KASUS PEMERIKSAAN LIPID DAN LIPOPROTEIN
KASUS PEMERIKSAAN LIPID DAN LIPOPROTEIN
Kasus
Ibu
Sinta memiliki Toko pakaian yang setiap harinya selalu ramai pengunjung, karena
kesibukannya di Toko ibu Sinta lebih sering memesan
makanan di KFC daripada memasak makanan sendiri. Selain itu Ibu Sinta
juga sering ngemil makanan yang manis-manis.
Ibu sinta berusia 55 tahun dengan tinggi badan 147
cm dan berat badan 78 kg. Kesibukan ibu Sinta di Toko menjadikan setiap harinya ibu Sinta jarang beristirahat dan sering
kelelahan. Ibu Sinta juga memiliki riwayat
hipertensi dan sering mengalami nyeri di bagian dada. Suatu hari ibu
Sinta sakit dan masuk Rumah Sakit dengan gejala
demam, pucat,sering pusing, sakit kepala, dan sering muntah. Dokter
meresepkan paracetamol,
simvastatin, gemfibrozil, Furosemid, metformin.
1.
Data Klinik
|
Parameter |
Hasil
pemeriksaan |
Ref |
||
|
Hari
ke 1 |
Hari
ke 2 |
Hari
ke 3 |
||
|
Suhu tubuh (oC) |
37,5 |
38 |
38 |
36-37,5 oC |
|
Tekanan darah (mmHg) |
150/90 |
160/90 |
180/90 |
<120/<80 |
|
Denyut nadi (kali/menit) |
80 |
80 |
90 |
60-90 kali/menit |
2.
Data Laboratorium
|
Parameter |
Hasil
pemeriksaan |
||
|
Hari
ke 1 |
Hari ke-2 |
Hari
ke 3 |
|
|
CKMB (U/L) |
27 |
37 |
37 |
|
Troponin T (ng/ml) |
0,18 |
0,18 |
0,19 |
|
SGOT (U/L) |
47 |
48 |
50 |
|
SGPT (U/L) |
40 |
40 |
41 |
|
Glukosa (mg/dL) |
165 |
170 |
175 |
|
LDL (mg/dL) |
165 |
170 |
170 |
|
HDL (mg/dL) |
30 |
30 |
35 |
|
Trigliserida mg/dL) |
170 |
170 |
160 |
|
Kolesterol total (mg/dL) |
229 |
234 |
237 |
Pertanyaan
:
1.
Interpretasikan hasil pemeriksaan klinis
dan laboratorium serta gejala dan keluhan yang dialami Ibu Sinta!
2.
Apa factor risiko yang dialami ibu Sinta?
3.
Hitunglah IMT Ibu Sinta!
4.
Pemeriksaan penunjang untuk Ibu Sinta!
5.
Apakah pengobatan farmakologi ibu Sinta
sudah tepat? Serta pengobatan nonfarmakologi apa yang sebaiknya diberikan
terhadap ibu Sinta?
Jawaban :
1. Interpretasi
Hasil Pemeriksaan Klinik dan Laboratorium serta Gejala dan Keluhan
Nama : Sinta (♀)
Umur : 55th
BB :
78 kg
TB :
147 cm
Pola
Hidup :Sering mengonsumsi makanan berminyak dan
banyak mengandung gula, jarang beristirahat dan sering kelelahan.
Riwayat
penyakit : Hipertensi
Keluhan
:Nyeri di dada, mengalami demam, pucat, sering
pusing, sakit kepala dan muntah
Berdasarkan dari data
kliniknya, diketahui suhu tubuh Ibu Sinta dari hari ke 1 sampai 3 meningkat
dari 37,5oC hingga 38oC
yang menandakan bahwa ia demam sesuai dengan keluhannya. Menurut pustaka, suhu
tubuh normal ialah 36-37,5oC. Denyut nadi ibu Santi meingkat pada
hari ketiga dari 80 menjadi 90. Walau terjadi peningkatan denyut nadi, denyut
nadi Ibu Santi normal yang meurut pustaka denyut nadi normal untuk dewasa
ialah 60-100 kali/menit (Isyanto, H. dan
Jaenudin, I. 2018.) Tekanan darah Ibu Santi dari hari ke 1 sampai 3 meningkat
yang ditunjukkan pada nilai sistolnya dari 150-180 dan nilai diastolnya tetap
bernilai 90. Hal ini menunjukkan bahwa ibu Santi mengalami hipertensi sistolik
terisolasi yaitu nilai sistolik ≥140 dan diastolik <90 (Tjokroprawiro, A.2015).
Berdasarkan data
labotorium, semua parameter pemeriksaan yang dilakukan tidak sesuai dengan
nilai normalnya yaitu :
- CK-MB
: atau creatinine kinase
myocard brand merupakan isoenzim dari
creatinine kinase yang spesifik dalam mendeteksi kerusakan jantung. CK-MB
biasanya mulai meningkat 3 hingga 6 jam setelah infark miokard akut (MI),
memuncak pada 12 hingga 24 jam. Nilai rujukan CK-MB ialah 0–12 units/L. Pada
pemeriksaan laboratorium Ibu Santi diperoleh nilai CK-MB yang melebihi nilai
rujukan normal yaitu 27 pada hari pertama yang kemudian meningkat menjadi 37
pada hari kedua dan ketiga, peningkatan ini menunjukkan makin luasnya kerusakan
miokard (Lippincott Williams & Wilkins. 2013)
-
Troponin T : merupakan dalah satu jenis troponin yang
ditemukan di sel otot jantung dan rangka. kadar serum protein ini meningkat
di penderita IMA segera setelah 3 sampai
4 jam mulai serangan nyeri dada dan menetap sampai 1 sampai 2 minggu. Nilai rujukan troponin T ialah
<0,05 ng/mL. Berdasarkan data laborotorium ibu Santi, nilai troponin T yang
diperoleh ialah 0,18 pada hari ke 1 yang kemudian meningkat menjadi 0,19 pada
hari ke 3 (Nawawi, R.A. et,al, 2006).
-
SGOT : (Serum Glutamic Oxaloacetic
Transaminase) atau disebut juga sebagai Aspartate aminotransferase (AST)
merupakan enzim yang memiliki aktivitas metabolisme yang tinggi, ditemukan di jantung, hati, otot rangka, ginjal, otak,
limfa, pankreas dan paru-paru. Penyakit
yang menyebabkan perubahan, kerusakan atau kematian sel pada jaringan tersebut akan mengakibatkan
terlepasnya enzim ini ke sirkulasi. Nilai rujukan SGOT normal ialah 5035
unite/L. Pada data pemeriksaan laboratorium ibu sinta, nilai SGOTnya melebihi nilai
rujukan normal dan mengalami peningkatan dari hari ke 1 hingga ke 3 yaitu dari
47-50. Peningkatan SGOT dapat
menunjukkan terjadinya miokard infark
(Anonim, 2011).
-
SGPT : (Serum Glutamic Pyruvic
Transaminase) atau alanin aminotransferase (ALT) merupakan enzim terdapat
pada jantung, otot dan ginjal. ALT lebih
banyak terdapat dalam hati dibandingkan
jaringan otot jantung dan lebih spesifik menunjukkan fungsi hati
daripada AST. ALT berguna untuk diagnosa
penyakit hati dan memantau lamanya pengobatan
penyakit hepatik, sirosis postneurotik dan efek hepatotoksik obat. Nilai
rujukan normal dari SGPT ialah 5-35 unite/L. Pada data laboratorium ibu Santi,
nilai SGPTnya melebihi nilai rujukan normal dari hari ke 1 dan 2 yaitu 40 dan
meningkat menjadi 41 pada hari ke 3.
Peningkatan SGPT dapat terjadi
pada penderita obesitas (Anonim, 2011).
Glukosa : Pemeriksaan glukosa darah adalah
prosedur skrining yang menunjukan ketidakmampuan sel pankreas memproduksi
insulin, ketidakmampuan usus halus mengabsorpsi glukosa, ketidakmampuan sel
mempergunakan glukosa secara efisien, atau ketidakmampuan hati mengumpulkan dan
memecahkan glikogen. Nilai rujukan
normal glukosa pada usia ≥ 7 tahun ialah 70-100 mg/dL. Berdasarkan data
laboratorium ibu Santi, nilai glukosa dalam serum yang terus meningkat dari
hari ke 1 hingga ke 3 yaitu 165-175 mg/dL. Bila konsentrasi glukosa dalam serum
berulang-ulang > 140 mg/dL, perlu dicurigai adanya diabetes mellitus
(Anonim,
2011).
- LDL : merupakan kolesterol jahat
yang mengandung paling banyak kolesterol dari semua lipoprotein dan merupakan
pengirim kolesterol utama dalam darah (Nilawati, S. et.al.2008). Nilai LDL
normal ialah < 130 mg/dL, nilai batas LDL ialh 130-159 mg/dL dan nilai LDL
resiko tinggi ialah ≥ 160 mg/dL. Pada pemeriksaan laboratorium ibu sinta nilai
LDLnya melebih nilai normal dan telah memasuki rentang nilai LDL resiko tinggi
≥ 160 mg/dL yang mengalami peninkatan pada hari ke 2 dari 165 menjadi 170.
Tingginya nilai LDL dapat terjadi pada penderita penyakit pembuluh darah
koroner atau hiperlipidemia bawaan (Anonim, 2011).
- HDL : merupakan kolesterol baik karena
bersifat protektif terhadap kemungkinan terjadinya pengendapan athreosklerosis
dalam arteri (Nilawati, S. et.al.2008). Nilai normal HDL ialah 30-70 mg/dL. Pada
data laboratorium ibu santi, nilai HDLnya normal yaitu 30-35 pada hari ke-1
hingga hari ke 3 (Anonim, 2011).
- Trigliserida : merupakan salah satu macam lemak daidalm
tubuh yang didalam cairan darah dikemas dalam bentuk partikel lipoprotein
(Nilawati, S. et.al.2008). Nilai normal trigliserida pada orang dewasa
khususnya pada wanita ialah 35-135 mg/dL. Pada data pemeriksaan laboratorium
ibu sinta, nilai trigliseridanya melebihi batas normal yaitu 170 yang kemudian
mengalami penurunan pada hari ke 3 menjadi 160 yang tetap melebihi batas normal
(Anonim). Trigliserida dapat terjadi pada penderita hipertensi,
hiperlipoproteinemia (Anonim, 2011).
- Kolesterol : merupakan lemak berwarna kekuningan
berbentuk seperti tin yang diperoduksi manusia terutama dalam hati yang akan
disebar keseluruh tubuh. Nilai kolesterol normal ialah <200 mg/dL. Kadar
kolesterah darah sedang atau diambang batas tinggi ialah 200-239 mg/dL dan
kadar nilai kolesterol tinggal >240 mg/dL berdasarkan data pemeriksaan
laboratorium ibu santi, nilai kolesterolnya melebih nilai normal dan mengalami
peningkatan dari hari ke 1 hingga hari ke 3 yaitu dari 229-237 mg/dL (Nilawati, S. et.al.2008).
Dari data pemeriksaan dan keluhan
serta gejala yang dialami ibu Sinta dapat disimpulkan bahwa ibu sinta mengalami
penyakit jantung koroner karena penyebab utama penyakit jantung koroner ialah
aterosklerosis yang pada usia 40 sampai
50 tahun bercak perlemakan ini selanjutnya dapat berkembang menjadi plak
aterosklerotik yang dapat berkomplikasi menyulut pembentukan trombus yang
bermanifestasi klinis berupa infark miokardium maupun angina (nyeri dada)
sesuai dengan hasil pemeriksaannya (Nawawi, R.A. et,al, 2006).
2. Jika
dikaitkan hubungan kadar kolesterol dengan risiko penyakit jantung koroner dan
umur, ibu sinta mengalami risiko rendah yang ditunjukkan dari nilai kolesterol
ibu sinta yang sedikit lagi mencapai 240 pada usia lebih 40 tahun. Faktor
resiko pemicu kolesterol tinggi dibagi menjadi tiga golongan yaitu
- Faktor
utamanya ialah kadar kolesterol darah abnormal, hipertensi dan merokok.
- Faktor
risiko tidak langsung ialah diabetes melitus, kegemukan, tidak aktif dan
stress.
- Faktor
risiko alami yang disebabkan oleh keturunan, jenis kelamin dan usia.
Berdasarkan data
pemeriksaan, keluhan, gejala dan life style ibu sinta dapat dikatakan bahwa
faktor risiko pemicu kolesterol tinggi ibu sinta ialah faktor risiko utama
karena ibu sinta memiliki riwayat hipertensi, seringnya mengkonsumsi makanan
berlemak juga dapat menyebabkan kolesterol darah ibu sinta abnormal. selian itu
juga terumasuk faktor risiko tidak langsung karena ibu sinta sering mengonsumsi
makanan manis yang dapat menyebabkan diabetes melitus, selain itu berdasarkan
dari IMT ibu sinta tergolong gemuk. Ibu sinta jarang beristirahat karena sibuk
mengurus tokonya sehingga dapat menyebabkan stress (Nilawati, S. et.al.2008).
3. Perhitungan
Indeks Massa Tubuh (IMT)
2
Indeks Massa Tubuh (IMT) =
![]()
2
Indeks Massa Tubuh (IMT) =
![]()
2
Indeks Massa Tubuh (IMT) =
![]()
Indeks Massa Tubuh (IMT) = 25,45 kg/m2
IMT Ibu Sinta yang
memiliki berat badan 55 kg dengan tinggi badan 147 cm ialah 25,45 yang
menandakan bahwa berat badan Ibu Sinta sudah masuk gemuk kategori kelebihan
berat badan tingkat ringan yaitu 25,0-27,0 (Asmadi, 2008)
4. Pemeriksaan
penunjang yang dapat dilakukan Ibu Sinta untuk mengetahui bahwa ia mengidap
penyakit jantung koroner ialah pemeriksaan elektrokardiografi (EKG) dan
pemeriksaan arteriografi koroner (Nawawi, R.A. et,al, 2006). Selain itu, untuk
mengetahui penyakit diabetes yang diderita, dilakukan pemeriksaan kadar
HbA1c/AC1 (Widodo, F.Y.2014).
5. Pengobatan
farmakologi Ibu Sinta yang diresepkan dokter ialah
- Paracetamol
: merupakan obat analgesik nonapoid dan
antipiretik yang bekerja dengan menghambat sintesis prostaglandi yang merupakan
mediator inflamasi dari luka dan deman yangumumnya terjadi pada otak (Vallerand,
April H. dan Sanski, C.A. 2015).
- Simvastatin : merupakan obat golongan statin yang bekerja
dengan cara mencegah produksi enzim dalam hari yang menghasilkan kolesterol
sehingga produksi LDL berkurang sekitar 20-40% dan menaikkan HDL 5-10% dalam
dosis yang relatif sedikit (Nilawati, S. et.al.2008).
- Gemfibrozil : merupakan obat yang bekerja dengan cara
menurunkan kadar lemak darah. Salah satu jenisnya ialah lopid yang mampu
menaikkan HDL sekitar 8-15% dan menurunkan LDL secara moderat (Nilawati, S.
et.al.2008).
- Furosemid
: merupakan obat golongan loop
diuretic yang bekerja dengan cara menghambat reabsorbsi natrium dan klorida
dari lengkung henle dan tubulus distal sehingga memberikan efek terapeutik
diuresis dan mobilisasi kelebihan cairan selanjutnya (edema dan efusi pleural),
dan menurunkan tekanan darah. Obat ini diindikasikan untuk penderita
hipertensi, edema akibat gagal jantung, gangguan hati. Penggunaan furosemid
harus diberikan hati-hati pada penderita diabetes melitus (Vallerand, April H.
dan Sanski, C.A. 2015).
- Metformin
: merupakan obat golongan biguanid
yang bekerja dengan cara menurunkan produksi glukosa hati, menurunkan absorpsi
glukosa tinal, meningkatkan kepekaan terhadap insulin sehingga diindikasikan
untuk penatalaksanaan diabetes melitus tipe 2 (Vallerand, April H. dan Sanski,
C.A. 2015).
Pemberian terapi farmakologi yang
dilakukan dokter sudah kurang tepat pada kombinasi gemfibrozil dan simvastatin
karena kedua obat tersebut dikontraindikasikan karena dapat menyebabkan miopati
dan rhabdomyolysis yang telah dilaporkan penggunaannya pada pasien yang memakai
kedua obat tersebut secara bersamaan (Whalen, K. et.al.2015). sebaiknya obat yang diberikan ialah obat
golongan statin untuk penderita diabetes
yang telah terdiagnosis penyakit kardiovaslular, sedangkan pemberian
golongan fibrat dapat diberikan pada penderira debgan kadar trigliserida >10
mmol/dL atau 180 mg/dL (Widodo, F.Y.2014)
Pemberian paracetamol telah cocok
dengan tujuan untuk menurunkan demam pasien, sementara furosemid digunakan
untuk mengatasi hipertensi yang diderita ibu sinta dan untuk metformin
digunakan untuk mengurangi produksi glukosa hati yang dapat menyebabkan
diabetes melitus pada ibu sinta, kombinasi antara metformin dan furosemid dapat
meningkatkan kerja dari metformin (Vallerand, April H. dan Sanski, C.A.
2015).
Pengobatan nonfarmakologi yang
sebaiknya dilakukan terhadap ibu Sinta ialah menjaga berat badan ideal, makan
makanan sehta, melakukan aktivitas fisik, mengurangi makanan tinggi lemak jenuh
dan kolesterol, meningkatkan konsumsi makan berserat, mengandung lemak tak
jenuh dan latihan fisik (Widodo, F.Y.2014)
DAFTAR PUSTAKA
Anonim.
2011. Pedoman Intepretasi Data Klinik. Jakarta :Kementerian Kesehatan
Republik Indonesia.
Asmadi,
2008. Teknik Prosedural Konsep & Aplikasi Kebutuhan Dasar Klien. Jakarta :
Salemba Medika. Hal. 84.
Dipiro,
J.T., Talbert, R.L., Yee, G.C., Matzke, G.R., Wells, B.G., dan Posey, L.M.
2009. Pharmacotherapy A Pathophysiologic Approach Seventh Edition. Mc
Graw Hill Medical. New York.
Isyanto,
H. dan Jaenudin, I. 2018. Monitoring Dua Parameter Data Medik Pasien (Suhu
Tubuh dan Detak Jantung) Berbasis Aruino Nirkabel. eLEKTUM. Vol 8 (1).
Lippincott
Williams & Wilkins. 2013. Koda-Kimble & Young’s : Applied
Therapeutics the Clinical Use of Drugs. Tenth Edition. Wolters Kluwer
Health.
Nawawi,
R.A., Fitriani., Rusli, B., dan Hardjoeno. 2006. Nilai Troponin T (cTnT)
Penderita Sindrom Koroner Akut (SKA).Indonesian Jorunal of Clinical
Pathology and Medical Laboratory. Vol. 12 (3).
Nilawati,
S., Krisnatuti, D., Mahenra, b., dan Djing, Oei G. 2008. Care Your Seld :
Kolesterol.Depok : Penerbit Plus.
Tjokroprawiro,
A.2015. Buku ajar ilmu penyakit dalam. Ed.2: Fakultas Kedokteran Universitas
Airlangga Rumah Sakit Pendidikan Dr. Soetomo Surabaya. Surabaya : Airlangga
University Press.
Whalen,
K. 2015. Lippincontt Illustrated Reviews Pharmacology. Ed. 6th.
USA : Wolters Kluwer.
Widodo,
F.Y.2014. Pemantauan Penderita Diabetes Melitus. Jurnal ilmiah
kedokteral Vol. 3 (2).
Vallerand,
April H. dan Sanski, C.A. 2015. Davis’s Drug Guidline
for nUrse. Edisi 14th . Canada : F.A Ddavis Company. Philadelphia
: F.A.Davis Company.
0 Response to "KASUS PEMERIKSAAN LIPID DAN LIPOPROTEIN"
Post a Comment