FARMAKOGNOSI : KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS PREPARATIF
Kromatografi lapis tipis preparatif
(KLTP) adalah salah satu metode
pemisahan dengan menggunakan peralatan yang sederhana yang hanya dapat
memisahkan bahan dalam jumlah gram, sebagian besar pemakaiannya hanya dalam
jumlah miligram (Hostettmann, 1995). Adapun mekanisme proses isolasi denganmenggunakan KLTP yaitu sebagai berikut.
a. Dibuat lapisan adsorben
kurang lebih 1 – 1,5 mm, dengan larutan adsorben yang digunakan harus lebih
kental. Ukuran plat kromatografi biasanya 20 x 20 cm atau 20 x 40 cm. Adsorben
yang umumnya digunakan ialah silika gel dan dipakai untuk penmisahan campuran
senyawa lipofil maupun campuran senyawa hidrofil.
b. Setelah adsorben dilapiskan
pada permukaan plat penyangga, dilakukan pengeringan pada suhu kamar untuk
mencegah case hardening (pengeringan yang tidak merata dan penebalan
pada suatu zone)
c. Sampel yang akan
dianalisis, dipekatkan terlebih dahulu sebelum ditotolkan pada pelat KLTP.
Pelarut yang baik adalah pelarut atsiri (heksana, diklorometana, etil asetat)
karena jika pelarut kurang atsiri maka akan terjadi pelebaran pita.
Konsenterasi sampel harus sekitar 5%-10%. Sampel yang ditotolkan berupa pita
harus sesempit mungkin, karena pemisagan bergantung pada lebar pita.
d. Pengembanan plat KLTP
kemudian dilakukan dalam bejana kaca yang dapat menampung beberapa plat. Bejana
dijaga agar tetap jenuh dengan pelarut pengembang dengan vantuan kertas saring
yang diletakkan berdiri disekeliling permukaan bagaian dalam bejana.
e. Kebanyakan penjerap KLTP
mengadung indikator flourosesnsi yang membantu mendeteksi letak pita yang
terpisah pada senyawa yang menyerap sinar ultraviolet. Untuk mendeteksi senyawa
yang tidak menyerap sinaru ultraviolet yaitu dengan cara menutup plat dengan
sepotong kaca lalu menyeprot kedua sisinya dengan penyemprot. Setelah pita
ditampakkan dengan cara yang tidak merusak maka senyawa yang tidak berwarna
dengan penjerap dikerok dari pelat kaca. Komponen yang diperoleh dari proses
pengembangan, dikumpulkan dengan cara pengerokan pada noda yang dikehendaki
f.
Hasil
pengerokan dilarutkan dengan pelarut yang sesuai dan dilakukan analisis lebih
lanjut.
(Rubiyanto, D. 2017) (Hostettmann, 1995)
2. Adapun, keuntungan dan kerugian KLTP yaitu :
a. Keuntungan
1. Metode
pemisahannya menggunakan alat yang sederhana sehingga pembiayaannya murah.
2. Pemisahan
KLTP memberikan hasil yang lebih baik karena hasil pemisahannya berupa bercak
yang tidak bergerak
3. Dapat
mudah mengambil senyawa yang terpisah secara individu dan dapat dilakukan
pemisahan dalam jumlah kecil yaitu 50 mg hingga 1 gram
(Hostettmann,
1995) (Chiristinawaty. 2007)
b. Kekurangan
1. Dalam
pengambilan senyawa dari pelat yang dilanjutkan dengan pengektraksian dari
penjerap. Jika senyawa beracun, harus dikerok dari plat dapat menimbulkan
masalah yang serius.
2. Jangka
waktu yang diperlukan untuk pemisahan dan adanya pencemar dan sisa dari plat
sendiri setelah pengekstraksian pita mengandung senyawa yang dipisahkan dengan
pelarut.
Dalam mengatasi kekurangan pada KLTP, beberapa pendekatan yang melibatakan kromatografi sentrifugal telah dilakukan, dimana prinsip kromatigrafi sentrifugal ialah kromatografi klasik dengan aliran fase gerak yang dipercepat oleh gaya sentrifugal (Putri, Rahma A.O. 2017)
(Putri,
Rahma A.O. 2017)
3. Dalam proses isolasi ekstrak menggunakan KLTP bertujuan untuk mengisolasi senyawa secara tunggal dengan alat yang sederhana dengan hasil yang baik dan jumlah skala yang besar (Rubiyanto, D. 2017). Adapun dasar pertimbangan yang perlu dilakukan dalam menggunakan KLTP yaitu :
a.
Dilakukan
pemisahan dalam jumlah kecil yaitu 50 mg hingga 1 gram
b.
Konsenterasi
sampelyang dilarutkan sebelum ditotol harus sekitar 5%-10%
c.
Pelarut
yang baik digunakan ialah pelarut atsiri (heksana, diklorometana, etil asetat)
karena jika pelarut kurang atsiri maka akan terjadi pelebaran pita.
d.
Lapisan
adsorben dibuat kurang lebih 1 – 1,5 mm dengan larutan adsorben yang digunakan
harus lebih kental.
e.
Ukuran
plat kromatografi biasanya 20 x 20 cm atau 20 x 40 cm.
(Chiristinawaty.
2007) (Hostettmann, 1995)
4
DAFTAR
PUSTAKA
Chrisnawaty, Titien. 2007. Identifikasi
Flavonoida Pada Herba Pegagan Embun (Hydrocotyle Sibthorpioides Lmk.) Hasil
Isolasi Secara Kromatografi Lapis Tipis Preparatif (KLTP). Yogyakarta:
Universitas Sanata Dharma.
Hostettman, K., Hostettman, M dan
Maerston. 1995. Preparative Chromatography Technique: Apllication in Naturan
Product Isolation. Terjamahan : Kosasih P. Bandung: Penerbit ITB.
Putri, Rahma A.O. 2017. Isolasi Metabolit Sekunderdari Fraksi
Aktif Antioksidan Ekstrak Etil Asetat Lumut Hati (Makinoa crispata Steph.
Miyak. Jakrta: UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Rubiyanto, D. 2017. Metode
Kromatografi : Prinsip Dasr, Praktikum dan Pendekatan Pembelakaran Kromatografi.
Sleman : Penerbit Deepublish.

0 Response to "FARMAKOGNOSI : KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS PREPARATIF"
Post a Comment