FARMAKOGNOSI : KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS PREPARATIF

https://juwitawhiwi22.blogspot.com/2023/01/kromatografi-lapis-tipis-preparatif.html

Kromatografi lapis tipis preparatif  (KLTP) adalah salah satu metode pemisahan dengan menggunakan peralatan yang sederhana yang hanya dapat memisahkan bahan dalam jumlah gram, sebagian besar pemakaiannya hanya dalam jumlah miligram (Hostettmann, 1995). Adapun mekanisme proses isolasi denganmenggunakan KLTP yaitu sebagai berikut.

a.    Dibuat lapisan adsorben kurang lebih 1 – 1,5 mm, dengan larutan adsorben yang digunakan harus lebih kental. Ukuran plat kromatografi biasanya 20 x 20 cm atau 20 x 40 cm. Adsorben yang umumnya digunakan ialah silika gel dan dipakai untuk penmisahan campuran senyawa lipofil maupun campuran senyawa hidrofil.

b.  Setelah adsorben dilapiskan pada permukaan plat penyangga, dilakukan pengeringan pada suhu kamar untuk mencegah case hardening (pengeringan yang tidak merata dan penebalan pada suatu zone)

c.   Sampel yang akan dianalisis, dipekatkan terlebih dahulu sebelum ditotolkan pada pelat KLTP. Pelarut yang baik adalah pelarut atsiri (heksana, diklorometana, etil asetat) karena jika pelarut kurang atsiri maka akan terjadi pelebaran pita. Konsenterasi sampel harus sekitar 5%-10%. Sampel yang ditotolkan berupa pita harus sesempit mungkin, karena pemisagan bergantung pada lebar pita.

d.  Pengembanan plat KLTP kemudian dilakukan dalam bejana kaca yang dapat menampung beberapa plat. Bejana dijaga agar tetap jenuh dengan pelarut pengembang dengan vantuan kertas saring yang diletakkan berdiri disekeliling permukaan bagaian dalam bejana.

e.   Kebanyakan penjerap KLTP mengadung indikator flourosesnsi yang membantu mendeteksi letak pita yang terpisah pada senyawa yang menyerap sinar ultraviolet. Untuk mendeteksi senyawa yang tidak menyerap sinaru ultraviolet yaitu dengan cara menutup plat dengan sepotong kaca lalu menyeprot kedua sisinya dengan penyemprot. Setelah pita ditampakkan dengan cara yang tidak merusak maka senyawa yang tidak berwarna dengan penjerap dikerok dari pelat kaca. Komponen yang diperoleh dari proses pengembangan, dikumpulkan dengan cara pengerokan pada noda yang dikehendaki

f.        Hasil pengerokan dilarutkan dengan pelarut yang sesuai dan dilakukan analisis lebih lanjut.

(Rubiyanto, D. 2017) (Hostettmann, 1995)

2.       Adapun, keuntungan dan kerugian KLTP yaitu : 

a.       Keuntungan

1. Metode pemisahannya menggunakan alat yang sederhana sehingga pembiayaannya murah.

2.   Pemisahan KLTP memberikan hasil yang lebih baik karena hasil pemisahannya berupa bercak yang tidak bergerak

3.  Dapat mudah mengambil senyawa yang terpisah secara individu dan dapat dilakukan pemisahan dalam jumlah kecil yaitu 50 mg hingga 1 gram

(Hostettmann, 1995) (Chiristinawaty. 2007)

 

b.       Kekurangan

1.  Dalam pengambilan senyawa dari pelat yang dilanjutkan dengan pengektraksian dari penjerap. Jika senyawa beracun, harus dikerok dari plat dapat menimbulkan masalah yang serius.

2.    Jangka waktu yang diperlukan untuk pemisahan dan adanya pencemar dan sisa dari plat sendiri setelah pengekstraksian pita mengandung senyawa yang dipisahkan dengan pelarut.

   Dalam mengatasi kekurangan pada KLTP, beberapa pendekatan yang melibatakan kromatografi sentrifugal telah dilakukan, dimana prinsip kromatigrafi sentrifugal ialah kromatografi klasik dengan aliran fase gerak yang dipercepat oleh gaya sentrifugal (Putri, Rahma A.O. 2017)

(Putri, Rahma A.O. 2017)

3.  Dalam proses isolasi ekstrak menggunakan KLTP bertujuan untuk mengisolasi senyawa secara tunggal dengan alat yang sederhana dengan hasil yang baik dan jumlah skala yang besar (Rubiyanto, D. 2017). Adapun dasar pertimbangan yang perlu dilakukan dalam menggunakan KLTP yaitu :

a.       Dilakukan pemisahan dalam jumlah kecil yaitu 50 mg hingga 1 gram

b.       Konsenterasi sampelyang dilarutkan sebelum ditotol harus sekitar 5%-10%

c.       Pelarut yang baik digunakan ialah pelarut atsiri (heksana, diklorometana, etil asetat) karena jika pelarut kurang atsiri maka akan terjadi pelebaran pita.

d.       Lapisan adsorben dibuat kurang lebih 1 – 1,5 mm dengan larutan adsorben yang digunakan harus lebih kental.

e.       Ukuran plat kromatografi biasanya 20 x 20 cm atau 20 x 40 cm.

(Chiristinawaty. 2007) (Hostettmann, 1995)

4

DAFTAR PUSTAKA

Chrisnawaty, Titien. 2007. Identifikasi Flavonoida Pada Herba Pegagan Embun (Hydrocotyle Sibthorpioides Lmk.) Hasil Isolasi Secara Kromatografi Lapis Tipis Preparatif (KLTP). Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma.

Hostettman, K., Hostettman, M dan Maerston. 1995. Preparative Chromatography Technique: Apllication in Naturan Product Isolation. Terjamahan : Kosasih P. Bandung: Penerbit ITB.

Putri, Rahma A.O. 2017.  Isolasi Metabolit Sekunderdari Fraksi Aktif Antioksidan Ekstrak Etil Asetat Lumut Hati (Makinoa crispata Steph. Miyak. Jakrta: UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Rubiyanto, D. 2017. Metode Kromatografi : Prinsip Dasr, Praktikum dan Pendekatan Pembelakaran Kromatografi. Sleman : Penerbit Deepublish.


0 Response to "FARMAKOGNOSI : KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS PREPARATIF"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel