FARMAKOGNOSI : PENGUAPAN PELARUT
Penguapan ekstraksi bertujuan untuk menguapkan pelarut yang bercampur dengan senyawa aktif terlarut (analit) sehingga membentuk ekstrak yang diperoleh lebih pekat. Adapun kriteria pelarut yang digunakan, antara lain yaitu mudah menguap seperti alcohol, n-heksana, eter, petroleum eter dan metil klorida, memiliki titik didih rendah, sifat pelarut sesuai dengan senyawa yang diekstraksi (polar atau nonpolar), dan tidak melarutkan senyawa yang tidak diinginkan (Nasyanka, Anindi Lupita, dkk. 2020).
2. Ekstrak dibedakan berdasarkan konsistensinyamenjadi tiga yaitu (Anief, M. 1987):
a.
Ekstrak
cair (Extractum liquidum)
Ekstrak cair adalah ekstrak yang
diizinkan kadar air yang besarnya sampai 35% (Van Duin, C.F dan Uffelie, O.F.
1954)
b.
Ekstrak
kental (Extractum spissum)
Ekstrak kental adalah ekstrak yang kandungan airnya berjumalh samapai 30%,
dimana sediaan yang dilihat dalam keadaan dingin dan tidak dapat dituang.
Tingginya kandungan air dapat menyebabkan ketidakstabilan obat karena cemaran
bakteri (Voight, 1995).
c.
Ekstrak
kering (Extractum siccum)
Ekstrak kering adalah ekstrak yang memiliki kandungan air yang tidak lebih
dari 5%, sehingga sediaan memiliki konsistensi kering dan mudah dituang
(Voight, 1995)
3. Pada proses penguapan pelarut saat melakukukan ekstraksi untuk memperoleh jenis ekstak yang diinginkan biasanya digunakan alat bernama Rotary evaporator merupakan salah satu alat yang sering digunakan untuk penguapan, dengan prinsip vakum destilasi, sehingga tekanan akan menurun dan pelarut akan menguap dibawah titik didihnya (Persamaan PV = nRT) (Kristanti, A.N, dkk. 2008).
Pemanasan dilakukan dengan menggunakan
penangas air dan dibantu dengan rotavapor yang memutar labu berisi ekstrak,
dimana pada proses yang sama juga dilakukan penurunan tekan pada labu agar
penguapan terjadi lebih cepat. Pompa vakum digunkan untuk menguapkan larutan
agr dapat naik ke kondensor sehingga akan diubah dalam bentuk cair. Ekstrak
diletakkan pada labu alas bulat dengan volume 2/3 bagian dari isi labu
keseluruhan dan selnjutnya dipanaskan sesuai dengan suhu pelarut dan senyawa
yang digunakan. Setelah suhu tercapai, labu alas bulat dipasang pada ujung
rotor yang menghubungkan dengan kondensor. Aliran air pendingin dan pimpa vakum
dijalankan, lalu rotor diputar dengan kecepatan yang diinginkan (Nasyanka,
Anindi Lupita, dkk. 2020).
4. Dalam melakukan proses evaporasi menggunakan rotavapor, titik didih pelarut ekstrak perlu diperhatikan. berikut ini beberapa pelarut yang digunakan dalamproses ekstraksi :
|
Pelarut |
Titik Didih (°C) |
KD (°C.m-1) |
|
Sikloheksan |
80,7 |
2,023 |
|
Kloroform |
61,2 |
4,806 |
|
Etil eter |
34,6 |
4,340 |
|
Metanol |
65 |
33,620 |
|
Benzene |
80,1 |
2, 53 |
|
Air |
100 |
80,37 |
(Adnan, M. 1997) (Sutresna, N. 2006)
5. Metode dalam penguapan dibagi menjadi enam metode yaitu :
a.
Penguapan
sederhana merupakan
metode yang dilakukan dalam keadaan suhu kamar, yang umumnya efektif digunakan
pada sampel ekstrak yang menggunakan pelarut organik dengan titik didih dibawah
80°C (Sudjaji, 1986).
b.
Penguapan
pada tekanan gas yang diturunkan juga dikenal dengan metode rotavapor, karena menggunakan alat rotary evaporator
yang memilkik prinsip vakum destilasi yang mengatur suhu dan tekanan agar
pelarut dapat menguap dibawah titik didihnya (Sudjaji, 1986).
c.
Penguapan
dengan aliran gas (Sudjaji,
1986)
d.
Penguapan
beku kering (Freeze-drying) merupakan penguapan yang memanfaatkan metode fenomena sublimasi yaitu
sampel ekstrak akan dibekukan, kemidian mengalami sublimasi yang adakn
dipisahkan dengan menggunakan pompa vakum. Metode ini, biasa menggunakan pelarut
polar karena titik didih yang cukup tinggi (Sudjaji, 1986).
e.
Penguapan
dengan vakum deksikator merupakan
metode penguapan yang menggunakan vakum deksikator dalam proses penguapan atau
pengeringannya dengan sampel senyawa yang bersifat higroskopik atau prosses
penghampaan (Sudjaji, 1986).
f.
Penguapan
dengan oven merupakan
metode penguapan yang menggunakan oven, dimana digunakan pada senyawa organik
agar senyawa organik dapat mengalami pengeringan dengan tekanan rendah dan
adanya agent penarik air (Sudjaji, 1986).
6. Berikut bagian-bagian dari alat rotary evaporator dan fungsinya :
1. Kondensor berfungsi sebagai alat untuk mendinginkan uap pelarut yang telah menguap.
2.
Glass stopcock yang pada
gagangnya dibedakan menjadi menghadap ke depan atau belakang (sistem tertutup)
ini berfungsi sebagai posisi standar distilsi, dengan gagang Glass stopcock menghadap
keatas menunjukkan bahwa sistem dilepaskan sementara gagang Glass stopcock yang
mengadap ke bawah menujukkan pelarut tambahan dapat dimasukkan ke dalam labu
evaporasi melalui selang feeding yang tersambung.
3.
Labu evaporasi atau labu alas bulat berfungsi sebagai tempat pelarut dan
sampel yang akan dipisahkan atau diuapkan.
4. water bath berfungsi sebagai tempat untuk memanaskan sampel yang
berisikan air dengan suhu yang dapat diatur sesuai kebutuhan.
5.
Pengatur suhu berfungsi
untuk setting suhu yang dapat diatur sesuai keinginan.
6.
Labu penerima berfungsi
untuk tempat pelarut ketika telah diuapkan.
7.
Penghubung berfungsi
menjadi penghubung anatara labu penerima dan kondensor.
8.
Penyumbat kondensor berfungsi
untuk menyumbat kondensor agar uap pelarut tidak keluar.
(BUCHI labortechnik AG. 2019) (Nurmagfirah, N. 2013)
DAFTAR PUSTAKA
Adnan, M. 1997. Teknik
Kromatografi untuk Analisis Bahan Makanan. Yogyakarta : Penerbit Andi.
Anief, M. 1987. Ilmu Meracik Obat : Teori dan Praktik. Yogyakarta
: Gadjah Mada University Press.
BUCHI labortechnik AG. 2019. Identifikasi Produk : Panduan Pengoperasian (Asli) Rotavapor® R-100. Tanggerang : BUCHI labortechnik AG

0 Response to "FARMAKOGNOSI : PENGUAPAN PELARUT"
Post a Comment