovial dan cairan perikardium. Penetrasi ke dalam aqueous humor mata relatif baik setelah pemberian sistemik obat generasi-ketiga, tetapi penetrasi ke dalam uitreous ltumor sedikit. Kadar yang cukup untuk terapi infeksi okular akibat mikroorganisme gram positif dan beberapa gram-negatif dapat dicapai setelah pemberian sistemik, Kadar dalam empedu biasa nya tinggi, terutama dengan sefoperazon dan sefpiramida (22).

Tabel. obat cephalosporin (22)

Nama obat

Dosis

Waktu paruh

 

Generasi pertama

Cefadroxil

Oral suspensi: 1 g setiap 12 jam

1,1 jam

 

Cefazolia

Injeksi: 1-1.,5 g setiap 6 jam

Sekitar 2 jam

 

Cephalexin

Oral suspensi: 1 g setiap 6 jam

0,9 jam

 

Generasi kedua

Cefaclor

Oral suspensi: 1 g setiap 8 jam

0.7 jam

 

Ceforanide

Injeksi: 1 g setiap 12 jam

2.6 jam

 

Cefotetan

Injkesi:  2-3 g setiap 12 jam

3,3 jam

 

cefoxitin

Injeksi: 2 g setiap 4 jam atau 3 g setiap 6 jam

0,7 jam

 

Cefroxil

Oral suspensi: 500 mg setiap 12 jam

1,3 jam

 

Cefuroxime acetil

Injeksi : 3 g setiap 8 jam

Tablet: 500 mg setiap 12 jam

1,7 jam

 

Generasi ketiga

Cefdinir

Oral suspensi: 300 mg setiap 12 jam atau 600 mg setiap 24 jam

1,7 jam

 

Cefditoren piroxil

Oral suspensi: 400 mg setiap 24 jam

1,6 jam

 

Cefibuten

Oral suspense: 400 mg setiap 24 jam

2,4 jam

 

Cefixime

Oral suspense: 400 mg/hari atau 200 mg setiap 12 jam

3,5 jam

 

Cefotaxime

Injeksi: 2 g setiap 4-8 jam

1,1 jam

 

Cefpodoxime proxetil

Oral suspense: 200-400 mg setiap 12 jam

2,2 jam

 

Ceftizoxime

Injeksi: 3-4 g setiap 8 jam

1,8 jam

 

Ceftazidime

Injeksi: 2 g setiap 8 jam

1,8 jam

 

Ceftriaxone

Injeksi : 2 g setiap 12-24 jam

8 jam

 

Generasi keempat

Cefepime

Injeksi : 2 g setiap 8 jam

2 jam

 

 

Efek samping

Reaksi hipersensitivitas merupakan efek samping yang paling umum. Reaksi Coombs yang positif sering terjadi pada pasien yang menerima dosis besar cephalosporin, tetapi jarang terjadi hemolisis. Nekrosis tubular akut terjadi setelah pemberian sefaloridin dalam dosis yang lebih besar dari 4 g/hari. Dosis tinggi sefalotin menyebabkan nekrosis tubular akut, dan dosis lazim (8-12 g/hari) menyebabkan nefrotoksisitas pada pasien dengan penyakit ginjal sebelumnya. Diare dapat diakibatkan dari pemberian cephalosporin dan lebih sering diakibatkan sefoperazon. Perdarahan serius berhubungan dengan hipoprotrombinemia, trombositopenia, dan/atau disfungsi platelet pernah dilaporkan (22).

Kontraindikasi 

Pasien yang hipersesntif terhadap antibiotik cephalosporin, gangguan ginjal (22).

 

 

4.    Amoksisilin

Amoksisilin merupakan prototype golongan aminopensisilin (22).

Mekanisme kerja

Obat ini bekerja dengan menghambat biosintesis dinding sel mukopeptida (22).

Spectrum antibakteri

Amoksisilin adalah suatu antibiotik penicillin berspektrum luas yang memiliki cincin β- laktam. Amoksisilin digunakan sebagai antibakteri yang disebabkan oleh bakteri gram positif dan bakteri gram negatif yang rentan. Spektrum antimikroba amoksisilin sangat identik dengan ampisilin, kecuali bahwa amoksisilin kurang efektif untuk sigelosi (22).

Penggunaan terapetik

Obat aminopenisilin ini dapat digunakan untuk pengobatan infeksi saluran pernapasan atas, infeksi saluran kemih, meningitis, infeksi salmonella. Untuk pengobatan infeksi saluran kemih obat ini dapat digunakan karena. Sebagian besar infeksi saluran kemih tanpa komplikasi diiebabkan oleh Enterobacteriaceae, dan E. coli adalah spesies yang paling umum. Amoksisilin  sering menjadi obat yang efektif walaupun resistensinya meningkat (22).

Farmakokinetik

Obat ini diabsorpsi lebih cepat dan lengkap dari saluran GI daripada ampisilin. Kadar puncak amoksisilin (euoxrr, dll) dalam plasma dua kali lebih besar daripada ampisilin setelah pemberian oral pada dosis yang sama. Makanan tidak mengganggu absorpsi. Mungkin karena absorpsinya yang lebih baik, insiden diare akibat amoksisilin leblh kecil daripada ampisilin. Insiden efek merugikan lainnya sama. Walaupun waktu pruh amoksisilin sama dengan ampisilin, kadar efektif amoksisilin oral yang terdeteksi dalam plasma dua kali lebih lama daripada ampisilin karena absorpsinya yang lebih sempurna. Sekitar 20% amoksisilin terikat dengan protein dalam plasma. Sebagian besar antibiotik ini dieksresi dalam bentuk aktif dalam urin (22).

Efek samping

Reaksi hipersensivitas, mual, muntah, diare, ruam (22).

Kontraindikasi:

Kontraindikasi terhadap pasien yang hipersensitivitas terhadap penisilin (22).

5.    Nitrofurontoin

Mekanisme kerja

Nitrofurantoin mengganggu metabolisme karbohidrat organisme dengan menghambat bakteri asetil koenzim-A. Ini juga menghambat sintesis protein, metabolisme energi aerobik, DNA, RNA, dan sintesis dinding sel bakteri (22).

Spectrum antibakteri

Nitrofurantoin aktif melawan banyak strain E. coli dan enterococci. Namun sebagian besar spesies Proteus, Pseudomonas dan banyak sepesies Enterobacter dan Klebisella yang resisten. Nitrofurantoin adalah bersifat bakteriostatik untuk sebagian mikroorganisme yang rentan pada konsentrasi ≤32 µg/ml dan bersifat bekterisidal pada konsentrasi ≥100 µg/ml (22).

Penggunaan terapetik

Nitrofurantoin hanya disetujui untuk pengobatan pengobatan infeksi saluran kemih yang disebabkan oleh mikroorganisme yang diketahui rentan terhadap obat tersebut. Namun nitrofurantoin tidak direkomendasikan untuk pengobatan pyelonephritis atau prostatitis (22).

Farmakokinetik

Nitrofurantoin diserap dengan cepat dan sepenuhnya dari GI. Bentuk obat makrokristalin diserap dan diekskresi lebih lambat. Konsentrasi antibakteri tidak dicapai dalam plasma setelah konsumsi sesuai dosisi yang dianjurkan karena obat dieliminasi dengan cepat. Waktu paruh plasma adalah 0,3-1 jam, 40% dieksresikan kedalam urin tidak berubah (22).

Dosis

Dosis oral nitrofurantoin untuk orang dewasa adalah 50-100 mg 4 kali sehari dengan makan dan sebelum tidur, dikurangi untuk formulasi makrokristalin  (100 mg setiap 12 jam selama 7 hari). Atau Dosis harian lebih baik dinyatakan sebagai 5-7 mg / kg dalam 4 dosis terbagi (tidak melebihi 400 mg). Dosis tunggal 50-100 mg pada sebelum tidur mungkin cukup untuk mencegah kekambuhan. Dosis harian untuk anak-anak adalah 5-7 mg / kg tetapi mungkin dikurangi 1 mg / kg untuk terapi jangka panjang (22).

Efek samping

Efek samping yang paling umum yaitu mual, muntah, diare. Reaksi hipersensivitas kadang terjadi seperti menggigil, demam, leukopenia, granulositenia, anemia hemolitik. Kolestasis, ikterius dan kerusakan hepatoseluler, Hepatitis aktif kronis adalah efek samping yang tidak umum tetapi serius. Pneumonitis akut dengan demam, menggigil, batuk, dispnea, nyeri dada, infiltrasi paru, dan eosinofilia dapat terjadi dalam beberapa jam sampai hari sejak dimulainya terapi, gejala ini biasanya sembuh dengan cepat setelah penghentian obat (22).

Kontraindikasi

Wanita hamil, pasien dengan gangguan fungsi ginjal (klirens kreatinin <40 ml/menit) dan anak-anak <1 bulan (22).

II.5.2 Terapi Non Farmakologi

Berdasarkan Permenkes (2014), penatalaksanaan ISK secara non-farmakologi adalah minum air putih minimal 2 liter/hari bila fungsi ginjal normal dan menjaga higienitas genitalia eksternal (23).

II.6 Evaluasi Hasil Terapi

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pola penggunaan antibiotik pada pasien infeksi saluran kemih. Antibiotik merupakan obat pilihan utama untuk pengobatan infeksi saluran kemih. Pengumpulan data diambil dari data rekam medik pasien yang didiagnosa infeksi saluran kemih dari 64 kasus pasien rawat inap diperoleh 40 data pasien yang masuk dalam kriteria inklusi .

Karateristik Pasien

1.      Kelompok umur dan jenis kelamin

Angka kejadian infeksi saluran kemih pada penelitian ini banyak terjadi pada pasien perempuan yaitu sebanyak 24 pasien (60 %). Hal ini dapat terjadi karena pada wanita uretranya lebih pendek (2-3 cm) dibandingkan laki - laki. Pendeknya uretra pada wanita menyebabkan bakteri lebih mudah masuk kedalam kandung kemih dan menyebabkan infeksi. Pada pasien geriatri rentan terkena infeksi saluran kemih, karena mengalami penurunan sistem imunologis, kurangnya menjaga kebersihan, penggunaan kateter dapat meningkatkan resiko infeksi saluran kemih pada geriatri (24).

2.      Gejala yang dialami pasien

Infeksi saluran kemih di klasifikasi menjadi dua yaitu infeksi saluran kemih bagian atas dan infeksi saluran kemih bagian bawah, untuk menentukan apakah infeksi saluran kemih bagian atas atau infeksi saluran kemih bagian bawah dapat dilihat dari gejala yang dialami oleh pasien. Gejala klinis infeksi saluran kemih bagian atas biasanya ditemukan gejala sakit pinggang, mual muntah dan, demam. Sedangkan gejala klinis infeksi saluran kemih bagian bawah gejalanya berupa nyeri perut bagian bawah, rasa sakit saat buang air kecil (disuria), sering buang air kecil pada malam hari (nokturia) (15). Gejala yang dialami pasien merupakan pertimbangan dalam menegakkan diagnosis apakah masuk kriteria infeksi saluran kemih bagian atas atau masuk dalam infeksi saluran kemih bagian bawah.

Berdasarkan tabel 2 dapat diketahui bahwa gejala banyak mengarah pada infeksi saluran kemih bagian atas, gejala-gejala infeksi saluran kemih bagian atas antara lain, demam, mual, muntah dan nyeri pinggang. Dari tabel 2 dapat dilihat gejala demam 9 kasus (22,5%), mual muntah 9 kasus (22,5%) dan nyeri pinggang 18 kasus (45%), sedangkan untuk gejala infeksi saluran kemih bagian bawah gejala dysuria 15 kasus (37,5%), nokturia 8 kasus (20%), hematuria 1 kasus (2,5%). Dari analisis gejala yang dialami pasien yang didiagnosis infeksi saluran kemih di Instalasi Rawat Inap RSPAU dr. S. Hardjolukito Yogyakarta tahun 2014 menunjukkan sebagian besar pasien mengalami infeksi saluran kemih bagian atas.

3.          Hasil Penggolongan Penyakit

Pada rekam medis pasien tidak dinyatakan apakah pasien didiagnosis menderita infeksi saluran kemih atas atau infeksi saluran kemih bawah, sehingga peneliti menggolongkan pasien berdasarkan gejala yang tertulis di rekam medis sebagai berikut:

a.    Pasien digolongkan dalam kelompok pasien yang terkena infeksi saluran atas jika di rekam medis tertulis, nyeri pinggang, demam, mual muntah, hematuria.

b.    Pasien digolongkan dalam kelompok pasien yang terkena infeksi saluran kemih bawah jika di rekam medis tertulis nyeri saat buang air kecil, nyeri perut bagian bawah, anyang–anyangan.

Berdasarkan pada tabel 3, didapatkan pasien yang didiagnosis paling banyak adalah infeksi saluran kemih bagian atas sebanyak 22 pasien (55%), sedangkan pada pasien yang didiagnosis infeksi saluran kemih bagian bawah adalah 18 pasien (45%). Data ini menunjukkan bahwa kejadian infeksi saluran kemih bagian atas lebih banyak dibandingkan infeksi saluran kemih bagian bawah di rumah sakit RSPAU dr. S. Hardjolukito Yogyakarta tahun 2014. Data penelitian epidemiologi klinik melaporkan 25-35% perempuan dewasa pernah mengalami infeksi saluran kemih (ISK), umumnya empat sampai lima kali lebih mudah terinfeksi ISK dibandingkan pria karena uretra wanita lebih pendek dibandingkan pria (Sotelo & Westney, 2003). Karakteristik Obat Pengobatan pada pasien yang didiagnosis infeksi saluran kemih dapat disesuaikan dengan gejala yang dialami pasien. Pada penelitian ini obat yang digunakan pada pasien yang didiagnosis infeksi saluran kemih di Instalasi Rawat Inap RSPAU dr. S. Hardjolukito Yogyakarta tahun 2014 dikelompokkan sesuai dengan golongannya (Tabel 4).

Golongan antibiotik yang paling banyak digunakan adalah golongan flourokuinolon generasi ke 2 (siprofloksasin) sebanyak 32 pasien (80%) dan golongan sefalosporin generasi ke 3 (seftriakson) sebanyak 12 pasien (30%). Sefalosporin banyak digunakan pada terapi infeksi saluran kemih karena obat tersebut merupakan drug of choice pada penyakit infeksi saluran kemih (18).

Antibiotik kombinasi yang digunakan pada pengobatan pasien yang terdiagnosis infeksi saluran kemih adalah kombinasi antara siprofloksasin-seftriakson sebanyak 3 pasien (7,5%) (Tabel 6).

Ketepatan Penggunaan Antibiotik

Kerasionalan penggunaan antibiotik dapat dievaluasi dengan menggunakan parameter tepat indikasi, tepat pasien, tepat obat, tepat dosis dengan melihat standar acuan IDSA Guideline tahun 2011 dan Guidelines for management of serve and sepsis shock tahun 2004 dalam Dipiro 2008 (18).

1.      Tepat indikasi

Penggunaan obat secara tepat indikasi harus sesuai dengan gejala dan diagnosis yang ada. Ketepatan indikasi penggunaan antibiotik pada pasien yang didiagnosis infeksi saluran kemih dapat dilihat pada tabel 7.

Berdasarkan data pada tabel 7, menunjukkan bahwa ketepatan indikasi pada pasien yang didiagnosis infeksi saluran kemih di Instalasi Rawat Inap RSPAU dr. S. Hardjolukito Yogyakarta tahun 2014 sebanyak 40 pasien (100%). Data pada tabel 8 menunjukkan bahwa pasien yang didiagnosis infeksi saluran kemih diberikan antibiotik sesuai dengan gejala pasien infeksi saluran kemih.

2.      Tepat Pasien

a. Fungsi Hati Pasien Infeksi Saluran Kemih Hati sangat penting dalam sistem metabolisme. Pemeriksaan laboratorium tes fungsi hati dilakukan dengan tes serum enzim yaitu serum glutamic oxaloasetic transaminase (SGOT) atau aspartate aminotransferase (AST) dan serum glutamic pyruvic transaminase (SGPT) atau alanine aminotransferase (ALT). Berdasarkan data yang diperoleh dari pasien yang di diagnosis infeksi saluran kemih di Instalasi Rawat Inap RSPAU dr. S. Hardjolukito Yogyakarta disimpulkan bahwa 34 pasien memiliki nilai AST dalam rentang normal (10,0-42,0 UI/L) dan 1 pasien dalam rentang sedang (10,0-40,0) sedangkan 5 pasien tidak melakukan tes AST dan ALT.

b. Fungsi Ginjal Pasien Infeksi Saluran Kemih Pasien yang didiagnosis infeksi saluran kemih di Instalasi Rawat Inap RSPAU dr. S. Hardjolukito Yogyakarta tahun 2014 yang mempunyai data serum kreatinin sebanyak 35 pasien(87,5%) dan yang tidak mempunyai data serum kreatinin adalah 5 pasien (12,5%). Nilai klirens kreatinin dihitung dengan rumus jelliffe nilai klirens kreatinin normal adalah ≥ 90ml/menit. Gangguan fungsi ginjal dapat diklasifikasikan menjadi 4 yaitu, gagal ginjal stage 1 (ringan) dengan nilai kreatinin 60-89ml/menit, gagal ginjal stage 2 (sedang) dengan nilai kliren kreatinin 30-59ml/menit, gagal ginjal stage 3 (berat) dengan nilai kliren kreatinin 15-29 ml/menit, dan gagal ginjal stage 4 (dialysis) dengan nilai kliren kreatinin ≤ 15 ml/menit (18). Tes fungsi ginjal ini berguna dalam menentukan ketepatan pemberian antibiotik pada pasien yang didiagnosis infeksi saluran kemih. Ketepatan pemberian obat pada pasien infeksi saluran kemih sesuai dengan kondisi fisiologis pasien untuk menghindari kontraindikasi, berdasarkan data yang diperoleh menunjukkan penggunaan antibiotik yang tepat pasien adalah 40 pasien (100%) karena tidak ada kontraindikasi dengan kondisi pasien.

3.  Tepat Obat

Ketepatan obat merupakan kesesuaian pemilihan kriteria obat yang sesuai dengan drug of choice pada pasien yang didiagnosis infeksi saluran kemih di Instalasi Rawat Inap RSPAU dr. S. Hardjolukito Yogyakarta Tahun 2014.

Berdasarkan tabel 8, hasil penggunaan antibiotik pada pasien infeksi saluran kemih terdapat 36 pasien (90%) yang tepat obat sesuai dengan drug of choice dan 4 pasien (10%) tidak tepat obat karena seftriakson bukan merupakan drug of choice pada pasien infeksi saluran kemih bawah.

4.  Tepat Dosis

Tepat dosis merupakan parameter ketepatan pemberian besaran dosis obat, frekuensi pemberian, besaran dosis obat, rute dan durasi pemberian obat pada pasien infeksi saluran kemih yang sesuai dengan IDSA Guideline tahun 2011 dan Guidelines for management of serve and sepsis shock tahun 2004 dalam Dipiro 2008 (18).

Berdasarkan tabel 9, ketepatan obat antibiotik pada pasien infeksi saluran kemih bagian atas yang tepat dosis sebanyak 7 pasien (17,5%), durasi kurang 11 pasien (27,5%), durasi lebih 4 pasien, penggunaan antibiotik dengan rute p.o sebanyak 18 pasien (45%) sedangkan penggunaan rute i.v 4 pasien (10%). Penggunaan antibiotik pada pasien yang didiagnosis infeksi saluran kemih bagian bawah tidak ada yang tepat dosis, ketidaktepatan dosis tersebut termasuk dalam kategori besaran lebih sebanyak 14 pasien (35%), frekuensi lebih 14 pasien (35%), durasi lebih 14 pasien (35%), penggunaan antibiotik penggunaan rute p.o sebanyak 14 pasien (35%) dan rute i.v tidak ada, berdasarkan data yang diperoleh pasien yang didiagnosa infeksi saluran kemih bawah tidak mendapatkan dosis yang tepat. Evaluasi Kerasionalan Antibiotik Berdasarkan data penelitian didapatkan hasil evaluasi penggunaan antibiotik pada pasien yang didiagnosis infeksi saluran kemih yang masuk kriteria tepat indikasi 40 pasien (100%), tepat pasien 40 pasien (100%), pasien tepat obat 36 pasien (90%), dan tepat dosis 7 pasien (17,5%), penggunaan antibiotik yang rasional sebanyak 7 pasien (17,5%). Keterbatasan Penelitian Pada penelitian ini diagnosis dibuat oleh peneliti, karena tidak ada penulisan diagnosis di rekam medik, sehingga penulis menggolongkan dari gejala pasien yang tertulis di rekam medik apakah masuk kriteria infeksi saluran kemih atas atau infeksi saluran kemih bawah.

Berdasarkan hasil penelitian evaluasi penggunaan antibiotik pada pasien yang didiagnosis infeksi saluran kemih di Instalasi Rawat Inap RSPAU dr. S. Hardjolukito Yogyakarta tahun 2014, dapat disimpulkan bahwa yang memenuhi kriteria tepat indikasi 100% sebanyak 40 pasien, tepat pasien 100% sebanyak 40 pasien, tepat obat 90% sebanyak 36 pasien dan tepat dosis 17,5% sebanyak 7 pasien, penggunaan antibiotik yang rasional sebanyak 7 pasien (17,5%). Obat antibiotik yang paling banyak digunakan adalah siprofloksasin karena merupakan drug of choice.

 

 

 

 


 

BAB III

PENUTUP

III.1 Kesimpulan

Infeksi Saluran Kemih (ISK) atau Urinarius Troctus Infection (UTI) merupakan suatu keadaan adanya infasi mikroorganisme pada saluran kemih. ISK diantaranya iala cystitis dan prostatitis. Cystitis (inflamasi kandung kemih) yang paling sering disebabkan oleh menyebarnya infeksi dari uretra. Wanita lebih sering mengalami cystitis dibanding pria. Sedangkan Prostatitis merupakan kondisi peradangan akut atau kronis yang mempengaruhi prostat. Diperkirakan kalau separuh dari seluruh laki-laki yang ada di dunia akan mengalami gejala prostatitis sepanjang hidupnya. Infeksi saluran kemih cystitis biasanya dimulai dengan kontaminasi periuretra oleh uropatogen yang berada di usus, diikuti oleh kolonisasi uretra dan, terakhir, migrasi oleh flagela dan pili patogen ke kandung kemih atau ginjal, sementara patofisiologi prostatitis masih belum jelas seluruhnya.

Gejala yang umum yang sering timbul pada pederita cystitis yaitu rasa terbakar saat buang air kecil (disuria), sering buang air kecil, nyeri suprapubic (nyeri punggung bawah), demam disertai darah dalam urin (hematuria), adanya sel-sel darah putih dalam urin, dan nyeri punggung. Sementara, gejala yang dominan ditemukan pada penderita prostatitis bakteri yaitu rasa sakit di berbagai lokasi, sering muncul keinginan untuk buang air kecil (berkemih), merasa kesulitan saat awal berkemih, berkemih dengan durasi yang lama, aliran urin lambat dan tersendat-sendat dan adanya LUTS.

Adapun pemeriksaan penunjang diagnosis yang dapat dilakukan yaitu uji kultur urin, uji pyuria, leukosituria, uji nitrit positif, uji leukosit esterase dan metode flowcymetry. Adapun terapi farmakologi cystitis dan prostatitis iala trimetoprim-sulfametaksazol, flourokuinolon, amoksilin, cepalosporin, dan nitrofuiron. Untuk terapi non farmakologinya dapat dilakuakan dengan adalah minum air putih minimal 2 liter/hari bila fungsi ginjal normal dan menjaga higienitas genitalia eksternal. Hasil evaluasi terapi dapat diliat pada karakteristik pasien dan ketepatan penggunaan antibiotik.

III.2 Saran

Dalam penulisan makalah ini sebaiknya penulis lebih memperinci mengenai output hasil evaluasi.

 


 

REFERENSI

1.    Nuari, N.A., dan Widayati, D. Gangguan Pada Sistem Perkemihan & Penatalaksanaan Keperawatan [Internet].  Sleman : Penerbit Deeppublish; 2017 [dikutip 2021 Mei 14]. Hal. 1-32. Tersedia dari https://books.google.co.id/books?id=EbDWDgAAQBAJ&printsec=frontcover&dq=penyakit+saluran+kemih&hl=id&newbks=1&newbks_redir=0&sa=X&ved=2ahUKEwi96ILAusnwAhVbbysKHbltBLEQ6AEwAXoECAYQAg#v=onepage&q&f=true

2.    Alldredge, BK, Corelli, RL, Ernst, ME, Guglielmo, BJ, Jacobson, PA, Kradjan, WA. Koda-Kimble & Young’s Applied Therapeutics The Clinical Use of Drugs, 10th ed. United States of America : Lippincott Williams & Wilkins, Pennsylvania. 2013. Hal. 1595-1598.

3.    Laposata M. Laboratory Medicine Second Edition. New York : Mc Graw Hill. 2014. Hal. 146.

4.    Smyth EG, O'Connell N. Complicated Urinary Tract Infection. Drugs & Therapy Perspectives. p. 11(1), 1998. Hal. 63-6.

5.    Shortliffe & McCue J.D. Urinary Tract Infection at The Age Extremes: Pediatric and Geriatric (Abstract). The American Journal of Medicine; Vol.113, 2002 , Hal. 55-56.

6.    World Health Organization (WHO). Prevention of Hospital-Acquired Infection, A practical Guide 2nd edition. 2011.

7.    Sjahdeini SR. Hukum Kesehatan Tentang Hukum Malapraktik Tenaga Medis. Bogor : IPB Press. 2020, Hal. 247.

8.    Dinkes, Jateng. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2012. Semarang: Dinkes Jateng. 2013.

9.    Seputra K.P. dkk. 2015. Guideline Penatalaksanaan Infeksi Saluran Kemih dan Genitalia Pria. Surabaya : Ikatan Ahli Urologi Indonesia.

10. Wagenlehner FM, Weidner W, Pilatz A, Naber KG. Urinary Tract Infections and Bacterial Prostatitis in Men. Curr Opin Infect Dis. 27:97–10, 2014.

11. Mändar R. 2013. Microbiota of Male Genital Tract: Impact on the Health of Man and His Partner. Pharmacol Res.69:32–41, 2013.

12. Soepraptie, T., Lumintang, H., Erlia, N., dan Astari, L. Sindroma Prostatitis. Berkala Ilmu Kesehatan Kulit & Kelamin. Vol. 20 No. 3 Desember 2008.

13. Lee, H dan Jennifer. Urinary Tract Infection. PSAP BOOK 1 Infection Diseases.2018. Hal.7-8.

14. Samirah, Darwati, Windarwati, et al. 2009. Pola dan Sensitivitas Kuman di Penderita Infeksi Saluran Kemih. Indonesian Journal of Clinical Pathology and Medical Laboratory;12: Hal.110-3.

15. Coyle EA, Prince RA. Urinary Tract Infection and Prostatitis In: Dipiro JT, ed. Pharmacotherapy : A Pathophysiologic Approach. USA: The Mc Graw Hill Medical’v. 2010.

16. Sjahdeini SR. Hukum Kesehatan Tentang Hukum Malapraktik Tenaga Medis. Bogor : IPB Press. 2020. Hal.247.

17. Seputra KP. dkk. Guideline Penatalaksanaan Infeksi Saluran Kemih dan Genitalia Pria. Surabaya : Ikatan Ahli Urologi Indonesia. 2015. Hal.62-63.

18. Dipiro JT, Talbert RL, Yee GC, Matzke GR, Wells BG, Posey LM. Pharmacotherapy: A Pathophysiologic Approach Seventh Edition. TheMcGraw-Hill Companies. Inc. USA. 2008.

19. Sabriani, Jehan. Dkk. Perbandingan Leukosituria, Nitrit, Leukosit Esterase dengan Kultur Urin dalam Mendiagnosis Infeksi Saluran Kemih pada Anak. Manado: Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi. Medical Scope Journal (MSJ). 2021;2(2):7 8 -86.

20. Pratisth Fernanda Savitri Mega. Dkk. Diagnosis cepat infeksi saluran kemih dengan menghitung jumlah leukosituria pada urinalisis metode flowcytometry sysmex UX-2000 dengan baku emas kultur urin di RSUP Sanglah Denpasar. Denpasar: Fakultas Kedokteran Universitas Udayana. E-Jurnal Medika Udayana, Vol. 7 No. 5, Mei, 2018 : 211-216.

21. Katzung, B.G. Basic and Clinical Pharmacology. 14th Edition. USA: Mc Graw Hill. 2018.

22. Gilman G.A., Goodman L.S. Rald L.W.  The Pharmacological Basic of Therapeutics. 12 th Edition. New York: MC Millan Publishing Co. 2011.

23. Menkes RI. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2014 Tentang Panduan Praktik Klinis Bagian Dokter Di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Primer [Internet]. 2014 [dikutip 14 Mei 2021] Tersedia dari : https://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=&cad=rja&uact=8&ved=2ahUKEwi2tKKSyMnwAhVUcCsKHZjGCZgQFjADegQIFRAD&url=https%3A%2F%2Fjdih.bkpm.go.id%2Fjdih%2Fuserfiles%2Fbatang%2FPermenkes_5_2014.pdf&usg=AOvVaw1bwAXMs_fBWpGMixRtTezF

24. Ginting, Yosia, Sepsis pada Lansia. Divisi Penyakit Tropik dan Infeksi, Departemen Ilmu Penyakit Dalam US; 2012.

 


0 Response to "MAKALAH FARMAKOTERAPI II “INFEKSI SALURAN KEMIH : CYSTITIS DAN PROSTATITIS”"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel