ISOLASI SENYAWA BIOAKTIF : MAKALAH ALKALOIDA
REVIEW
"Isolation, Identification Of Alkaloid From Rhizophora Mucronata And The Activity Of Its Methanol Extract Against Barnacles”
BAB I
PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Indonesia
adalah negara yang kaya akan sumber daya alam dengan keanekaragaman hayatinya. Pemanfaatan
tumbuhan dalam kehidupan manusia sehari-hari sangatlah banyak, Hal ini disebabkan
karena tumbuhan memiliki metabolit sekunder yang sangat bermanfaat bagi
manusia. Senyawa-senyawa kimia hasil metabolit sekunder sangat beragam dan
dapat diklasifikasikan dalam beberapa golongan senyawa bahan alam yaitu
terpenoid, fenol, saponin, flavonoid dan alkaloid (Kusbiantoro, D. dan
Purwaningrum, Y. 2018).
Alkaloid merupakan kelompok senyawa metabolit senkunder terpenting yang ditemukan pada tumbuhan. Alkaloid memiliki aktivitas biologis pada manusia atau hewan, seperti berpengaruh pada susunan saraf pusat (Harbone, 1987). Rhizophora mucronata atau bakau merupakan salah satu jenis tumbuhan mangrove yang mempunyai habitat dekat atau terletak pada pematang sungai pasang surut dan di muara sungai (Kusmana,et.al. 2003). Salah satu kandungan senyawa kimia Rhizophora mucronata ialah alkaloid (Andayani, et.al. 2018)
I.2 Rumusan Masalah
Rumusan masalah penulisan makalah ini yaitu :
1. Apakah
Rhizophora mucronata mengandung senyawa alkaloid?
2. Bagaimana
proses isolasi alkaloid dan identifikasi senyawa alkaloid pada Rhizophora
mucronata?
I.3 Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan makalah ini yaitu untuk mengetahui cara mengisolasi dan mengidentifikasi alkaloid pada ekstrak Rhizophora mucronata yang berasal dari daun, batang dan akar.
BAB
II
TINJAUAN
PUSTAKA
II.1 Uraian Tanaman
II.1.1 Klasifikasi
Kingdom : Plantae
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Mytales
Famili : Rhizophoraceae
Genus : Rizhophora
Spesies : Rizhophora mucronata Lamk (Duke, N.C. 2006)
II.1.2 Karakteristik Biologi
Nama daerah Rhizophora mucronata adalah bakau,
bakau gundul, bakau, genjah dan bangko. Tanaman ini termasuk ke dalam Famili Rhizophoraceae
dan banyak ditemukan pada daerah berpasir serta daerah pasang surut air laut. Tanaman
bakau dapat tumbuh hingga ketinggian 35-40 m. Tanaman bakau memiliki batang
silindris, kulit luar berwarna cokelat keabu-abuan sampai hitam, pada bagian luar
kulit terlihat retak-retak. Bentuk akar tanaman ini menyerupai akar tunjang
(akar tongkat). Akar tunjang digunakan sebagai alat pernapasan karena memiliki
lentisel pada permukaannya. Akar tanaman tersebut tumbuh menggantung dari
batang atau cabang yang rendah dan dilapisi semacam sel lilin yang dapat
dilewati oksigen tetapi tidak tembus air (Murdiyanto 2003).
Tanaman bakau memiliki daun melonjong, berwarna
hijau dan mengkilap dengan panjang tangkai 17-35 mm. Tanaman ini umumnya
memiliki bunga berwarna kuning yang dikelilingi kelopak berwarna
kuning-kecoklatan sampai kemerahan. Proses penyerbukan dibantu oleh serangga
dan terjadi pada April sampai dengan Oktober. Penyerbukan menghasilkan buah
berwarna hijau yang umumnya memiliki panjang 36-70 cm dan diameter 2 cm
(Kusmana et al., 2003).
II.2 Alkaloid
Alkaloid
adalah kelompok metabolit sekunder terpenting yang ditemukan pada tumbuhan.
Alkaloid khas yang berasal dari sumber tumbuhan, biasanya memiliki aktivitas
fisiologis yang pada manusia atau hewan lainnya. Kebanyakan alkaloid memiliki
rasa pahit, bersifat basa lemah, dan sedikit larut dalam air dan dapat larut
dalam pelarut organic non polar seperti dietil eter, kloroform dan lain-lain.
Beberapa alkaloid memliki warna seperti berberin yang berwarna kuning dan garam
sanguinarine dengan tembaga berwarna merah. Alkaloid akan terdekomposisi oleh
panas kecuali strychnine dan caffeine. Secara wujud kebanyakan
alkaloid berbentuk padatan kristal dan sedikit diantaranya merupakan padatan
amorf (Julianto, T.S. 2019).
Alkaloid
pada dasarnya merupakan senyawa yang bersifat basa dengan keberadaan atom
nitrogen dalam strukturnya, Asam amino berperan sebagai senyawa pembangun dalam
biosintesis alkaloid. Kebanyakan alkaloid mengandung satu inti kerangka
piridin, quinolin, dan isoquinolin atau tropan dan bertanggungjawab terhadap
efek fisiologis pada manusia dan hewan (Julianto, T.S. 2019).
Rantai
samping alkaloid dibentuk atau merupakan turunan dari terpena atau asetat.
Alkaloid memiliki sifat basa dan bertindak sebagai senyawa basa dalam suatu
reaksi. Campuran alkaloid dengan suatu asam akan membentuk garam kristalin
tanpa membentuk air. Pada umumnya alkaloid berbentuk padatan kristal seperti
pada senyawa atropine. Beberapa alkaloid seperti lobeline atau nikotin
berbentuk cairan (Julianto, T.S. 2019).
Alkaloid
memiliki kelarutan yang khas dalam pelarut organik. Golongan senyawa ini mudah
larut dalam alkohol dan sedikit larut dalam air. Garam alkaloid biasanya larut
dalam air. Di alam, alkaloid ada di banyak tumbuhan dengan proporsi yang lebih
besar dalam biji dan akar dan seringkali dalam kombinasi dengan asam nabati.
Senyawa alkaloid memiliki rasa yang pahit (Julianto, T.S. 2019).
II.3 Klasifikasi Alkaloid
Jika
dibandingkan dengan kelas lain yang terjadi secara alami, tidak ada klasifikasi
struktur yang seragam untuk alkaloid. Klasifikas alkaloid berdasarkan padakerangka karbonnya meliputi: (Julianto, T.S. 2019)
1. Alkaloid
sebenarnya (True alkaloid)
Alkaloid jenis ini memiliki kerangka cincin heterosiklik yang mengandung atom nitrogen. Biosintesis alkaloid jenis ini berasal dari asam amino-asam amino. Contoh: Atrophine, Nicotine, Morphine.
2. Protoalkaloid
Alkaloid jenis ini tidak memiliki cincin heterosiklik yang mengandung atom nitrogen dan merupakan turunan dari asam amino. Contoh: Ephedrine, mescaline, adrenaline.
3. Pseudoalkaloid
Alkaloid jenis ini mengandung cincin heterosiklik yang mengandung atom nitrogen, namun bukan merupakan turunan dari asam amino. Contoh: Caffeine, theobromine, theophylline.
II.3 Metode Ekstraksi Alkaloid
II.3.1 Persiapan Sampel
Bahan
tumbuhan segar yang digunakan dalam proses ekstraksi. Namun pada umumnya bahan
yang digunakan merupakan bahan tumbuhan yang telah dikeringkan. Metode pengeringan
harus dalam keadaan yang terkontrol dengan pengeringan udara tanpa penggunaaan
temperatur tinggi. Bahan tumbuhan yang kering ini dapat disimpan dalam jangka
waktu yang lama. Sampel tumbuhan dapat digiling menjadi bentuk serbuk kering
untuk dapat memperoleh kontak efektif yang maksimum antara pelarut dengan
alkaloid dalam jaringan tumbuhan. Untuk tumbuhan yang memiliki kandungan minyak
dan lemak seperti biji dan kernel, maka komponen kimia non-alkaloid ini harus
dihilangkan dengan ekstraksi soxhlet dengan pelarut non-polar yang sesuai
seperti n-heksana dan petroleum eter (Julianto, T.S. 2019).
II.3.2 Pemilihan Pelarut
Pelarut memiliki peran yang penting dalam langkah ekstraksi dan pemilihannya tergantung pada jenis bahan tumbuhan. Secara umum alcohol, etil asetat, kloroform dan air digunakan sebagai pelarut. Alkohol digunakan dalam tahap pretreatment untuk menghilangkan kandungan klorofil dan impuritis. Pelarut harus memiliki sifat tertentu seperti toksisitas yang rendah, mudah penggunaan dan penyimpanannya, dan inert.
II.3.3 Ektraksi Alkaloid
Alkaloid
dalam suatu tumbuhan memiliki struktur kimia yang beragam dan dalam jumlah yang
banyak. Oleh karenanya tidak mudah mengidentifikasi alkaloid dalam tumbuhan
hanya dengan metode kromatografi tunggal. Selain itu luasnya kelarutan alkaloid
dalam beberapa pelarut juga menjadi kerumitan tersendiri. Beberapa langkah yangdapat dilakukan untuk melakukan ekstraksi alkaloid diantaranya adalah
(Julianto, T.S. 2019):
1. Deteksi
adanya alkaloid dalam ekstrak tumbuhan
Deteksi awal adanya senyawa
alkaloid dapat dilakukan dengan menambahkan pereaksi warna alkaloid ke dalam
esktrak tumbuhan.
2. Proses
ekstraksi
Berdasarkan sifat kebasaannya,
pada umumnya alkaloid diesktrak dari tumbuhan dengan menambahkan pelarut
alkohol yang diasamkan dengan suatu asam lemah (HCl 1 M atau asam asetat 10%).
Penambahan asam akan menyebabkan alkaloid berubah dalam bentuk garamnya yang
dalam pelarut alkohol berair. Selanjutnya larutan alkohol dipisahkan dari
komponen ekstrak yang tidak larut. penambahan basa lemah tetes.
II.5 Isolasi
Analisis
suatu senyawa organik dilakukan terhadap senyawa organik yang telah diisolasi
dari bahan alam. Bahan alam yang dimaksudkan di sini adalah bagian dari
tumbuhan yang telah dipilih untuk dilakukan isolasi.
Ada beberapa teknik isolasi senyawa bahan alam yang umum digunakan seperti maserasi, perkolasi, dan ekstraksi kontinu. Maserasi merupakan metode perendaman sampel dengan pelarut organik, umumnya digunakan pelarut organik dengan molekul relatif kecil dan perlakuan pada temperatur ruangan, akan mudah pelarut terdistribusi ke dalam sel tumbuhan (Widodo, N. 2007).
Proses ini sangat menguntungkan dalam isolasi senyawa bahan alam, karena dengan perendaman sampel tumbuhan akan terjadi kontak sampel dan pelarut yang cukup lama, dan dengan terdistribusinya pelarut organik yang terus menerus ke dalam sel tumbuhan mengakibatkan perbedaan tekanan antara di dalam dan di luar sel sehingga pemecahan dinding dan membran sel dan metabolit sekunder yang berada dala sitoplasma akan terlarut dalam pelarut organik, dan ekstraksi senyawa akan sempurna karena dapat diatur lama perendaman yang dilakukan. Metode maserasi ini sangat menguntungkan karena pengaruh suhu dapat dihindari, suhu yang tinggi kemungkinan akan mengakibatkan terdegradasinya senyawa-senyawa metabolit sekunder (Widodo, N. 2007).
Pemilihan
pelarut yang digunakan untuk proses maserasi akan memberikan efektivitas yang
tinggi dengan memperhatikan kelarutan senyawa bahan alam dalam pelarut akibat
kontak langsung dan waktu yang cukup lama dengan sampel (Djarwis, 2004). Salah
satu kekurangan dari metode ini adalah membutuhkan waktu yang lama untuk
mencari pelarut organik yang dapat melarutkan dengan baik senyawa yang akan
diisolasi dan harus mempunyai titik didih yang tinggi pula sehingga tidak mudah
menguap (Manjang, 2004).
II.6 Separasi/Pemisahan
Metode
pemisahan dan pemurnian senyawa metabolit sekunder dari tumbuhan adalah teknik
yang telah mengalami perkembangan dalam beberapa tahun terakhir. Teknik modern
ini menawarkan kemampuan untuk menyejajarkan pengembangan dan ketersediaan
banyak metode bioassay canggih di satu sisi, dan menyediakan teknik isolasi,
pemisahan, dan pemurnian yang tepat di sisi lain. Tujuannya ketika mencari
senyawa bioaktif adalah menemukan metode yang tepat yang dapat menyaring bahan sumber
untuk bioaktivitas seperti antioksidan, antibakteri, atau sitotoksisitas, dikombinasikan
dengan kesederhanaan, spesifisitas, dan kecepatan. Metode in vitro biasanya
lebih diinginkan daripada in vivo karena eksperimen hewan mahal, membutuhkan
lebih banyak waktu, dan rentan terhadap kontroversi etis. Ada beberapa faktor
yang membuat tidak mungkin untuk menemukan prosedur atau protokol akhir untuk
mengisolasi dan mengkarakterisasi molekul bioaktif tertentu (Julianto, T.S.
2019).
Ini
bisa disebabkan oleh berbagai bagian (jaringan) di sebuah pabrik, banyak yang
akan menghasilkan senyawa yang sangat berbeda, disamping struktur kimia yang
beragam dan sifat fisikokimia dari phytochemicals bioaktif. Baik pemilihan dan
pengumpulan bahan tumbuhan dianggap sebagai langkah utama untuk mengisolasi dan
mencirikan phytochemical bioaktif. Langkah selanjutnya melibatkan pengambilan
informasi ethno-botani untuk membedakan molekul bioaktif yang mungkin. Ekstrak
kemudian dapat dibuat dengan berbagai pelarut untuk mengisolasi dan memurnikan
senyawa aktif yang bertanggungjawab untuk bioaktivitas (Julianto, T.S. 2019).
Teknik
kromatografi kolom dapat digunakan untuk isolasi dan pemurnian senyawa
bioaktif. Instrumen yang dikembangkan seperti High Pressure Liquid
Chromatography (HPLC) mempercepat proses pemurnian molekul bioaktif. Berbagai
jenis teknik spektroskopi seperti UV-visible, Infrared (IR), Nuclear
Magnetic Resonance (NMR), dan spektroskopi massa dapat mengidentifikasi senyawa
yang telah dimurnikan (Julianto, T.S. 2019).
Banyak
molekul bioaktif telah diisolasi dan dimurnikan dengan menggunakan metode
Kromatografi lapis tipis (KLT) dan kromatografi kolom. Metode ini masih banyak
digunakan karena kenyamanan, ekonomi, dan ketersediaannya dalam berbagai fase
stasioner. silika, alumina, selulosa, dan poliamida paling banyak digunakan
untuk memisahkan senyawa kimia tumbuhan (Julianto, T.S. 2019).
Bahan-bahan
tumbuhan mengandung sejumlah besar fitokimia kompleks, yang membuat pemisahan
yang baik menjadi sulit. Oleh karena itu, meningkatkan polaritas menggunakan
beberapa fase seluler berguna untuk pemisahan bernilai tinggi. Kromatografi
lapis tipis selalu digunakan untuk menganalisis fraksi senyawa dengan
kromatografi kolom. Kromatografi kolom gel silika dan kromatografi lapis tipis
(KLT) telah digunakan untuk pemisahan molekul bioaktif dengan beberapa alat
analisis (Julianto, T.S. 2019).
II.7 Identifikasi
Penentuan
struktur molekul tertentu menggunakan data dari berbagai teknik spektroskopi
seperti UV-visible, Infrared (IR), Nuclear Magnetic Resonance (NMR), dan
spektroskopi massa. Prinsip dasar spektroskopi adalah melewatkan radiasi
elektromagnetik melalui molekul organik yang menyerap sebagian radiasi, tetapi
tidak semuanya. Dengan mengukur jumlah penyerapan radiasi elektromagnetik,
spektrum dapat diproduksi. Spektrum spesifik untuk ikatan tertentu dalam suatu
molekul. Tergantung pada spektrum ini, strukturmolekul organik dapat
diidentifikasi.
Para
ilmuwan terutama menggunakan spektrum yang dihasilkan dari tiga atau empat
wilayah Ultraviolet (UV), Tampak (Visible), Inframerah (IR), gelombang radio,
dan berkas elektron untuk klarifikasi struktural (Julianto, T.S. 2019).
a. Spektroskopi
UV-Tampak
Spektroskopi
UV-tampak dapat dilakukan untuk analisis kualitatif dan untuk identifikasi
kelas tertentu dari senyawa dalam campuran murni dan biologis. Lebih disukai,
spektroskopi UV-tampak dapat digunakan untuk analisis kuantitatif karena
molekul-moleku aromatik adalah kromofor kuat dalam rentang UV. Senyawa alami
dapat ditentukan dengan menggunakan spektroskopi UV-tampak. Senyawa fenolik
termasuk anthocyanin, tanin, pewarna polimer, dan fenol membentuk kompleks
dengan besi yang telah terdeteksi oleh spektroskopi ultraviolet-tampak
(UV-Vis). Selain itu, teknik spektroskopi UV-Vis diketahui menjadi kurang
selektif dalam memberikan informasi tentang komposisi kandungan polifenol
total. Spektroskopi UV-Vis dapat digunakan untuk menentukan total fenolik
ekstrak (280 nm), flavones (320 nm), asam fenolik (360 nm), dan total
anthosianid (520 nm). Teknik ini tidak memakan waktu, dan biaya yang lebih
murah dibandingkan dengan teknik lain (Julianto, T.S. 2019).
b. Spektroskopi
inframerah
Beberapa
frekuensi akan diserap ketika cahaya inframerah melewati sampel senyawa
organik; Namun, beberapa frekuensi akan ditularkan melalui sampel tanpa terjadi
penyerapan. Penyerapan inframerah terkait dengan perubahan vibrasi yang terjadi
di dalam molekul ketika terkena radiasi inframerah. Oleh karena itu,
spektroskopi inframerah pada dasarnya dapat digambarkan sebagai spektroskopi
vibrasi. Obligasi yang berbeda (C-C, C=C, C-C, C-O, C=O, O-H, dan N-H) memiliki
frekuensi vibrasi yang beragam. Jika jenis-jenis ikatan ini ada dalam suatu
molekul organik, mereka dapat diidentifikasi dengan mendeteksi pita penyerapan
frekuensi karakteristik dalam spektrum inframerah (Julianto, T.S. 2019).
Fourier
Transform Infrared Spectroscopy (FTIR) adalah alat analisis
resolusi tinggi untuk mengidentifikasi kandungan kimia dan menguraikan senyawa struktural.
FTIR menawarkan investigasi yang cepat dan tidak rusak untuk ekstrak atau bubuk
herbal sidik jari (Julianto, T.S. 2019).
c. Spektroskopi
Resonansi Magnetik Inti - Nuclear Magnetic Resonance (NMR)
Spektroskopi
Resonansi Magnetik Inti (NMR) terkait dengan sifat-sifat magnetik dari inti atom
tertentu; terutama inti atom hidrogen, proton, karbon, dan isotop karbon.
Spektroskopi NMR telah memungkinkan banyak peneliti untuk mempelajari molekul
dengan merekam perbedaan antara berbagai inti magnetik, dan dengan demikian
memberikan gambaran yang jelas tentang apa posisi inti-inti ini dalam molekul.
Selain itu, ia akan menunjukkan atom-atom mana yang ada di kelompok tetangga.
Pada akhirnya, itu dapat menyimpulkan berapa banyak atom yang hadir di
masing-masing lingkungan. Beberapa upaya telah dilakukan di masa lalu dengan
menggunakan kromatografi lapis tipis preparatif atau semi preparatif,
kromatografi cair, dan kromatografi kolom untuk mengisolasi masing-masing
fenol, struktur yang ditentukanselanjutnya oleh NMR secara off-line (Julianto,
T.S. 2019).
d. Spektrometri
Massa untuk Identifikasi Senyawa Kimia
Molekul
organik dibombardir dengan elektron atau laser dalam spektrometri massa dan
dengan demikian diubah menjadi ion bermuatan, yang sangat energik. Spektrum
massa adalah plot dari kelimpahan relatif ion terfragmentasi terhadap rasio
massa / muatan ion-ion ini. Menggunakan spektrometri massa, massa molekul
relatif (berat molekul) dapat ditentukan dengan akurasi tinggi dan rumus
molekul yang tepat dapat ditentukan dengan pengetahuan tentang tempat-tempat di
mana molekul telah terfragmentasi. Dalam karya sebelumnya, molekul bioaktif
dari empulur diisolasi dan dimurnikan dengan ekstraksi pelarut bioaktivitas
yang dipandu, kromatografi kolom, dan HPLC. Teknik UV-visible, IR, NMR, dan
spektroskopi massa digunakan untuk mengkarakterisasi struktur molekul bioaktif.
Selanjutnya, molekul dapat dihidrolisis dan turunannya dicirikan (Julianto,
T.S. 2019).
Spektrometri
massa memberikan informasi yang melimpah untuk elusidasi struktural senyawa
ketika tandem mass spectrometry (MS) diterapkan. Oleh karena itu, kombinasi
HPLC dan MS memfasilitasi identifikasi senyawa kimia yang cepat dan akurat
dalam ramuan obat, terutama ketika standar murni tidak tersedia. Baru-baru ini,
LC/MS telah banyak digunakan untuk analisis senyawa fenolik. Ionisasi
elektrospray (ESI) adalah sumber yang disukai karena efisiensi ionisasi yang
tinggi untuk senyawa fenolik (Julianto, T.S. 2019).
BAB III
METODE
III.1 Alat dan Bahan
III.1.1 Alat
Alat
yang digunakan yaitu FTIR, lampu UV 366 nm, LC-MS, dan rotary evaporator.
III.1.2 Bahan
Bahan
yang digunakan yaitu amonium hidroksida, akar, batang dan serbuk daun tumbuhan Rhizophora
mucronata, cat komersial yang dicampur
dengan ekstrak, etil asetat, HCl 1 N, heksana, metanol, NaOH, papan kayu,
pelat gel silika 60 GF254, pereaksi Dragendorff, pereaksi Wagner,
III.2 Cara Kerja
III.2.1 Ekstraksi dan Fraksinasi
Isolasi dan fraksinasi metabolit alkaloid dilakukan dari akar, batang dan serbuk daun mangrove. Ekstraksi dilakukan dengan maserasi dengan metanol kemudian dipekatkan menggunakan rotary evaporator. Ekstrak metanol ditambahkan dengan HCl 1 N, kemudian diekstraksi dengan etil asetat. Lapisan asam ditambahkan dengan amonium hidroksida kemudian diekstraksi kembali dengan etil asetat. Lapisan etil asetat dipekatkan dengan rotavapor untuk mendapatkan ekstrak alkaloid total.
III.2.2 Pemisahan, Pemurnian dan Identifikasi
Alkaloid
total dimurnikan dengan kromatografi lapis tipis (KLT) dan dielusi dengan
metanol, etil asetat, dan heksana menggunakan pelat gel silika 60 GF254. Bercak
diamati di bawah lampu UV pada 366 nm. Pemisahan selanjutnya dilakukan dengan
KLT preparatif untuk mendapatkan alkaloid murni. Isolat alkaloid dianalisis dan
diidentifikasi dengan FTIR dan LC-MS.
III.2.3 Pengujian Metabolit Alkaloid
Alkaloid
akar, kulit kayu dan daun Rhizophora mucronata ditentukan dengan uji
Dragendorff. 2 mg ekstrak metanol diasamkan dengan 2 M HCl dan ditambahkan 1 mL
pereaksi Dragendorff. Pembentukan endapan berwarna jingga atau jingga merah
menunjukkan adanya alkaloid. Uji Wagner dilakukan dengan menyiapkan ekstrak
metanol 2 mg, diasamkan dengan HCl 1,5% v / v, dan ditambahkan beberapa tetes
pereaksi Wagner. Warna kuning atau coklat menunjukkan adanya alkaloid.
Selanjutnya ekstrak ditambahkan dengan HCl dan NaOH dilanjutkan dengan
ekstraksi dengan etil asetat.
III.2.4 Penentuan Aktivitas Antifouling
Uji
aktivitas antifouling dilakukan di perairan laut Pantai Teluk Awur, Jepara,
Jawa Tengah Indonesia. Suhu, pH, salinitas, dan kecerahan dicatat selama
percobaan selama 16 hari. Aktivitas antifouling diamati dengan menghitung
jumlah teritip macrofouling yang ditempelkan pada media papan kayu. Papan kayu
seluas 7 x 14 cm2 di cat menggunakan cat komersial yang dicampur dengan ekstrak
akar, batang atau daun mangrove pada konsentrasi 500 atau 1000 ppm. Sebagai
kontrol positif yang digunakan adalah papan kayu berukuran sama yang dicat
dengan antifouling komersial, sedangkan kontrol negatif yang digunakan adalah
papan kayu bercat komersial yang sama tanpa pencampuran dengan ekstrak mangrove
maupun papan kayu biasa. Papan kayu diberi pemberat dan diikat ke poros pada dermaga dan diberi jarak 50 cm dari permukaan
laut pada saat air surut; jarak antara papan dan pantai sekitar 12 m.
III.2.5 Analisis data
Data
dianalisis secara deskriptif dengan standar deviasi (STDEV) berdasarkan jumlah
penempelan biota makrofouling pada media papan kayu. Deviasi standar adalah
ukuran seberapa luas nilai-nilai tersebar dari nilai rata-rata (mean).
Percobaan diulang tiga kali. Simpangan baku dihitung menggunakan metode
"n-1".
BAB IV
PEMBAHASAN
Rhizophora
mucronata atau bakau merupakan mangrove yang mengandung
senyawa fenolit, alkaloid, steroid, saponin, flavonoid dan tanin (Warsinah.2009).
Dalam proses ekstraksi dengan menggunakan pelarut metanol bertujuan untuk
mengikat senyawa polar karena alkaloid merupakan senyawa polar yang harus
diekstraksi dengan reagen polar, dimana metanol merupakan reagen paling polar
setelah air. Adapun hasil rendamen ekstrak metanol Rhizophora mucronata yang
diperoleh dapat dilihat pada tabel 1.
Tabel 1. Rendemen kulit akar,
kulit batang dan ekstrak daun Rhizophora mucronata
|
Sampel |
Berat
sampel (gr) |
Berat
ekstrak (gr) |
Hasil rendamen (%) |
|
Kulit akar |
401.6 |
69.7 |
17.4 |
|
Kulit batang |
500.1 |
89.2 |
17.9 |
|
Daun |
378.2 |
96.0 |
24.8 |
Nilai
rendemen adalah perbandingan antara bobot bahan yang digunakan dengan bobot
total bahan yang digunakan untuk mengetahui efektivitas metabolit bioaktif bahan.
Semakin tinggi nilai rendemen menunjukkan semakin tinggi nilai ekstrak metanol
yang dihasilkan. Nilai rendemen tertinggi diperoleh dari ekstrak daun Rhizophora
mucronata karena daunnya memiliki tekstur yang lebih halus dibandingkan
dengan kulit batang dan akar sehingga dapat menarik senyawa lebih banyak. Hasil
ini memiliki korelasi dengan aktivitas tertinggi terhadap makrobiota. Selain
itu, Ekstrak metanol akar, batang dan daun Rhizophora mucronata
menunjukkan alkaloid positif reaksi dibuktikan dengan endapan putih ketika
reagen Mayer dan Dragendorff ditambahkan dapat dilihat pada tabel 2.
Tabel 2. Pengujian metabolit
alkaloid Rhizophora mucronata
|
Metabolit Alkaloid |
Kulit akar |
Kulit batang |
Daun |
|||
|
Simplisia |
Ekstrak metanol |
Simplisia |
Ekstrak metanol |
Simplisia |
Ekstrak metanol |
|
|
Sampel + (Reagen Mayer + Dragendroff) |
+ |
+ |
+ |
+ |
+ |
+ |
(+)
positif mengandung metabolit alkaloid
Pada proses pemisahan yang dilakukan dengan menggunakan metode KLT preparatif untuk mendapatkan alkaloid murni. Dari hasil pemisahan yang dilakukan, diperoleh tiga titik KLT dengan rasio eluen metanol:etil asetat: n-heksana yang digunakan 21: 6,5 : 5,5 menunjukkan titik paling atas dari kilau ungu kemerahan yang menandakan senyawa alkaloid dengan spot Rf sebesar 0,9 yang dapat dilihat pada gambar 1. Pemisahan senyawa alkaloid dengan KLT preparatif dilakukan dua kuning dan satu gelap pita hijau, dimana pita kuning dikikis untuk dimurnikan dengan KLT lagi menggunakan pengembanga yang sama yang kemudian dilanjutkan untuk diidentifikasi dengan metode FTIR dan LC-MS.
Berdasarkan analisis spektroskopi FTIR, senyawa alkaloid yang diduga terkandung dalam daun mangrove adalah gugus N-H, NH, C-O, C-N, CH dan C-C. Hasil spektroskopi FTIR alkaloid isolasi ekstral daun Rhizophora mucronata menunjukkan gugus fungsi dari sampel isolat. Pada gambar 2 menunjukkan puncak getaran dengan serapan pada panjang gelombang 3444,87 cm-1 yang merupakan serapan getar regangan gugus NH. Hal tersebut juga didukung oleh absorpsi pada panjang gelombang 1570,06 cm-1 yang merupakan tekuk getar dari gugus NH. Panjang gelombang 1051,20 cm-1 adalah getaran tekuk C-O. Adanya getaran pada bilangan gelombang 1382,96 cm-1 merupakan serapan C-N, sedangkan pada panjang gelombang 2432,24 cm-1 merupakan getaran lentur CH dan pada 1633,71 cm-1 merupakan getaran gugus C-C.
Isolat dianalisis menggunakan Kromatografi Cair-Spektroskopi Massa (LC-MS) untuk mengetahui berat molekul alkaloid. Berat molekul senyawa hasil isolasi yang ditunjukkan oleh spektrometer LC-MS adalah 278 g/mol dengan adanya m/z 279.2093 [M + H]+ dan m/z 301.1956 [M + Na]+. Berdasarkan hasil tersebut, isolat alkaloid dari daun Rhizophora mucronata mengandung senyawa benzamide, N-1-isoquinolinyl-3methoxy- dengan rumus kimia C17H14N2O2.
Enam turunan baru 4-fenil-3,4-dihidrokuinolon bersama dengan inkinolon 4 yang terkait diisolasi dan diidentifikasi dari kultur jamur endofit yang diperoleh dari daun segar tanaman bakau laut Rhizophora stylose. Banyak metabolit bioaktif termasuk anthracenedion, xyloketals, sesquiter penads, chromones, lactones, coumarin dan turunan isocoumarin, xanthone dan peroksida telah diisolasi dari berbagai jamur yang berasal dari bakau di Laut Cina Selatan. Ekstrak metanol Rhizophora mucronata mengandung alkaloid, flavonoid, dan tanin, tujuh senyawa teridentifikasi pada fraksi etil asetat kulit batang Rhizophora mucronata yaitu kelompok kuinon, steroid, alkaloid dan aromatik dengan kandungan metabolit sekunder tertinggi adalah kelompok alkaloid. (74,8%). 2-isocyanato-2-hexanamine yang berhasil diisolasi dari tanaman mangrove ternyata aktif melawan penyakit bakterial pada udang. Senyawa yang terdapat pada kulit batang mangrove Sonneratia alba merupakan gugus fenolik dengan cincin lakton, metabolit sekunder utama pada tumbuhan mangrove berupa senyawa polar golongan alkaloid. Karakteristik bentuk bubuk kristal putih memiliki titik leleh 172 ° C dengan berat molekul 232, dan rumus molekulnya adalah C12H12N2O3 .
BAB V
PENUTUPAN
V.1 Kesimpulan
Pada Rhizophora mucronata
mengandung senyawa alkaloid betanidine (C17H14N2O2)
yang diperoleh dari ekstrak daun Rhizophora mucronata yang mengandung
hasil rendamen tertinggi dan hasil uji alkaloid dengan pereaksi Mayer dan
Dragendorff yang kemudian dilakukan proses pemisahan dengan metode KLT
preparasi yang diperoleh nilai Rf sebesar 0,9 dan dilakukan identifikasi dengan
FTIR dan LC-MS.
V.2 Saran
Sebaiknya dalam penulisan ini juga
dijelaskan senyawa antifouling yang merupakan senyawa yang terkandung pada Rhizophora
mucronata yang dibahasa pada jurnal.
DAFTAR
PUSTAKA
Andayani,
et.al. 2018. Isolation, Identification of Alkaloid From Rhizophora
Mucronata and The Activity of Its Methanol Extract Against Barnacles. IOP
Conference Series: Earth and Environmental Science. doi
:10.1088/1755-1315/160/1/012005.
Duke,
N.C. 2006. Rhizopora apiculata, R. mucronata, R. stylosa, R.annamalai, R.
lamarckii (Indo-West Pacific stilt mangrove). Permanent Agriculture Resources:
Vol.2 (1).
Djarwis,
D. 2004. Teknik Penelitian Kimia Organik Bahan Alam, Workshop Peningkatan
Sumber Daya Manusia Penelitian dan Pengelolaan Sumber Daya Hutan yang
Berkelanjutan. Pelaksana Kelompok Kimia Organik Bahan Alam Jurusan Kimia
FMIPA Universitas Andalas Padang kerjasama dengan Proyek Peningkatan Sumber
Daya Manusia DITJEN DIKTI DEPDIKNAS JAKARTA.
Harborne,
J.B. 1987.Metode Fitokimia: Penuntun Cara Modern Menganalisis Tumbuhan.
Bandung : Penebit Institut Teknologi Bandung Press.
Julianto,
T.S. 2019. Fitokimia : Tinjauan Metabolit Sekunder dan Skrining Fitokimia. Yogyakarta:
Universitas Islam Indonesia.
Kusbiantoro,
D. dan Purwaningrum, Y. 2018. Pemanfaatan Kandungan Metabolit Sekunder pada
Tanaman Kunyit dalam Mendukung Peningkatan Pendapatan Masyarakat. Jurnal
Kultivasi. Vol. 17 : (1).
Kusmana
C, Wilarso S, Hilwan I, Pamoengkas P, Wibowo C Tiryana T, Triswanto A, Yunasfi,
Hamzah. 2003. Teknik Rehabilitasi Mangrove. Bogor : Fakultas Kehutanan
IPB.
Manjang,
Y. 2004. Penelitian Kimia Organik Bahan Alam, Pelestarian dan Perkembangan
Melalui Tanah Agrowisata, Workshop Peningkatan Sumber Daya Manusia Penelitian
dan Pengelolaan Sumber Daya Hutan yang Berkelanjutan. Pelaksana Kelompok
Kimia Organik Bahan Alam Jurusan Kimia FMIPA Universitas Andalas Padang
kerjasama dengan Proyek Peningkatan Sumber Daya Manusia DITJEN DIKTI DEPDIKNAS JAKARTA
Murdiyanto.
2003. Mengenal, Memelihara, dan Melestarikan Ekosisitem Bakau. Jakarta:
Direktotat Jenderal Perikanan Tangkap DepartemenKelautan dan Perikanan.
Warsinah.
2009. Antivitas Antikanker Ekstrak Etanol Daun Rhizopora mucronata Terhadap
Larva Udang Artemia salina Leach dan Sel Raji. Jurnal Molekul. Vol.IV No.1.
Widodo, N. 2007. Isolasi dan Karakterisasi Senyawa Alkaloid yang terkandung dalam Jamur Tiram Putih (Pleurotus ostretus). Semarang: Univeristas Negeri Semarang.

0 Response to "ISOLASI SENYAWA BIOAKTIF : MAKALAH ALKALOIDA "
Post a Comment